Pengalaman Gaib

1417 Kata
Usai bertemu dengan pak Hadan, aku memang udah jarang kesurupan, tapi dengan sosok mereka aku masih bisa merasakan dan melihatnya. Aku memang bukan orang yang taat beribadah, shalatku aja masih bolong-bolong, sekalipun beribadah, ya hanya menjalankan saja, aku tidak pernah berpikir bagaimana rasanya dekat pada Tuhan, meski aku melakukannya. Hingga satu malam untuk pertama kalinya aku berniat menjalankan shalat di persetiga malam. Katanya ini adalah waktu terbaik untuk berdoa. Setelah terbangun dari tidur aku beranjak untuk mengerjakannya seperti yang sudah aku niatkan. Beberapa menit usai melaksanakan shalat aku kembali membaringkan tubuhku, lalu entah dari mana datangnya, seperti ada angin kencang yang akan menerbangkan seluruh isi kamarku, tentu saja aku ketakutan, ku tutup kedua mata dan telingaku, aku terus berzikir hingga ketiduran dan tidak menyadari kapan angin kencang itu pergi. Paginya aku kerja seperti biasa, namun aku terus memikirkan tentang kejadian semalam. Apa sebenarnya yang terjadi, darimana asalnya angin kencang itu. Aku bahkan tak melihat ada sosok yang berusaha menakuti ku, atau rasa ketakutan ku yang membuat jadi tak terlihat. Sebenarnya masih ada rasa takut, tapi rasa penasaranku lebih besar, itu yang membuat aku berniat akan melakukan shalat Tahajud kembali nanti malam. "Aku harus berani, aku harus bisa menghadapi ketakutan ku." gumamku dalam hati. Seperti kata Mbak Rin, bahwa mereka sengaja menakuti-nakuti aku, agar aku tak menjalankan ibadah. Di malam berikutnya. Aku terbangun, suasana di tengah malam ini benar-benar hening, di tambah cahaya yang memang sedikit remang-remang karena cahayanya hanya dari pantulan sinar lampu samping. Aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu balik ke kamar lagi untuk memulai shalat malam. Pada waktu akan mengangkat ke dua tanganku dan mengucap takbir 'ALLAHUAKBAR' Tiba-tiba angin kencang itu datang lagi tapi kali ini kencangnya luar biasa, aku tidak bisa bergerak, aku berusaha menahannya. Serasa mulutku, gigiku kulit dan daging di wajahku akan terlepas, ditarik oleh angin yang super kencang itu. Aku berusaha menahannya agar tak sampai roboh atau terbawa angin kencang itu. Aku berusaha menyebut nama Allah berkali-kali Allah!! Allah!! Allahuakbar!! Angin kencang itu masih kurasa, ingin melepas kulit dan semua bagian tubuh yang menempel pada tulang ku. Begitu ada kesempatan bergerak, aku menuju ke tempat tidurku. Aku tarik selimut dan menutup kepalaku, Ini adalah ketakutan ku yang luar biasa, seluruh tubuhku bergetar hebat, di pojok atas tempat tidurku, aku menangis dan terus berzikir, namun kali ini aku tidak tidur, takut jika angin itu datang kembali dan membawaku pergi, aku hanya menutup seluruh tubuhku dengan selimut tebal dan tak berani membukanya sebelum rasa takutku hilang. Setelah kejadian itu dalam sebulan aku tidak pernah lagi melakukan shalat malam. Jujur aku benar-benar masih ketakutan dan masih merasakan bagaimana sakitnya saat seluruh di tubuhku nyaris ditarik paksa seperti hendak dikuliti oleh angin kencang itu. Aku sama sekali tidak tahu itu apa, aku tidak melihat hal apapun selain angin yang kencang yang ku rasakan ingin menarik ku entah menuju kemana. Aku menceritakan kejadian ini ke Mbak Rin, ini juga salah satu alasan kenapa Mbak Rin membantuku untuk menemui Pak Hadan. "Jangan berhenti Nduk! Lakuin aja lagi, mereka memang sedang berusaha menakuti-nakuti kamu, biar kamu tidak melaksanakan perintah Allah." ucap Mbak Rin, yang menyarankan aku untuk tidak takut pada apa yang aku alami. Meski aku mengiyakan apa yang Mbak Rin sampaikan tetap saja aku tidak melakukannya, aku benar-benar ketakutan. Setelah menceritakan beberapa kejadian yang ku alami via telpon, Pak Hadan, tertarik dan sempat menawari aku untuk berguru padanya, tapi entah mengapa, meski melihat dan mengalami hal gaib, ada sebagian dari diriku yang menolak tentang semua itu. Aku ingin normal hanya itu. Aku tidak ingin mengalami hal yang tidak masuk di logika ku apalagi di logika orang lain. Jujur aku takut mereka menganggap ku mengada-ngada apalagi sampai mengatakan aku gila. ••• Waktu terus berjalan .... Malam itu aku sedang asyik membaca buku, perasaan yang tiba-tiba seperti melayang yang pernah beberapa kali aku rasakan kini kembali aku rasakan malam itu, aku tak khawatir atau panik seperti sebelum-sebelumnya. Aku sudah mempelajarinya menandakan kehadiran Kai Putih yang setiap saat harus aku sambut dengan tenang. "Assalamualaikum ." "Wa'alaikumsalam." balasku. Usai menjawab salam dari beliau, aku tahu Kai pasti ingin mengajakku seperti biasanya, tapi kali ini aku tolak. "Maaf Kai, aku lelah aku tidak ingin kemana-mana." ucapku sambil tetap memandang buku yang sedang aku baca. Namun aku bisa melihat kai yang berdiri tepat di samping belakangku. "Malam ini, Kai pergi sendiri aja ya, gak apa-apakan?!" sahutku sebelum dia mengajak ku seperti biasa. Malam ini aku memang sedikit lelah. Beliau tidak menjawab atau bertanya kenapa, hanya senyum di wajah nya terlihat jelas menunjukan bahwa kai paham dengan keadaanku sekarang. Tok!! Tok!! Tok!! Ketukan dari luar pintu sedikit mengagetkan aku. "Linn ... kamu lagi ngomong dengan siapa?" Terdengar suara teriakkan mamak dari balik pintu. Oh ternyata itu Mamak, mungkin beliau mengira ada orang lain yang sedang bersama aku di ruangan ini. "Bukan dengan siapa-siapa Mak! Itu suara radio." teriakku singkat. Setelah mendengar itu, tak terdengar lagi suara mamak. Kai Putih juga pergi tapi aku tak tahu kapan beliau perginya, mungkin bersamaan dengan suara ketukan di pintu tadi. Aku memang dekat dengan Kai Putih, Beliau selalu ada dan aku menyadarinya tapi entah mengapa ada sebagian dari diriku yang menolak keberadaannya padahal hubungan kami berlangsung dari sejak aku masih kecil. Hubungan kami dari hari ke hari semakin dekat, aku bisa kapan saja menolak jika Kai mengajakku berpetualang mengitari lautan atau sungai. Posisi kai ketika membawaku berlayar adalah seperti melayang di atas air seolah-olah seperti berenang namun terlihat seperti terbang sejengkal dari atas permukaan air. Sementara aku aku ada atas tubuh kai yang besar. Sampai kapan pun aku tidak mungkin bisa melupakan pengalaman aku mengitari lautan atau sungai bersama beliau Itu adalah pengalaman yang luar biasa untukku. Selama ada telur mentah, sebutir saja, aku bisa tidur berjam-jam di kamar ketika aku dan kai berpetualang. iya aku terlihat seperti orang tidur padahal itu adalah waktu aku bersama kai jalan-jalan. Kai juga selalu mengingatkan aku tentang banyak hal, memberitahu apa yang harus dan tidak aku lakukan, biasanya yang berhubungan dengan hal-hal yang membahayakan aku, salah satunya ya menghindari guna-guna Bang Ed. Pernah satu hari aku berencana touring keluar kota bareng mas Yono dan teman-temannya. Karena lajunya Roda dua yang di kendarai Mas Yono membuat aku tertidur, tapi aku terbangun tiba-tiba karena suara Kai. "Bangun Cu, (cucu) ayo bangun, cepat!" ucapnya berbisik pelan namun sangat jelas di pendengaran ku. Aku segera membuka mataku dan menyadari ada sesuatu yang gak beres. Aku segera meminta mas Yon untuk segera menghentikan laju kendaraanya. "Stop Mas, stop dulu," teriakku ke mas Yon, sambil memukul pelan belakangnya. "Kenapa?" tanyanya singkat. "Gak apa-apa mas, berhenti aja dulu sebentar." Mas Yon Akhirnya berhenti dan benar setelah kendaraan kami menepi ternyata kemeja yang ku ikat ke pinggangku lengannya tersangkut di rantai motor. Ya Allah jika tidak berhenti segera, kami nyaris celaka. Alhamdulillah Allah Masih melindungi kami melalui bisikkan kai. Ini bukan pertama kalinya kai memberitahuku jika ada sesuatu yang nyaris melukaiku. Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa itu hal yang istimewa, semua biasa aja, entah kenapa aku bisa berpikir seperti itu. Kai Putih adalah siluman buaya dari leluhurku. Aku tau hal ini juga dari cerita nenek dan mamak, itu pun aku mendapat penjelasan yang kurang akurat. Mereka ceritakan setelah aku mengalami kesurupan berkali-kali dan itupun karena ku tanya paksa. Sebenarnya di kelurga besar ku bukan cuma aku yang pernah kesurupan. Sepupuku yang cowok dia jauh lebih parah, dia pernah kesurupan bola matanya keatas hingga hanya tersisa putihnya saja, lalu dia berlari trus terjun ke dalam laut. Keluarga abang gak ada yang panik, sepertinya mereka sudah menyadari hal itu, kata mereka nanti naik kembali. Dan itu benar Abang pulang dan baik-baik saja. mungkin setelah keluarga abang melarung. ••• Melarung : melepaskan sajen berupa bahan makanan seperti daging, telur dan buah yang dilarutkan kedalam air sungai/laut. ••• Saat itu aku benar-benar gak ngerti, aku hanya melihat, mendengar dan melalui semuanya begitu saja. Sejak aku mengenal kai, Beliau tidak pernah mengajari aku, mengajak, meminta atau menyuruh aku melakukan hal-hal yang salah. Semua baik-baik saja. Tapi meski demikian seperti ada yang membatasi aku dengan beliau, apa itu? aku masih belum tahu. Tapi tetap semua kujalani seperti biasa. Kehadiran kai di kehidupanku sudah seperti mendarah daging. Dimana pun aku berada kai selalu ada membantu tanpa aku minta dan seingat ku, akupun tidak pernah meminta bantuannya. Semua berjalan seperti yang aku dan Kai inginkan, semua berjalan normal dan tidak satu hal pun yang membuat aku berpaling dari yang menciptakan kami. Kai selalu mengingatkan aku untuk bersyukur. Karena dengan bersyukur banyak kejutan yang tak terduga kata beliau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN