Sahabat Kecilku Ternyata ....

1753 Kata
Beberapa hari aku mendapat ijin dari Pabrik untuk tidak masuk bekerja, sejak hari jum'at itu, apa yang aku alami dan rasakan semua berubah drastis. Aku tidak bisa menikmati waktu seperti biasanya, semua terasa begitu cepat berlalu, dan semua hanya terasa terhenti di malam hari. Aku tak menikmati pagi, siang ataupun sore dan hampir setiap malam juga aku selalu bermimpi tentang makam, tentang kuburan. Aku lebih suka diam dan menyendiri, jadi mudah lelah dan mudah kesurupan dan kerasukan. Bahkan aku takut menemui orang-orang yang berniat mengobati ku. Hampir semua orang yang mengetahui keadaanku mengatakan bahwa aku lemah bulu, setiap ingin dibawa berobat kemanapun aku selalu menolak dan berusaha menghindar, entah kenapa demikian. Hari itu aku diajak teman, ke rumah tetangga yang berjarak beberapa meter dari rumah ku, tetanggaku itu sedang kedatangan ibunya yang kata orang-orang, ibunya adalah seorang paranormal. Sebenarnya bukan cuma ibu, tetanggaku itu juga mendadak bisa menyembuhkan orang yang sakit. Kabar cepat menyebar luas. Tak hanya itu katanya rumah ibunya yang di kota itu ramai didatangi orang-orang untuk berobat non medis dan sejak di sini pun orang-orang tak berhenti berdatangan menemui beliau. Satu hari halaman rumah anaknya itu padat oleh mobil-mobil dari orang-orang yang berdatangan dari kota, bahkan mereka mencari nenek itu sampai kemari. "Wah hebat ya Mamanya Imas, bisa sebanyak itu pasiennya, pasti ilmunya tinggi!' ucap Titi padaku. Apa mungkin, beliau tidak hanya mengunjungi anaknya tapi akan menetap dan tinggal lama disini. Nah! mengetahui hal itulah akhirnya temanku berinisiatif mengajak aku untuk berobat menemui ibunya Imas. Sekalian mencari tahu apa benar yang orang-orang katakan tentang kesaktiannya perempuan tua itu. Demi kesembuhan aku rela kesana sini untuk berobat, untuk bisa normal lagi, sehat lagi. Lagian jaraknya dekat dari rumah jadi aku hanya menurut saja tanpa menolak, awalnya semua biasa-biasa saja, saat obrolan tanya jawab kami selesai, hingga ibu itu membaca sesuatu dan membuat aku setengah sadar lalu kesurupan. Entah apa yang ibu itu baca, aku seperti terkurung dalam ragaku dan menyaksikan semuanya tanpa bisa kompak dengan ragaku yang kadang sadar kadang tidak. mereka tidak bisa mengeluarkan sosok yang bergantian masuk ke dalam ragaku padahal aku sudah berjam-jam kesurupan. Ada 5 sosok waktu itu, karena ibu dan anak itu tidak bisa mengobati ku, akhirnya temanku memanggil pak ustadz yang tempat tinggalnya tidak jauh juga dari rumah tersebut. Beliau adalah Pak Ustad yang sama yang mengobati aku waktu di Pabrik, yang memotong kepala salah satu buaya gaib yang menggangguku sewaktu tragedi ayam hitam berlangsung. "Sebagian sosok itu berasal dari pabrik." ucap pak ustadz dengan nada serius. Beliau terus mencoba mengobati aku. Menekan jari tangan juga kaki ku. Sosok yang bergantian masuk itu tidak tinggal diam mereka bersikeras tidak ingin keluar. Pak ustadz mengerahkan seluruh tenaganya, sorban dan tasbih miliknya iya gunakan sebagai alat perang melawan para gentayangan itu. Entah bagaimana bisa sorban beliau robek-robek dan tasbihnya putus berhamburan. "Serius!! Kejadian saat itu udah benar-benar mirip di film horor." cerita Titi. Dia juga menceritakan waktu kesurupan itu aku menyerang balik pak ustadz, tasbih dan sorban yang beliau gunakan sesekali dia pukul kan ke tubuhku. Pelan saja tapi aku berteriak dan terlihat sangat kesakitan. Beberapa orang mencoba memegangi ku saat berontak tapi mereka semua roboh. Pak ustad udah kelihatan lelah sementara sang tuan rumah dan ibunya hanya diam, mungkin bingung, malu tak tahu harus berbuat apa. Waktu semakin larut, karena mereka tidak ada yang berhasil mengembalikan kesadaran ku, akhirnya aku di antar pulang dalam keadaan tidak sadar dan masih dalam keadaan kesurupan. Mereka meletakkan aku di ruang tamu yang sudah di beri alas kain dan bantal oleh orang tuaku. Jangan tanya bagaimana sikap Bapak saat mengetahui kalau aku kesurupan lagi. Bapak marah tapi tak di tunjukkan nya saat itu. Kata Titi bapakku terlihat marah namun masih menjaga emosinya karena saat itu ada beberapa orang di rumah salah satu saudaraku juga memanggil temannya yang katanya biasa menghadapi situasi seperti yang aku alami. Dia mencoba berinteraksi dengan sosok yang merasuki aku, saat itu adalah anak balita, balita itu terus menangis dan mengisap jempolnya. Begitu ditawari air s**u sebotol, anak kecil itu meminum habis s**u tersebut lalu keluar dari ragaku berganti masuk dengan sosok lain yang mengaku seorang pendeta, setelah mereka berkomunikasi dengan baik, sosok itu juga kemudian keluar lalu seorang perempuan kemudian siluman buaya yang jahat dan terakhir sahabat kecilku si buaya putih, dia selalu hadir saat aku kerasukan oleh jin alias para gentayangan lainnya. Tak butuh waktu lama, dengan bantuan teman saudaraku itu akhirnya aku bisa terlepas dari semua itu. Dengan fisik yang sakit dan melelahkan. Bekas Pak Ustad menekan jari- jari tangan dan kakiku termaksud bekas pukulan tasbih dan surbannya. Semua itu menyisakan rasa sakit dan lebam pada bagian tubuhku. Itulah trauma yang membuat aku takut bertemu dengan orang-orang yang berniat mengobati ku. Rasa sakit yang mereka sisakan untukku membuat aku jadi parno untuk bertemu dengan mereka. ••• Perusahaan akhirnya memutuskan untuk memanggil pendeta dan Pak Ustad bersamaan untuk memagari bangunan itu, karena sebagian pimpinan kami beragama nasrani makanya mereka memanggil ke duanya. Dan aku mendengar kabar ini dari salah satu orang dalam, yang dekat dengan para pihak perusahaan. Bahwa mereka bersedia memotong kambing dan melakukan selamatan ala kadarnya. Bukan cuma berita itu yang aku dengar saat masuk kerja, aku juga mendapat berita kalo Pak Ustad yang mengobati aku dan yang memotong kepala buaya secara gaib itu meninggal dunia. 'Innalillahi Wainnailaihi Raji'un' Aku gak menyangka aja, padahal setahu aku beliau baik-baik aja. dengar berita kematian Pak Ustad yang mendadak tentu saja mereka berpikir kalo itu adalah salah ku. iya salah satu dari mereka sempat mengatakannya langsung kepadaku bahkan menjadikan itu sebagai ejekan, "Hayoo gara-gara kamu tuh Pak Ustad meninggal, karena motong kepala buaya gaib mu hari itukan." ejeknya spontan! Mendapat tuduhan seperti itu, aku menanggapinya hanya dengan sedikit senyum dan berusaha menghibur diriku sendiri bahwa beliau memang sudah waktunya kembali ke yang Maha Kuasa bukan karena aku. ••• Alhamdulillah beberapa bulan kemudian semua berjalan kembali seperti biasa. keadaanku juga sudah kembali mulai membaik, bekerja dan melalui semuanya seperti sebelum kesurupan massal itu terjadi. Meski aku masih sering jatuh pingsan, kali ini berbeda saat aku tak sadarkan diri dan dibawa ke klinik aku hanya tertidur, itu yang mereka liat tapi sebenarnya tidak demikian. Siang itu saat tengah asyik bekerja, aku merasakan kembali seperti mengambang gak berpijak pada lantai. Merasakan seperti itu aku bergegas minta ijin untuk menuju ke klinik agar tak pingsan di ruang produksi namun sayangnya baru beberapa langkah saja aku seperti melayang dan tiba-tiba jatuh pingsan dan hilang kesadaran. Aku tak ingat apa-apa lagi, seekor buaya besar ada dihadapan ku, cukup kaget juga karena aku bisa mendengar keinginannya yaitu mengajak aku jalan-jalan ke satu tempat. Ini pengalaman aku pertama kalinya menerima ajakan kai. Aku sempat berpikir, mau diajak kemana ya?" Ah ikut sajalah. Toh aku juga gak bisa menolak. Kami menyusuri sungai kemudian masuk ke sebuah Goa. Goa yang cukup dilalui oleh perahu kecil Aku yang duduk di atas tubuhnya yang besar awal nya takut tapi sekali lagi aku tak bisa menolak ajakannya hanya mengikuti saja. Aku memegang tubuh kasarnya tercium aroma bau amis yang sangat kentara pada kulitnya. Begitu sampai di dalam Goa, pandangan ku tertuju pada banyak bebatuan yang dipenuhi oleh kerumunan buaya. Aku sempat berpikir apa ini sarang buaya. Begitu kami sampai buaya yang aku tunggangi itu berubah menjadi seorang laki-laki setengah tua memakai pakaian serba putih, sejak itu aku memanggilnya kai putih seperti yang beliau inginkan. Kami duduk berdua di hadapan para buaya yang lain, yang sedang menikmati perayaan tersebut. "Kai! kenapa aku dibawa kesini, ini acara apa?" tanyaku sambil memandang sekeliling dan pandanganku terhenti pada seekor buaya kecil yang sedang berduaan dengan induknya. "Ada anak buaya yang baru lahir, makanya Kai bawa kamu kesini." jawab Kai pelan. Aku juga melihat banyak sekali makanan, daging, telur dan lain-lain, tiba-tiba saja aku merasa lapar. Seperti mengetahui apa yang aku pikirkan, Kai segera mengingatkan aku hanya boleh memakan telur yang ada di hidangan bukan yang lain. Tapi kenapa? Entahlah Kai tidak menjelaskan apapun soal larangan itu. Aku hanya mengikuti apa yang Kai perintahkan yaitu hanya mengambil telur bukan yang lain. Setelah kejadian itu, jatuh pingsan ku alami terjadi beberapa kali, diajak kai jalan-jalan menyusuri sungai dan lautan membuat aku jadi terbiasa, aku bahkan jadi tahu dan hafal, gimana rasanya kalo kai tiba-tiba datang dan gimana caranya untuk kembali sadar dari acara jalan - jalan itu. ••• Berjalannya waktu ... Hubunganku dengan Frida dan yang lain mulai renggang termaksud dengan Ganing, itu, sejak aku di rolling ke divisi lain. Satu persatu mereka resign dari Pabrik, hanya aku yang bertahan, ada yang menikah dan bekerja di tempat lain. Hubungan aku dengan Ganing baik-baik aja meski mulai renggang. Hingga memasuki tahun ke dua, hubungan kami tidak mendapat restu dari orang tua. Begitu juga orang tuaku, saat tahu kalo dia beragama non muslim. Orang tuaku memintaku untuk menjauhinya, tentu saja ini berat karena kami sudah saling mencintai. Awalnya Ganing gak keberatan untuk pindah agama. terbukti dia mau belajar. Tapi entah mengapa Aku merasa seperti memaksa dia untuk melakukan itu dan bukan murni karena keinginannya. Untuk yang satu ini aku tidak bisa memaksanya karena aku sendiri pun tidak yakin, apa dia benar-benar serius atau hanya karena kasihan. Akhirnya dengan berat hati, setelah berbicara serius tanpa berdebat, aku putuskan hubungan kami secara baik-baik, kami sepakat tak ada benci ataupun dendam dan tetap saling berteman. Mungkin ini keputusan yang tepat, meski kami sama-sama terluka tapi kami berusaha karena meski kami putus, hubungan pertemanan kami tetap berjalan dengan baik. Di pindahkan ke divisi lain dengan alasan bahwa aku kerap pingsan dan kesurupan dan kepindahan itu bisa membuat aku gak akan kesurupan lagi. Itu kata sebagian dari teman yang aku dengar. Termasuk kata Kabag divisi ku sebelum aku dipindahkan. Dan itu memang berhasil, sejak aku di pindahkan, aku memang udah gak pernah jatuh pingsan atau kesurupan lagi. Mungkin karena di divisi ini lebih sedikit personilnya. Yah! sekitar kurang lebih 10 atau 11 orang gitu, dan wanitanya cuma 3 orang termaksud aku. Suasana baru dan teman-teman baru membuat aku melupakan apa yang aku alami beberapa bulan terakhir ini. Mereka semua sangat baik padaku. Kesedihan ku karena putus cinta bisa aku lalui dengan mudah. Tahun berganti tahun aku mengenal pria lain yang sebelumnya aku jodohkan ke temanku yang memang mereka sudah saling kenal karena pernah bertetangga an. tapi entah bagaimana bisa kami malah dekat, meski jujur rasaku tidak sebesar dulu saat aku dengan Ganing. Mungkin karena dia terlihat dewasa dan sabaran makanya Aku membiarkan semua terjadi begitu saja, gak ada kata jadian tapi kami sering bertemu dan ngobrol di kost-an temanku yang udah aku anggap seperti saudara sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN