Darah Ayam Hitam

1729 Kata
Siapa yang tidak malu, saat sadar dari kerasukan dengan darah dan bulu ayam yang nempel di wajah kemudian di kerumuni banyak orang. Sungguh hari itu adalah hari naas untuk ku. Aku bergegas bangkit menuju kamar mandi yang ada di Locker. Membersihkan wajahku dan sesekali aku lepek apa yang ada di dalam mulutku, bau amis darah dan bau ayam sangat menyengat di hidungku. Apa yang sudah terjadi ... Saat keluar dari kantin, aku liat ayam tergeletak di hadapanku kulihat matanya masih bergerak pelan, sesekali dia kepak kan sayapnya, menandakan dia masih hidup tapi terlihat sangat lemah dan sepertinya akan menemui ajalnya. Kasihan ... kenapa aku bisa jadi sejahat itu. Aku masih ingat bagaimana tatapan mata ayam cemani itu menemui ajalnya. Beberapa jam setelah kejadian Frida dan yang lain menceritakan kronologis kejadian saat aku kerasukan bagaimana aku bisa mencoba mau memakan hidup-hidup ayam hitam itu. Kata mereka saat aku jatuh pingsan, semua karyawan serentak ikut berjatuhan satu persatu, saat aku jatuh tergelatak aku memang sempat melihat yang lain ikut berjatuhan setelah diriku jatuh ke lantai. Setelah itu satu persatu dari kami mulai histeris, berteriak yang macam-macam, menangis bahkan mencoba menyakiti diri kami sendiri. Hampir semua karyawan perempuan kesurupan dan jumlahnya jauh lebih besar dari kesurupan yang pertama kali. Sebagian karyawan laki-laki berusaha membantu menggotong kami menuju ke kantin seperti biasanya. sebagian ada di loker, di klinik bahkan ada yang di letakan di taman. Hari itu benar-benar menjadi hari yang buruk. Sebagian karyawan masih ada yang mencoba lari menuju kelaut sama seperti kesurupan yang sebelumnya. Semua turun tangan membantu, bagian personalia termaksud manajer pun gak ikut ketinggalan, ditambah beberapa orang luar yang sebelumnya dipanggil oleh pihak perusahaan ada paranormal pak RT juga pak ustadz. Kali ini luar biasa ramai nya mungkin karena jumlah yang kesurupan jauh lebih banyak. Semua yang kesurupan/kerasukan ditanyai satu persatu (itu adalah proses bagaimana mereka berdialog dengan jin yang merasuki para karyawan). Frida menceritakan semuanya .... Saat giliran ku. Aku tidak ingat betul apa yang merasuki aku. tapi aku melihat bagaimana orang-orang non pribumi itu mati dengan cara diselubungi asap hitam yang pekat lalu ku lihat seekor buaya besar yang mencoba membantu ku. Sosok buaya yang gak asing untuk ku, aku teringat buaya itu mirip dengan sosok buaya yang selalu menemaniku bermain saat aku masih kecil. Dia mencoba melindungi ku dari beberapa buaya lain, buaya-buaya jelmaan yang cukup besar namun sangat jahat. Para buaya jahat itu berusaha menyakiti ku. Tapi buaya putih yang akhirnya Aku ketahui adalah sahabat kecilku bersama pak ustadz juga yang lainnya, mencoba membantuku. Sebagian teman-teman yang kesurupan sudah ada yang tersadar hanya tersisa beberapa termaksud Aku. Sesekali aku masih setengah sadar lalu hilang ingatan lalu sadar lagi tapi tak bisa apa-apa hanya bisa melihat, mendengar suara-suara yang terdengar itu lambat. Setelah berjam-jam dan beberapa kali melakukan pengusiran dan perlawanan gaib, akhirnya mereka melakukan perjanjian. Jika diberi ayam hitam maka mereka akan pergi dan tidak akan kembali mengganggu. Setelah melakukan perundingan Pak ustadz dan pihak perusahaan akhirnya mengabulkan, karena selain sudah memakan banyak waktu, pihak perusahaan tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Meski sebelumnya menolak, karena di ancam jika tak dikabulkan maka, kejadian seperti ini akan terus berlangsung. Tentu saja pihak perusahaan tidak ingin hal itu terjadi, karena berapa hari aja sejak kejadian ini berlangsung, pihak perusahaan sudah menyatakan kerugian yang lumayan. Setelah dengan sulit menemukan ayam cemani, akhirnya ayam hitam itu mereka temukan juga dan begitu tiba di kantin mereka menyodorkan ayam itu di dekatku. Sesaat aku sadar aku hanya bisa menyaksikan, lalu kesadaran itu lenyap, saat melihat ayam itu, aku merasa begitu lapar begitu ingin menikmatinya. Dan dengan sigap tanpa membuang waktu lama lagi, aku yang udah posisi tengkurap seperti seekor buaya yang kelaparan menangkap ayam hitam yang berada tak jauh dariku, lalu aku menggigit lehernya berkali-kali, ayam itu sempat melakukan perlawanan tapi cengkeraman ku lebih kuat dari ayam itu, dan ... Hm .... Beberapa kali gigitan .. Rasa darah itu begitu segar di mulutku dan beberapa saat kemudian aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Dan di luar perjanjian setelah berhasil mengusir sosok-sosok yang lain pak ustadz mencoba membunuh buaya jahat itu dengan memotong lehernya. Dan benar dia melakukannya, dia memotong leher buaya itu tanpa ampun, hal ini dilakukan secara gaib, hanya prosesnya saja terlihat seperti memotong. Begitu cerita Frida dan yang lainnya. Aku yang masih lemah hanya bisa mendengarkan. Rasanya lelah sekali. Setelah agak benar-benar baikan akhirnya aku diantar pulang oleh temanku. ••• Beberapa hari kemudian setelah tragedi Ayam Hitam itu. keadaan perusahaan membaik, tak ada lagi yang kesurupan, cerita mengenai perusahaan yang tidak melakukan selamatan sesaat sebelum bangunan digunakan membuat tersiarnya berita bahwa penghuni pabrik meminta tumbal. Mendengar semuanya kembali normal tentu saja kami senang terutama aku, tapi itu tidak bertahan lama karena aku mulai melihat semua kembali seperti sebelumnya. Pagi menjelang siang aku jatuh pingsan dan hanya tertidur di klinik. Kata suster Ana, aku sempat mengerang seperti suara buaya gitu, tapi hanya sebatas itu tanpa mengundang perhatian seperti sebelum sebelumnya. Sementara aku, aku melihat sahabatku si buaya putih sedang berdialog dengan sekelompok buaya yang jahat itu, entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya mereka tidak sepaham. Aku mulai mengamuk tapi aku masih bisa merasakan bahwa aku sadar aku bisa melihat semuanya dengan jelas tapi aku gak bisa mengendalikan pikiran dan ucapan ku. Aku ingat bagaimana aku meminta kopi hitam, aku tahu aku tidak menginginkan itu tapi aku tidak bisa menolak dan terus meminta kopi hitam. Beberapa bagian dari karyawan Personalia termaksud manajer hadir saat itu, mereka memberiku kopi hitam, sosok yang merasuki ku sempat adu argumen dengan mereka tapi ada bagian-bagian yang tidak aku ingat. Dari klinik aku diangkat ke mushola, aku hanya diam mengerang. Aku tersadar setelah kurang lebih satu jam-an. Aku ditemani Sekuriti perempuan ke depan menuju kantor besar untuk mengambil surat izin, tapi sayang sesampainya di kantor bukannya mendapat surat izin aku malah kerasukan lagi di sana. Aku mengamuk sejadi-jadinya bahkan katanya aku sampai menaiki meja yang biasa dipakai rapat para karyawan, bukan hanya itu aku sempat menarik kerah baju pak manager yang berusaha mengusir sosok yang merasuki tubuhku. Ternyata dengan kejadian ini kami mengetahui bahwa pak manager yang warga keturunan itu ternyata paham dengan masalah ini dan juga memiliki tenaga dalam. Sesekali aku sadar dan ku gunakan kesadaran ku itu untuk melawan tapi setelah itu aku sama sekali tidak ingat jadi tak bisa berbuat apa-apa. Lagi-lagi aku memang meminta sesajen. Setelah mereka mengabulkan permintaanku dengan menyediakan kelapa dan gula merah yang begitu tersedia langsung aku raih dan aku makan, sesaat setelah itu barulah aku benar-benar terlepas dari yang merasuki ku Dan ketika tersadar, rasa malu dan lelah yang luar biasa, sekali lagi aku tidak berani mengangkat wajahku saat itu. Semua karyawan personalia pasti sedang memandangiku, entah apa yang mereka pikirkan, mungkin kasihan mungkin sebaliknya. Aku di antar pulang oleh mbak Asa, salah satu karyawan bagian personalia yang kebetulan juga masih ada hubungan kerabat denganku. Sesampainya di rumah, orang tuaku sedikit terkejut, karena tidak biasanya aku diantar pulang oleh pihak kantor, setelah menceritakan semuanya mbak asa pulang. Keluargaku terutama orang tuaku biasa aja, beberapa jam setelah itu aku kerasukan buaya lagi dan mulai merangkak seperti layaknya seekor buaya benaran. Mencabik-cabik tikar kamarku hingga robek. Mereka hanya diam dan mengabaikan ku hingga aku tersadar dengar sendirinya. Sepertinya hal ini udah terbiasa buat mereka, tak ada wajah cemas atau kepanikan yang aku lihat, menganggap itu adalah hal yang normal dan itu membuatku kaget karena aku berpikir kenapa mereka tega dan tidak pernah menceritakan apa pun padaku. Saat kesurupan aku bisa melihat semuanya, melihat diriku yang terkurung tak berdaya dalam raga sang buaya padahal raga manusia, melihat mereka yang bergerak pelan dan bicara tanpa suara dan mengabaikan ku. Semua tidak berhenti di situ saja, keluargaku tidak mengizinkan aku masuk bekerja, selain karena aku masih lemah, bapak bilang supaya tidak kerasukan lagi. Bapak berusaha mencegah semuanya agar ku tidak kerasukan lagi Aku mungkin sudah salah menilai bapak, bapak emang keras dengan caranya dan semua yang bapak lakukan adalah agar keluarga tidak malu dengan kejadian yang aku alami. Bapak juga tidak memperbolehkan siapa pun dari teman kerjaku yang berniat menjengukku. Bapak melarangnya. Tapi omongan bapak tidak aku sampaikan pada teman-temanku yang berniat menjengukku hari itu aku berpikir Bapak terlalu berlebihan, masa iya dijenguk teman aku bisa kerasukan lagi. Aku sedang asyik duduk di serambi belakang saat Mbak Rin datang bersama Fifi. Mereka adalah teman-teman sepabrik yang berbeda unit denganku. Belum berapa menit mereka datang dan kami ngobrol. Aku tiba-tiba pingsan lagi dan kesurupan. Begitu bapak mengetahui aku dijenguk, Bapak marah besar dan mengusir mereka. Karena merasa tidak enak dengan kejadian kemarin, keesokkan harinya aku coba mengirim text ke mereka dan meminta maaf atas kejadian saat itu. Syukurnya mereka bisa memahami keadaan ku waktu itu. Keadaan yang aneh menurutku, aku hanya bisa diam tanpa tahu harus bagaimana, aku seperti kehilangan sebagian waktu ku, tak ada tempat untuk bertanya atau mengadu. Aku kenapa? Mungkin pertanyaan itu sampai ada karena aku tidak sedekat dengan Tuhan seperti sekarang. Jelas semua ini salah ku. Aku hanya mengucap tanpa memahami sedikitpun. Bahwa berdoa harus dari hati bukan hanya di ucap begitu saja, sejak itu aku belajar pelan-pelan. Belajar memahami setiap keadaan yang aku alami. Sejak itu bukan hanya suara yang aku dengar tapi sekelebatan dari mereka sering tampak diujung mataku. Entah kenapa mereka terus menampakkan dirinya padaku. Rasa takut itu masih ada hingga sekarang, yang beda adalah aku bisa menghadapinya. Walau dengan menutup kedua telinga, dengan tubuh yang gemetar atau menjaga mata untuk tidak terpejam aku berusaha tidak takut. Aku tak punya siapa pun untuk melindungi ku selain Tuhan, jika aku tidak bisa menghadapi ketakutan ku dan melindungi diriku sendiri lalu siapa yang bisa menolong ku, jika pun ada kai, beliau hanyalah perantara, aku tidak bisa bergantung pada siapa pun selain pada Tuhan. ••• Sama seperti yang lainnya buku adalah satu-satunya tempat untuk mencurahkan semua apa yang aku alami dan aku menuliskan semuanya baik dalam bentuk catatan ataupun dalam bentuk gambar. Setiap kejadian yang aku alami selalu aku share di buku catatan milikku, seperti kejadian di pabrik dan tentang penampakan penampakan lainnya yang sejak tragedi darah ayam hitam itu penglihatan ku semakin tajam, aku mengalami hal yang menurutku semua kejadian itu ada di luar logika. Aku tak hanya melihat sosok yang orang-orang sebut hantu atau arwah penasaran, tapi aku melihat dan mengalami kejadian-kejadian yang menurut aku itu adalah hal yang luar biasa dan itu menuntunku lebih dekat dengan semesta yang ternyata sangat luas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN