Manusia Berkepala Binatang

1909 Kata
"Ternyata bapakmu baik juga ya Linn," ucap Nowo di saat kami sedang membersihkan ruangan kerja kami. "Iyalah, tampang beliau aja yang sangar aslinya bapakku itu baik No." "Iya, kami ngobrol banyak kemarin, bahkan bapak mu menceritakan banyak hal termaksud awal mula saat beliau datang dan masih jadi perantau di pulau ini." "Oh ya, wah!! Beruntung dong kamu, aku saja anaknya gak pernah di ceritain pengalaman saat beliau merantau di sini. Obrolan kami terputus karena Bos memanggil Nowo, untuk keluar membeli makan siang seperti biasa. Iya beberapa menit lagi jam makan siang kami tiba. Akupun bergegas membersihkan diri, melepas seragam dan sepatu bot ku kemudian menuju ke Kantin. Usai membeli makan, aku kembali ke locker, saat berjalan melewati kaca hitam dari bangunan pos penjagaan, pandanganku dikejutkan dengan bayangan hitam yang bergerak lebih lambat dari bayanganku yang secepat kedipan mata. Karena merasa aneh aku coba maju mundur mengulang gerakan ku di depan kaca tersebut, memastikan apa bayangan yang aku lihat itu benar ada atau hanya halu ku saja. Sekali lagi bayangan itu mengikuti gerakan yang berulang kali aku lakukan, jadi di kaca itu ada dua bayangan. Hm ... aneh sih! Tapi biarlah, mungkin karena pengaruh lapar dan lelah, aku berlalu menuju locker mengambil sendok lalu menuju ke taman, aku dan karyawan lain sebagian jika tak makan di kantin biasa kami makan di taman yang sudah tersedia kursi panjang yang terbuat dari batu. Jam makan siang sudah berakhir, kami kembali bekerja seperti biasa. Gak ada yang aneh, setelah kasus bayangan di kaca tadi. Kami menikmati pekerjaan kami, sesekali ada saja canda yang dibuat Bos atau pun para supplier, memecahkan suasana yang sepi dan membuat kami tertawa lepas namun tetap fokus dengan kerjaan masing-masing. Khususnya aku, pekerja sehari-hari aku adalah menghitung dan menyelesaikan nota pembelian. Tak boleh ada yang selisih berapapun, makanya perlu konsentrasi penuh untuk mengerjakannya, hanya saja jika sedikit penat aku alihkan ke mereka yang tengah asyik bekerja, ya sesekali ikut menimpali obrolan mereka juga. Sesekali aku tersenyum dan melirik mereka yang asyik bekerja. Namun .... Sontak aku kaget bercampur gak percaya, karena salah satu supplier yang ada di hadapanku itu berwajah seperti kambing, maksud aku ... kepalanya binatang tapi leher ke bawah itu manusia, bagaimana mungkin, padahal kan tadi nggak. Aku masih tidak percaya, aku kucek sekali lagi ke dua mataku, senyum yang tadi ada hilang seketika dari wajahku. Kepalanya tetap saja berwujud kambing. Aku sampai mendaratkan telapak tanganku di kedua pipiku. Sungguh ini kejadian aneh karena biasanya, aku bisa menemui hal-hal begini itu diantara setengah sadar ku tapi ini tidak, aku benar-benar sedang dalam keadaan sadar seratus persen. Supplier yang biasa aku panggil Kak Edo itu berkepala kambing. Aku berhenti memandanginya karena tidak enak, jarak kami hanya se_meteran lebih, sesekali saja aku melirik ke arah kak Ed, memang itu tidak berlangsung lama karena saat aku lirik lagi dia sudah kembali berkepala normal. Sesekali aku arahkan pandanganku dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku bisa melihat Kak Edo seperti itu. Hm .... Aku memang tidak begitu mengenalnya dekat, tapi Kak Edo adalah salah satu supplier kami yang sangat ramah, suka membuat kami tersenyum dengan candanya. Udah gitu dia adalah salah satu supplier terbesar kami. Biasa saat kami ngobrol di waktu luang dengannya, Kak Edo terlihat sangat menyenangkan, orangnya baik, ramah dan nggak kikir, karena setiap datang atau usai kerja dia selalu membawa atau membeli makanan buat team kami. Entahlah terlepas dari itu Wallahu alam, aku masih berpikir apa yang aku lihat itu adalah salah. Tapi sejak itu, jika ngobrol dengan nya, aku tidak berani menatap wajah Kak Edo seperti biasanya. Wajah tampan Kak Edo itu mirip salah satu Artis Ibu kota Penyanyi yang berasal dari Ambon dengan kedua lesung Pipit yang menarik. ••• Sejak itu penglihatan ku semakin kuat, bukan hanya itu, aku juga bisa melihat aura keberuntungan atau malang pada wajah seseorang termaksud di wajahku sendiri. Sebenarnya bukan semacam aura wajah tapi entah bagaimana menjelaskannya, yang jelas dengan melihat wajah seseorang aku bisa melihat dia bisa mengalami hal yang merugikan jika dia melakukan sesuatu yang dia setujui begitu juga sebaliknya. Tapi aku tidak pernah membuktikannya pada orang lain, jika melihatnya di wajah seseorang yang aku kenal, aku hanya mengingatkannya saja tanpa menceritakan apa pun padanya. Aku lebih suka mempraktikkannya pada saat aku memandang wajahku sendiri di cermin. Setiap kali melihat wajahku berwarna gelap aku lebih waspada dan tidak menyetujui segala urusan apapun termaksud yang berhubungan dengan uang. Karena saat pertama kali melihat aku mencoba membiarkannya karena rasa keingintahuan. Dan alhasil aku malah benar-benar mengalaminya. begitu juga dengan yang lainnya. Hal itu tidak berlangsung lama karena setelah beberapa bulan kemudian aku sudah tidak bisa melihat hal itu lagi. ••• "Nduk, besok kita ke tempat temanku yuk!?" ajak Mbak Rin. "Teman yang mana Mbak!?" "Ada, temannya temanku, kata dia temannya itu pintar mengobati orang, mana tahu kamu berjodoh berobat dengan dia, jadi bisa gak diganggu dan gak mudah kesurupan lagi." "Tapi aku takut, kan, Mbak tahu sendiri, aku takut ketemu orang-orang begitu, aku pasti langsung kesurupan, capek aku Mbak." "Ya kamu harus berani, katanya mau sembuh, piye toh " ucap Mbak Rin menyemangati ku yang sudah malas untuk menemui orang-orang pintar yang biasa mereka sebut dirinya paranormal, ustad, dan lain-lain. "Ya sudah, kalau gitu besok kita pergi setelah pulang kerja ya Mbak." Akhirnya aku iyakan ajakan Mbak Rin, dia terlalu baik buat ditolak, mungkin karena dia kasihan ngeliat aku yang sering kesurupan. Aku dan mbak Rin janjian di kost nya. Dari tempat kerja, aku pulang dulu ke rumah, lalu ke kost Mbak Rin. Sepanjang perjalanan perasaan ku gak menentu, selalu ada bisikan dan hal ini selalu aku alami saat ingin menemui orang-orang yang aku datangi untuk berobat. [Sudah pulang aja, gak usah ke sana.] Tapi aku berusaha untuk tidak mempedulikan bisikkan yang menyelusup ke pikiranku. Setengah jam kurang perjalanan kami sudah sampai di Rumah orang yang dimaksud oleh Mbak Rin dan kami tiba hampir masuk waktu magrib. Tok!! Tok!! Tok!! "Assalamualaikum ..." ucap kami bersamaan. Dua tiga kali mengucap salam, akhirnya si pemilik rumah menjawab dari dalam. "Wa'alaikumsalam ..." Terdengar suara pintu dibuka dan beliau mempersilahkan kami masuk. "Mari masuk, Silahkan. Saya tinggal Shalat magrib dulu ya." ucap sang pemilik rumah sambil berlalu masuk ke dalam ruangannya diiringi mbak Rin juga aku. Aku dan Mbak Rin melangkah masuk, ada rasa aneh saat aku berdiri di depan rumah beliau, seperti ada sesuatu yang mengikuti aku. Begitu kami dipersilahkan duduk. Kami menunggu, hingga beliau selesai menjalankan shalat Magrib. Mbak Rin membuka percakapan tentang bagaimana kami bisa sampai kemari dan menemui beliau, aku yang sedari tadi hanya menatap dan mendengar lebih banyak diam dan hanya menyimak. "Kenapa? kamu heran ya, ternyata orang nya masih muda." Aku sempat kaget, di skakmat oleh Pak Hadan. Ternyata beliau bisa membaca apa yang aku pikirkan. Iya, begitu mau masuk pintu rumahnya tadi, aku sempat berpikir sama seperti yang pak Hadan bilang. Aku hanya tertunduk malu dan senyum. Saat beliau bertanya perihal kedatangan kami, Mbak Rin menceritakan semuanya, sesekali aku ikut menimpali setiap ucapan yang Mbak Rin sampaikan. Perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak, lantai rumah Pak Hadan sudah tak kurasa ku pijak, aku mulai deg-deg an dan rasa panik mulai aku rasakan, tapi aku berusaha tenang sebisaku. Pak Hadan menceritakan sedikit tentang keluarga kecilnya, anaknya yang masih bayi dan satu laki-laki terlihat kurang lebih 3 tahunan. Dengan perasaan yang gak karuan aku masih mendengarkan obrolan mereka. Pak Hadan memanggil anak lelakinya. Kemudian meminta aku mengikuti dan mengulang beberapa bacaan yang dia baca, aku membaca beberapa ayat tersebut. Saat membaca dan memejamkan mata, aku tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri, entah apa saja yang aku ucapkan aku tidak ingat, tapi kata Mbak Rin, aku kesurupan buaya lagi dan Pak Hadan sudah mengetahui sosok itu saat aku tiba di rumah beliau tadi. "Ini siluman buaya dari keluarga dia ya mbak?" Tanya Pak Hadan ke Mbak Rin yang di iyakan olehnya. "Dia memang jadi tempat keluar masuknya jin, nanti kita Pagari setelah dia sadar." ujar beliau Tapi emang benar, hanya sebentar setelah dibacakan beberapa ayat oleh Pak Hadan yang dibantu oleh anaknya lelakinya, aku sudah kembali sadar. Beda dari yang sebelum-sebelumnya aku harus berjam-jam untuk bisa sadar. "Jangan suka melamun, perbanyak zikir ya." ucap beliau, Aku hanya senyum dan mengangguk mengiyakan apa yang beliau sarankan untukku. Pak Hadan kemudian meminta aku untuk duduk bersila dan dia mulai melakukan pemagaran diri. Aku mengikuti setiap instruksi yang dia arahkan. Setelah selesai, beliau berkata .... "Ingat ya, entar malam pas kamu mau tidur, jangan lupa dibaca yang tadi aku ucapkan, biasanya mereka akan datang mengganggu, pas datang nanti kamu bacakan saja ayat-ayat yang aku ajarkan tadi, begitu sosok terakhir muncul, kamu satukan kedua telapak tangan kamu, lalu tarik nafas tahan dan nanti ada cahaya, nah cahaya itu kamu ambil lalu lemparkan kearah mereka bersamaan dengan hembusan nafas kamu, paham kan!!" Aku diam dan berpikir sejenak ... mengulang bacaan tadi beberapa kali. "Iya Pak, aku paham." Usai membahas masalah ku, Pak Hadan kembali menceritakan bagaimana dia membantu salah satu teman se_pabrik kami yang kemalingan, dan ternyata teman satu kost dia juga yang mengambilnya. Bukan hanya itu, Pak Hadan juga biasa membantu Petugas kepolisian atau pihak Bank menangkap/ mencari orang-orang yang sulit ditemukan, dan ternyata beliau juga salah satu orang yang dipanggil oleh pihak perusahaan tempat aku dan Mbak Rin bekerja untuk memagari pabrik tempat dimana kesurupan massal itu terjadi. mengetahui hal itu, tentu saja aku juga meminta agar beliau mau memagari rumahku. Karena para gentayangan yang ada dipabrik mengikuti aku sampai rumah. Dan Alhamdulillah beliau mau. Karena waktu sudah semakin larut. Aku dan Mbak Rin ijin pamit pulang. "Sekali lagi makasih ya Pak, Assalamualaikum," ucap kami bersamaan. "Iya, sama-sama. Wa'alaikumsalam." ••• Menjelang waktunya tidur. Aku masih kepikiran dengan apa yang di ucapkan oleh Pak Hadan, apa benar mereka akan muncul. Hm ... aku malah jadi sulit tidur, entah karena takut atau memang belum ngantuk. Mataku mulai tertutup sesekali aku tersadar tapi kenapa tiba-tiba aku tidak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakiku. Lalu sosok itu muncul dari atas, posisiku yang sedang terlentang memeluk erat guling benar-benar nggak bisa bergeser sedikit pun. Aku berusaha memejamkan mataku tapi malah semakin jelas terlihat Kain putih menjuntai dari atas ke bawah perlahan turun, sosok wanita berambut panjang hitam yang menutupi hingga ke perut membuat aku semakin takut, teringat ucapan Pak Hadan untuk membaca beberapa ayat pendek jika sosok itu muncul. Segera aku baca berulang-ulang, sudah gak ku pedulikan apakah ayat yang k*****a itu benar apa nggak. Aku terus mengulangnya hingga sosok itu hilang entah kemana. Namun berganti dengan yang lain kepala bergantung tanpa badan, ketakutan ku semakin menjadi jadi aku terus membaca ayat-ayat itu dan sosok itu juga hilang, mereka benar-benar niat untuk menakut-nakuti aku. Kupikir berakhir disitu, sosok lain muncul dan ini sangat besar, sosok itu semakin dekat aku terus membaca dan mengulang-ulang bacaan itu, sosok yang ini sedikit lebih lama untuk di usir, hingga aku melihat sinar bulat sebesar kelereng bercahaya kuning keemasan melayang di hadapanku. Apa itu cahaya yang dimaksud Pak Hadan. Aku ambil cahaya itu dengan kedua telapak tanganku lalu ku satukan seperti yang diperintahkan oleh nya, kemudian ku lemparkan ke arah sosok besar itu. Seketika itu juga sosok itu menghilang hingga aku tersadar dan terduduk. Ya Allah sebegitu ketakutannya aku, hingga tak menyadari kalau aku sampai buang air kecil. Tapi Alhamdulillah setelah kejadian itu apa yang dibilang Pak Hadan benar, aku sudah jarang kesurupan lagi. Dan beberapa hari kemudian Pak Hadan datang menepati ucapannya untuk memagari rumahku. Ternyata beliau mampir ke rumah setelah pulang dari memagari pabrik atas undangan pihak perusahaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN