Mbak Rin

1665 Kata
Sebenarnya sebelum akrab, aku dan Mas Yono sering bertemu karena selain satu pabrik dia adalah teman akrabnya Mbak Rin, Jadi sebenarnya kami sudah saling kenal meski cuma sebatas menyapa atau senyum jika bertemu atau berpapasan. Karena sering main ke kost an Mbak Rin, di situlah kami mulai akrab. Begitu juga dengan teman Mas Yono yang lain mereka biasa mengunjungi Mbak Rin meski hanya untuk ngobrol-ngobrol santai. Aku dan Mbak Rin seumuran cuma beda bulan dan tanggal. Tapi karena perawakan dia yang lebih suka menasehati, penyayang dan perhatian membuat aku jadi memanggilnya dengan sebutan 'Mbak Yu' dan biasa Mbak Rin selalu memanggil aku dengan sebutan 'Nduk'. Pertemanan kami bukan hanya sebatas teman tapi sudah seperti saudara. Apalagi sejak kami mengikrarkan diri dengan melukai jari kami kemudian kami satukan sebagai pertanda persahabatan dan persaudaraan kami abadi. "Nduk, kita kelaut yo," ajak Mbak Rin saat kami berjalan beriringan menuju ke kostan nya. "Nggak ah! Aku takut Mbak!" jawab ku singkat membalas ajakannya. Daerah kami memang sangat dekat dengan laut, pesisirnya menjadi tempat yang sering kami datangi untuk sekedar menikmati air laut buat mandi-mandi atau cuma duduk-duduk bersenda gurau menikmati anginnya yang sepoi-sepoi setiap pulang kerja atau waktu liburan. "Kenapa?" Sepertinya dia lupa soal yang pernah aku ceritakan sebelumnya, bahwa aku selalu mendengar bisikan yang meminta aku untuk kesana masuk ke dalam lautan. Saat obrolan berlangsung, Kami sedang berjalan beriringan menuju ke kost , karena kost Mbak Rin sangat dekat dengan pabrik makanya pulang kerja kami hanya berjalan kaki saja. "Mbak lupa ya, aku kan gak berani kelaut, takut, aku kan ... Belum sempat ku lanjutkan, Dia langsung berkata ... "Oh iya ya Mbak lupa Nduk, sorry." Dari kejauhan kost Mbak Rin sudah nampak dan kami juga melihat Mbak Ris berdiri di balik jendela. Dia adalah salah satu teman kost Mbak Rin, bangunan kost dua tingkat, di bawah dihuni sang pemilik. Sedangkan di atas memiliki dua kamar dan dihuni tiga orang salah satu nya ya mereka. Aku memang sering mampir ke kost mereka jika waktu kerja usai. Sesekali aku nginap karena keluarga ku sudah mengenal baik dengan Mbak Rin makanya aku dapat ijin saat main atau nginap di sana. Saat asyik mendengarkan musik, aku tiba-tiba merasa ada yang aneh, seluruh tubuhku terasa ringan, seperti gak menginjak lantai, merasakan hal seperti ini tentu saja aku paham bahwa biasanya jika ini terjadi itu pertanda Kai datang. Cepat-cepat aku hampiri Mbak Rin yang lagi asyik membersihkan kamarnya dan memberi tau dia soal kedatangan Kai. "Ingat ya Mbak, kalo nanti aku pingsan terus kesurupan atau kerasukan, tolong jangan diapa-apa in ya, biarin aja, letakan aja satu butir telur mentah di sampingku." pintaku ke Mbak Rin. Beberapa saat aku sudah jatuh tergelatak dan aku masih setengah sadar, Mbak Rin dan Mba Ris mencoba memperbaiki posisiku yang jatuh tak jauh dari kasur. Mereka berdua terdengar sedang ngobrol dalam bahasa Jawa yang sedikit ku artikan beberapa seperti ini. "Kok bisa dia pingsan, kenapa toh Mbak" tanya Mbak Ris, Mbak Rin cuma menjawab. "Mbuh aku Mbak, mungkin temannya datang yang buaya itu." ucap Mbak Rin singkat, dia memang sudah mengetahui sedikit soal sahabat ku itu. "Sek, tunggu i sebentar yo, aku tak beli telur di bawah, ojo ditinggal-tinggal." Pesan Mbak Rin ke Mbak Ris yang sedang menyeka dahi ku dan sesekali menyodorkan telapak tangannya yang sudah dia beri minyak kayu putih mengarah ke hidungku. Beberapa menit Mbak Rin turun, aku mulai merasakan tubuhku panas. "Panas!! Panas!! Laut!!" Sesekali aku meneriakkan kata itu bergantian. Aku berusaha bangkit dan ingin menuju laut tapi Mbak Ris menahan ku, Aku sempat mendengar dia membaca salah satu ayat pendek. Ku lihat mulut nya masih komat kamit membaca dengan fokus dan sepertinya ada energi dari sentuhan tangannya, aku yang mencoba bangkit tadi kembali tergelatak lalu tengkurap dan mengeluarkan suara mengerang. Mbak Ris mulai menekan satu persatu jari-jari kakiku. Aku tak merasakan apa pun namun anehnya sesekali aku meronta. "Udah Mbak gak usah di pencet pencet jarinya, biarin aja, tadi dia pesan kalo dia pingsan dibiarin aja gitu, nanti kalo diganggu malah yang merasuki bertingkah, gitu kata dia." ucap Mbak Rin yang tiba-tiba muncul dari bawah mengagetkan Mbak Ris dengan penjelasannya yang panjang. Ternyata Mbak Rin menjalankan seperti apa yang aku sampaikan ke dia jika sahabat gaib ku datang. Sementara itu meski aku setengah sadar aku masih bisa menangkap obrolan mereka, bahkan sesekali aku menyela obrolan mereka tapi satu pun dari mereka yang bisa mendengarkan ucapan ku. Aku melihat diriku seperti seekor buaya besar yang sedang kehausan dan kepanasan. Lalu aku dengar suara, suara yang sering mengajakku ke laut. Suara dari seekor buaya yang sudah ada di hadapan ku. Gak ada rasa takut ataupun kaget. "Ayo Cu ikut Kai." "Ikut kemana Kai?" "Sudah ikut aja, ayo." Tanpa banyak bertanya lagi, aku naik ke atas punggungnya dan sekejap kami sudah ada tepat diatas air tapi tidak tersentuh air, kami menjelajahi air laut yang luas seperti biasanya. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya, Kai mengajakku melintasi lautan atau sungai, hanya melintasi dan tidak melakukan apa pun, kecuali hari itu saat perayaan lahirnya seekor buaya kecil. Ini memang terdengar aneh tapi ini benar-benar terjadi dan aku alami. Entah bagaimana ceritanya setelah memakan telur yang di letakkan Mbak Rin di dekatku akhirnya aku tersadar dengan bau amis yang membuat aku serasa hendak muntah. "Ini Nduk, gimana keadaanmu." Mbak Rin membantu ku dengan menyodorkan tisu dan air mineral. "Aku gak papa Mbak." jawabku sembari menyeka mulutku dengan tisu pemberiannya. Sesaat .. Aku berlari ke bawah menuju kamar mandi, dan memuntahkan semuanya. Rasanya lega ketika sudah memuntahkan semuanya. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan acara memakan telur mentah begini tapi ada yang lain. Aku seka mulutku sambil menuju ke atas. "Tadi itu telur apa yang Mbak kasih ke aku? Kok rasanya beda ya?" "Telur bebek Nduk, soalnya tadi gak ada telur ayam kampung atau ayam biasa, adanya telur bebek jadi yo itu aja." ucap nya polos dan menjelaskan dengan wajah serius. "Gak papa toh!" "Ya nggak papa Mbak yang penting telur dan akunya sadar." "Terus kamu kemana Nduk, diajak ke laut lagi kah sama temanmu itu?" "Iya Mbak, tapi kami cuma melintas aja, gak singgah kemana-mana." "Owalah syukurlah yang penting kamu gak kenapa-napa." ucap Mbak Rin dengan nada prihatin. Karena sebenarnya sebelum kejadian ini, beberapa minggu lalu aku juga sempat mengalami hal ini di sini, hanya saja aku sebentar sadar sebentar nggak, karena dia takut akhirnya dia meminta mas Nowo salah satu teman kerja kami yang kebetulan mampir ke kost hari itu untuk menemani dia mengantar aku pulang. Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh orang tuaku. Karena sudah terbiasa mengalami hal ini, setelah mengantarkan aku ke kamar, mereka melanjutkan obrolannya di ruang tamu dan gak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang jelas keesokan harinya, Nowo cerita jika orang tuaku bersikap baik pada mereka, karena sebelumnya mereka berpikir bahwa orang tuaku kolot, apalagi setelah kasus Mbak Rin yang pernah di usir dari rumah karena menjenguk ku sakit hari itu. Sejak mudah kesurupan aku jadi tambah tertutup, untung nya aku punya Mbak Rin, dia satu-satunya tempat untuk aku berbagi tentang keadaan ku saat itu. Meski demikian tetap saja aku merasa gak enak terlebih saat aku di ajak ke rumah kerabatnya yang kebetulan aku kenal juga. Biasa dipanggil Mbak Yu, sore itu Mbak Rin mengajak aku ke rumah Mbak Yu, sesampainya di sana semua baik-baik saja tapi berapa jam kemudian aku pingsan dan kesurupan lagi, tapi tetap terkendali karena aku hanya pingsan sebentar saja kemudian sadar kembali. Meski aku mengenal tetap saja ada ras gak enak, aku jadi mempermalukan dan menyusahkan Mbak Rin saja. "Maafin aku ya Mbak, aku gak bermaksud kesurupan, semua spontan begitu saja." "Ya ndak apa-apa Nduk, gak usah minta maaf, Mbak gak apa-apa kok, Mbak gak malu dengan keadaan mu. Mendengar peryataannya aku terharu hingga nangis. Hanya saat di dekat dia aku merasakan benar-benar seperti kakak beradik kandung. Rasa persaudaraan yang luar biasa meski kami tak sedarah. Karena keadaan yang mudah kesurupan membuat aku membatasi hubunganku dengan yang lain kecuali yang terhubung dengan Mbak Rin. Aku gak pernah jalan kemanapun dan dengan siapa pun selain dengan Mbak Rin atau dengan Mas Yono. Pengalaman gaib yang aku alami saat bersama mereka sudah mereka anggap biasa seperti aku yang akhirnya juga mulai menganggap semuanya adalah hal yang biasa meski tetap ada rasa takut yang berbeda, rasa takut yang hanya tidak sekedar melihat penampakan wajah hancur, atau di teror terus-terusan hingga menutup mata atau telinga sudah tidak menjadi jalan keluar. Rasa takut yang membuatmu bisa tak merasakan saat kamu melukai orang lain tapi sebenarnya dirimu lah yang terluka. Ketakutan yang mulus yang tak bisa kau beda kan mana nyata mana yang bukan nyata. STRESS! Tentu saja aku juga pernah mengalaminya, meski sejak kecil sudah bisa melihat mereka namun ketika dewasa intensitas kemunculan mereka membuat isi kepalaku mau pecah. Mereka tak berhenti muncul di hadapan ku setiap saat. Aku berusaha mencari jalan supaya tak melihat mereka lagi. Hingga aku ceritakan semuanya pada Mbak Rin yang kemudian mengenalkan ku pada sosok laki-laki yang tinggal sekampung dengannya, dia seorang paranormal. Mbak Rin sempat menceritakan kepadanya tentang keinginanku agar tak lagi melihat mereka. Menutup mata batin adalah jalan yang terbaik kayaknya. Hingga kiriman dari Lek Lim, biasa aku dan Mbak Rin memanggilnya, kami terima bingkisan Itu, bingkisan yang berupa rajah. Tanpa banyak bicara aku ikuti perintah yang di arahkan Lek Min dari mulut Mbak Rin bahwa aku harus membakar rajah itu dan menaruh abunya ke dalam air mineral yang kemudian harus aku minum. Hari itu aku melakukan sesuai arahan. Dan benar setelah meminum air Bakaran rajah itu aku tak melihat mereka lagi, tentu saja aku senang. Aku bisa menikmati keseharian ku lagi tanpa harus terganggu dengan penampakan mereka. Tentu saja sangat menyenangkan ketika lagi bersama Mbak Rin atau Mas Yono perhatianku tak terusik lagi oleh mereka. Namun perkiraan ku salah, aku pikir akan selamanya, namun hanya bertahan kurang lebih dua bulan aku bisa melihat mereka lagi. Ini bukan pertama kali aku mencari cara untuk menutup tapi beberapa kali hingga aku menyerah dan menghadapi semuanya dengan berani sekaligus dengan ketakutan yang muncul di saat keberanian ku goyah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN