Kesurupan Massal 2

1694 Kata
"Hai Linn, gimana keadaan kamu?" teriak Fandi saat melihatku berjalan ke arah kantin. "Alhamdulillah, sudah lebih baik Fan." balasku saat melewatinya ketika aku menuju ke etalase Kantin yang nampak terlihat berbagai macam makanan, dari kue tradisional, camilan dan lain-lain. "Kamu sendiri apa kabar, ayo serapan?" ajak ku sebagai basa-basi. "Iya, duluan aja Linn, aku lagi nunggu teman nih ." ucapnya. Aku membayar beberapa kue dan teh hangat lalu menuju kemeja yang ada di pojok kan. Kantin di pabrik ini cukup luas dan besar, ada puluhan meja dan kursi panjang yang di tata rapi untuk para karyawan beristirahat, baik waktu serapan pagi atau jam makan siang. Setiap dua Minggu sekali selalu ada karyawan baru yang masuk, Karena pabrik selalu membutuhkan karyawan borongan, iya disini lebih banyak karyawan borongan dari pada karyawan bulanan. "Aku mau pulang!! Aku mau pulang!" Terdengar teriakkan suara perempuan dari arah dalam menuju keluar, beberapa pria sedang menggotong seorang karyawan borongan yang masih lengkap menggunakan seragam dan perlengkapan lainnya. Perempuan itu meronta-ronta, berteriak histeris, berontak hingga sepatu boat nya terlepas sebelah karena dia berusaha melawan untuk melepaskan diri. Teman-teman yang membantu cukup kewalahan juga karena ada yang kena tendang saat mereka memegangi kedua tangan dan kakinya. Sosok yang ada di tubuh perempuan itu hanya terus meronta-ronta tak ingin dipegang. Bukan hanya satu, dua atau tiga orang yang kesurupan tapi puluhan, sedikit berkurang dari jumlah kesurupan yang pertama yaitu sekitar ratusan karyawan. Sudah semingguan lebih kesurupan massal di pabrik belum juga berakhir. Saat sebagian karyawan kesurupan, karyawan yang lain sibuk pada membantu, meski sebagian ada juga yang cuek atau hanya jadi penonton karena mereka takut. Jika sudah sadar dan membaik yang kesurupan di pulangkan satu persatu. Begitulah yang terjadi dalam pabrik beberapa minggu ini. Tentu saja hal ini membuat perusahaan mengalami kerugian yang lumayan. ••• Jum’at pagi .... Semua karyawan masuk seperti biasa, termaksud aku. Yah! semoga saja semua baik-baik saja meski sebenarnya aku takut, takut karena hari ini adalah hari Jum'at. Karena setelah aku perhatikan hari Jum'at adalah hari dimana dimulainya kejadian kesurupan massal ini atau mungkin itu hanya perhitunganku saja yang salah. Bukankah semua hari itu sama. Tapi ini beda karena setiap hari Jum'at pasti ada yang kesurupan. Aku berusaha menutupi ketakutan yang aku ciptakan sendiri. Kepalaku dipenuhi penglihatan penglihatan yang sebagian orang tak melihatnya. Seperti biasanya selalu tidak ada yang terlihat aneh jika yang tak kasat mata itu tak muncul. Serapan di Kantin bersama Frida CS, say Hi dengan Ganing, adalah rutinitas sehari-hari yang aku lalui dengan normal. Cerita tentang pabrik berhantu sudah meluas di telinga kami. Aku pernah mendengar cerita dari beberapa teman, bahwa ada karyawan dari divisi lain yang mengalami kejadian aneh pas mereka lembur malam. Saat itu mereka masuk menuju ruang packing dan mereka menemukan meja stainless bergeser dengan sendirinya padahal setahuku meja itu lumayan berat. Bahkan barang-barang kecil seperti keranjang, basket, berjatuhan dengan sendirinya. Buatku itu bukan hal yang aneh. Apalagi sejak aku melihat kehadiran anak kecil itu, yang kadang-kadang muncul kadang-kadang hilang dengan sendirinya. Mungkin saja dia adalah salah satu pelaku keanehan yang terjadi di pabrik ini. Aku sudah berada di ruang produksi dan mulai bekerja. Jika pekerjaanku selesai sesekali aku perhatikan dan membantu anak borongan, mereka asyik mengupas atau menyortir barang. Biasanya kami menyebut karyawan yang dibayar mingguan ini dengan sebutan seperti itu Anak borongan. Posisi kami tidak berjauhan hanya berdiri dan membelakangi meja satu dengan meja yang lain. Kurang lebih empat ratusan karyawan yang bekerja di pabrik ini. Saat asyik fokus, aku mendengar suara bisikan, tapi kali ini bisikan itu bukan seperti bisikan yang sebelumnya. Ini suara wanita. "Linn!! Linn!! Aku mendengar seseorang memanggil namaku, tapi siapa!!? "Linn ... ambil pisaunya." Suara itu mengarahkan aku untuk merebut pisau kecil yang digunakan oleh salah satu karyawan borongan yang berdiri tepat dua langkah berada di belakangku. "Cepat! Ambil pisaunya, lukai mereka atau aku akan melukaimu." Bisik suara itu mengancam ku. Aku berusaha tenang untuk tidak menghiraukannya. "Linn!! Linn!!" Suara bisikan memanggil itu terdengar lagi. Aku coba acuhkan, aku berusaha tetap berpikir mungkin itu suara mesin, atau aku salah dengar atau apa sajalah. Walau demikian aku tetap menoleh ke belakang, ke kanan dan ke kiri, semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Gak ada yang terlihat sedang memanggil. Atau jangan-jangan ada teman yang sengaja mengerjai aku. Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke toilet saja. Seperti di cerita yang sebelumnya untuk menuju ke toilet, karyawan harus melewati lorong yang sama yaitu ruang atau lorong pencucian kaki. Sampai depan ruang kamar mandi, aku basuh mukaku dengan air keran dari wastafel, sambil memandang wajahku di cermin. Tiba-tiba aku mendengar ada suara air yang jatuh. Suara yang sedari tadi memang tak ada, tiba-tiba terdengar Kucoba mendekat ke arah dari mana suara itu berasal, sepertinya dari salah satu ruang di kamar mandi ini, sekitar ada 10 ruang kamar mandi yang bersekat dan berhadap-hadapan di ruangan ini. Biasanya disini ada petugas jaga tapi waktu aku kemari tak ada siapa pun. Entah petugasnya kemana, biasa mereka bergantian jaga, tapi kenapa tak satupun dari mereka nampak. Suara itu sepertinya memang berasal dari kamar mandi yang di nomor dua. Jika di dalam ada orang pasti kaki mereka terlihat. Aku coba menunduk sedikit, kulihat ke bawah tapi tak terlihat siapa-siapa. Aku dorong perlahan kamar mandi, untuk meyakinkan bahwa di dalamnya memang tak ada siapa-siapa dan benar ruangan ini kosong, air kran nya juga gak mengalir. Suara tadi tiba-tiba hilang. Lalu asal suara tadi dari mana, padahal sangat jelas dari ruangan ini. Aku cek kran dengan membuka dan menutupnya, lalu aku buka lagi, airnya mengalir, lalu aku tutup kembali. Semua baik-baik aja. Lalu dari mana asal suara air tadi, apa mungkin aku salah dengar. Aku cek ruang di sebelahnya dan sebelahnya juga yang lainnya, ruangan ini benar-benar kosong, tak ada siapa-siapa hanya ada aku sendirian. Ah! Apa mungkin halu ku saja. Aku berbalik dan melangkah keluar, kembali menuju cermin untuk memakai kembali perlengkapan kerjaku yang tadi aku tanggalkan. Namun baru hendak memakai sepatu yang tadi aku ganti sebelum masuk ke ruangan itu suara air jatuh itu terdengar kembali, sama persis di ruangan yang tadi. Aku coba kembali dan mendatangi suara itu dan memeriksanya, lagi-lagi ruangan itu kosong, tak ada siapa pun, tapi kran air nya terbuka dan mengalir. Spontan aku kabur ... rasa takut mulai menakuti ku. aku melangkah dengan cepat, tak ku hiraukan pakaian seragam ku yang tak ku kancing dengan rapi, aku bergegas masuk kembali menuju ruang produksi. "Aneh!! Bukannya tadi kran air itu sudah aku tutup, lalu kenapa bisa terbuka lagi?" ucapku pelan sambil mempercepat langkahku. Sesekali aku berlari, tak ku pedulikan cipratan air dari sepatu bot putihku yang membasahi baju seragamku. Rasanya menuju ke dalam terasa sedikit lebih lama. Sepanjang lorong aku dengar suara anak bayi menangis. Suara yang membuat kepanikan ku semakin bertambah. Setiba di dalam, aku mencoba tenang dan bersikap biasa, tapi suara tangisan bayi itu semakin terdengar nyaring di telingaku. "Mbak ... Mbak ada dengar suara bayi nangis gak sih?!" tanyaku ke mbak Ris salah satu seniorku "Gak ada Dek, emang kamu ada dengar ya. Ah! Kamu ini, mau menakuti-nakuti mbak aja." ucap nya sedikit kesal, karena mengira aku sedang bercanda padanya. Ternyata mbak Ris tak mendengar apa pun. Aku semakin panik, suara itu semakin jelas aku bahkan menutup kedua telingaku agar suara itu tak lagi ku dengar. Tapi gak ada pengaruhnya. Rasa takut ku semakin bertambah, bahkan aku bisa merasakannya debaran jantungku terdengar berpacu lebih kencang dan itu membuat aku sampai jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Di sini aku sama sekali tak ingat apa pun. Aku hanya ingat suara tangisan bayi itu mulai samar-samar menghilang berganti suara-suara yang tak begitu jelas sama tak jelasnya seperti pandanganku yang pelan-pelan kabur dan menghilang. Ku buka mataku perlahan ku lihat anak kecil itu duduk di hadapanku, posisi ku sedang terbaring, tapi ini dimana? "Ayo kak bangun jangan tidur di sini, nanti mereka datang" ajak anak kecil itu sambil menarik lenganku. Aku berusaha bangun dan membiarkan dia menarik lenganku. "Iya, tapi kita mau kemana dek?" tanyaku sambil memegang sikut lalu kepalaku yang masih terasa sakit. "Kakak ikut aja, kita sembunyi sebelum mereka datang." "Mereka siapa?" tanyaku lagi penasaran. Kami terus berlari, hingga sampai di bawah pohon yang rindang, kami bersembunyi di situ, kulihat dia sedang mengintip, aku dekatkan wajahku ke wajahnya, penasaran apa yang sedang dia perhatikan. Tidak terlalu jauh kami melihat sosok hitam besar sudah berada diantara orang-orang berpakaian seperti yang pria dan wanita berpayung tadi, sosok itu menangkapi semuanya termaksud anak pirang dan kedua orang tuanya. "Hey ... mau kemana?!" teriak ku melihat anak laki-laki berlari ke arah sosok itu dan meneriakinya. "Jangan ... jangan! Ambil temanku" Dia berteriak histeris, menangis agar anak pirang itu tidak ditangkap. "Jangan tangkap temanku!" pekiknya lagi sambil memukul sosok itu berkali-kali. Dia trus berlari mendekati sosok besar itu, aku yang tadi hanya menatap akhirnya ikut berlari mengejar dia, namun sayang sosok hitam besar itu juga menangkapnya, aku coba meraih tangannya tapi anak itu malah berteriak. "Lari kak! Cepat lari, kembali ke tempat Kakak." Aku tidak menghiraukan ucapannya, hingga sosok itu juga menangkap ku, aku berusaha melawan. "Lepaskan kami, kenapa kamu menangkapi semuanya." Aku berteriak sambil berusaha melepas diri dari kabut hitamnya. Sosok itu malah menangkap ku balik tangannya yang besar sudah mencengkeram ku. Berkali-kali aku pukul hingga ku gigit. "Jika tak ada darah maka aku akan mengambil semuanya." ancam sosok hitam itu. Aku sudah tak melihat anak laki-laki itu. Kabut asap hitam ini membuat aku sesak napas dan melepaskan gigitan ku. Lalu terdengar suara orang berteriak 'Allahuakbar' lalu beberapa ayat pendek yang ternyata dari suara seorang Pak Ustadz. Aku melihat orang-orang di sekitarku bukan cuma orang tapi juga sosok lain salah satunya adalah siluman buaya, dan buaya-buaya itu tak satu tapi banyak. Aku masih memikirkan anak kecil itu, bagaimana nasibnya Kemana dia pergi. Apa sosok besar itu membawanya. Lalu aku tak ingat lagi, aku hanya ingat saat terbangun dalam keadaan terduduk dengan sedikit darah dan bulu ayam cemani, ayam hitam yang cukup langka waktu itu, yang bulu nya beberapa helai nempel di pipi dan mulutku. Aku berusaha membersihkannya dari wajahku. Mengusap wajahku berkali-kali dengan perasaan sedih. Apa yang sudah terjadi, aku terlihat kacau, duduk dikerumuni banyak orang, dalam keadaan seperti itu, hanya ada rasa lelah, aku bahkan tak berani mengangkat wajahku karena malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN