Jumat pagi ....
Seperti biasanya, selesai serapan pagi di kantin pabrik kami kembali ke locker mempersiapkan diri memakai seragam dan kelengkapan lainnya lalu masuk ke dalam untuk memulai pekerjaan.
Dalam beberapa jam suasana di dalam gak ada yang aneh, semua terlihat normal, hanya saja kenapa pandanganku tiba-tiba semua seperti terasa terlewatkan dengan lambat. Semua tiba-tiba bergerak lebih lambat.
Ada suara-suara lain yang gak seperti biasanya terdengar seperti menggema di pendengaran ku. Tapi aku gak tahu suara-suara itu berasal dari mana. Aku juga gak ngerasa nyaman berlama-lama di dalam ruangan ini rasanya ingin segera keluar saja dari ruang produksi.
Entahlah ... aku merasa tubuhku mulai terasa ringan serasa seperti melayang. Aku tahu ini pertanda bukan hal yang baik, karena setiap pertanda ini muncul aku pasti semaput. Tapi aku berusaha sadar, berusaha tak terbawa oleh pertanda itu.
"Apa sebaiknya aku ke toilet saja untuk mencuci wajahku. kali aja ini karena pengaruh masih ngantuk."
Belum jauh aku melangkah menuju pintu ruang pencucian kaki, terdengar suara riuh, suara teriakan dari arah belakang, karena penasaran aku balik kembali ke ruang produksi, kulihat semua orang pada panik, satu persatu karyawan berjatuhan, ada yang berlari, ada yang menangis, semua mendadak terlihat aneh, seperti ada awan hitam di ruangan ini.
Aku terdiam sesaat, seperti bukan berada di ruang produksi. Kenapa seperti ini.
Tubuhku terasa bergetar, aku mulai panik, kulihat anak laki-laki itu berlari dan bersembunyi tepat di bawah meja sortiran bersama anak kecil lainnya yang berambut pirang. Aku juga melihat seorang wanita dengan gaun panjang memegang payung, dia juga terlihat panik bersama seorang pria bertubuh tegap. Bagaimana bisa mereka semua ada di dalam ruangan ini. Aneh! Tapi otak ku tak sempat memikirkan keanehan itu.
Aku ingin mendekat membantu teman-teman yang lain, tapi aku tak bisa bergerak rasanya energi ku terkuras habis, aku coba berpegangan pada meja, Frida datang menanyakan keadaanku.
"Ayo kita keluar, nanti kamu malah ikutan pingsan lagi." ajak Frida memegang lenganku dan kami keluar menuju kantin.
Pandanganku masih tertuju pada anak kecil itu.
Ruang Produksi yang tadinya tenang tiba-tiba riuh gaduh seperti pasar saja. Suara teriakan dan histeris terdengar dari sebagian karyawan borongan. Suara teriak kepanikan mengalahkan suara-suara mesin yang ada dalam ruangan itu.
Aku liat dari kejauhan dua bocah itu masih di sana, bersembunyi di bawah meja sortiran panjang yang terbuat dari stainless, dengan wajah cemas dan ketakutan. Aku masih menatap kearahnya saat Frida menarik ku keluar, kemana wanita yang memakai gaun tadi, aku juga gak melihat kemana perginya laki-laki yang bersamanya tadi.
Aku dan Frida sudah berada di luar ruangan.
Suasana di kantin benar-benar riuh, semua yang kesurupan dibaringkan di sana, sebagian di lantai kantin sebagian di meja, meja-meja panjang itu dijadikan satu.
Suara tangisan, teriakan, bahkan ada beberapa karyawan yang kesurupan yang berusaha kabur mencoba lari ke laut dan coba di tahan oleh beberapa karyawan lainnya. Aku hanya menyaksikan mereka. Aku bahkan tidak bisa mendekat seperti yang lainnya yang membantu mereka.
"Linn, ayo kita keluar, sekalian kita cari makan siang di luar aja." celetuk Frida membuyarkan lamunan ku.
"Lagian kamu gak boleh berada lama-lama di dekat sini nanti kamu bisa ketularan loh, kesurupan seperti yang lainnya."
Frida memang mengetahui kalo aku itu lemah bulu, tapi ya gak mungkin juga kan, aku kesurupan kayak yang lainnya, di kira kesurupan penyakit menular apa.
"Aku baik-baik aja Da, kamu gak perlu khawatir."
Aku terima ajakan Frida dan kemudian mengikutinya, kami keluar dan meninggalkan pabrik, menuju warung makan yang berada tepat di samping pabrik. Sebenarnya bukan hanya kami, tapi ada juga beberapa karyawan lain yang memilih untuk makan siang di luar dari pada di Kantin tentu saja, kan, kantin penuh dengan karyawan yang lagi kesurupan.
Di warung depan pun, sebagian karyawan masih membicarakan masalah kesurupan massal yang sedang berlangsung di Pabrik.
"Mungkin waktu dibangun gedungnya gak diselamatin kali ya, atau ada karyawannya ngelakuin hal-hal yang aneh, biasanya gitu sih kalau sampai ada Kesurupan massal." celetuk salah satu pengunjung yang setahu kami kayaknya bukan salah satu karyawan pabrik, kayaknya dia dari perusahaan lain yang ada di dekat sini juga.
Satu pun dari kami tak ada yang menimpali ucapan laki-laki separuh baya itu, kami hanya mendengarkan.
Usai dari makan siang, aku jauh terasa lebih baik. Karena jujur aku emang sempat panik saat di dalam tadi, aneh aja kok bisa karyawan satu persatu jatuh pingsan dalam hitungan menit. Seumur-umur baru kali ini aku melihat kejadian seperti ini.
Jam makan siang berakhir.
Saat tiba di dalam pabrik ternyata yang pingsan kesurupan masih saja ada, dan terus bertambah, aku bersama beberapa teman kembali berjalan menuju ke arah Kantin dan dari kejauhan, kami melihat beberapa orang yang bukan karyawan sini sedang mencoba mengobati teman-teman kami.
Orang-orang yang mungkin memang paham mengenai kejadian seperti ini, dan mereka memang sengaja dipanggil oleh pihak personalia untuk menangani kejadian itu. Aku juga melihat ada pak RT yang kebetulan ayahnya temanku.
Terlihat mereka semua berusaha menyadarkan teman-teman kami yang masih tidak sadarkan diri alias kesurupan, bukan hanya Kesurupan sebenarnya tapi ada juga yang sampai kerasukan.
Pandanganku tertuju pada seorang wanita setengah tua berkerudung hitam, dia terlihat serius mengobati.
"Linn itu nenek kamu ya? ejek salah satu teman ku si Fandi sambil tertawa lepas."
"Nenek apa! Kamu nih Fan sembarangan aja kalo ngomong, hal kayak gini itu gak boleh kamu jadikan bahan candaan."
"Itu bukan nenek ku, puas!!" jawabku sedikit kesal, Ah! Tapi kenapa juga aku ladeni dia. Fandi malah tetap tersenyum dan malah menganggap wanita dan kejadian ini hanya sebuah lelucon.
"Dasar si Fandi!"
Aku gak habis pikir, bagaimana dia bisa tertawa begitu sementara teman-teman kami mengalami hal seperti ini. Apa dia pikir semua yang kesurupan itu setingan belaka, bohongan gitu. Ada-ada aja dia.
Frida menuju ke kantin, mencoba membantu teman yang lain, sementara aku, aku menuju loker hingga terdengar pengumuman bahwa semua karyawan dipulangkan hari ini. Frida tidak membiarkan aku ke kantin padahal aku ingin sekali ikut membantu.
•••
Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, karyawan tetap masuk bekerja seperti biasa. Dan kejadian sama terulang lagi satu persatu karyawan kembali jatuh pingsan, ada yang berteriak, ada yang hanya diam aja selayaknya orang pingsan biasa, ada yang menangis ketakutan, ada yang coba melawan ketika ingin diangkat dan di pindahkan keluar pabrik.
Sementara aku, akhirnya aku tumbang, aku nyaris masuk ke dunia mereka. Aku bisa merasakan bagaimana tubuhku jatuh namun kurasa pelan. Aku bahkan tak merasakan sakit sama sekali, saat mendarat di lantai yang dingin.
Suara-suara kepanikan terdengar seperti berdengung di telingaku. jiwaku masih setengah sadar, hanya ragaku yang tidak. Aku masih bisa memandang meski semua terlihat samar. Tidak kuingat siapa yang mengangkat tubuhku, karena waktu pingsan semua terlihat buram, bergerak sangat pelan lalu hilang.
Begitu tersadar aku sudah berada di klinik. Suster meminta aku untuk beristirahat dulu, dan akan mengizinkan aku pulang jika aku sudah benar-benar merasa baikan.
"Aku izin pulang aja ya Sus, aku sudah merasa lebih baik kok, aku mau ke kantin juga." ucapku ke suster Ana. Suster cantik ini sudah bertugas disini sejak pabrik ini dibuka.
"Jangan, Linn! Kamu gak boleh ke kantin dulu, di sana masih banyak yang kesurupan. Emangnya kamu mau kesurupan kayak mereka, nggak kan,?!"
"Ya, nggak lah Sus, dikira enak apa kesurupan gitu, udah sakit, eh ... malah jadi tontonan gratis pula."
"Nah, udah tahukan gak enak, jadi di sini aja gak usah ke sana, diam aja di sini." timpal Suster Ana sambil melanjutkan menata obat-obat yang ada dalam almari yang sebagian dia keluarkan untuk di tata ulang.
Aku yang tadi mau mencoba bangun, terpaksa kembali merebahkan tubuhku di kasur yang lumayan empuk, mungkin sebaiknya aku tunggu beberapa menit lagi.
Saat mencoba memejamkan mata kembali.
Terdengar suara itu berbisik, suara yang gak asing di telingaku, suara yang kerap muncul namun sudah jarang aku pedulikan.
"Sudah, nurut aja, gak usah keluar, diam aja di situ." bisik nya pelan.
Dengan bertambahnya usia dan melalui banyak masalah kehidupan yang lain, menyita perhatianku dan membuat aku lebih memilih mengabaikan suara itu, bahkan aku berusaha untuk tak mempercayai bahwa bisikan itu nyata untuk ku. Meski demikian bisikan itu tak pernah meninggalkan aku hingga sekarang.
Tapi, entah mengapa hari ini aku mau saja mendengarkan bisikkan itu.
"Iya aku gak akan keluar." jawabku spontan dengan nada pelan.
Dan dibalas oleh Suster Ana dengan pandangannya yang penuh tanda tanya, ternyata dia dengar apa yang barusan aku ucapkan dia pasti mengira aku sedang berbicara padanya.
Lagi-lagi semua karyawan borongan dipulangkan satu persatu. Termasuk karyawan yang mengalami kejadian itu. Kesurupan massal di pabrik membuat semua pekerjaan jadi terbengkalai. Hanya kepala bagian dan para pengawas yang di minta tinggal.
Sebagian karyawan di minta untuk membereskan pekerjaan teman-teman lain yang masih kesurupan di kantin.
Meski sebenarnya aku masih ingin tinggal, membantu Frida dan yang lainnya karena kami adalah pengawas. Tapi karena di minta pulang ya terpaksa aku pulang.
Pabrik tempat aku bekerja adalah bangunan yang baru di bangun di lahan yang baru juga, awalnya hamparan rumput dan pepohonan luas yang terletak dekat pesisir pantai yang kemudian di sulap menjadi pabrik yang besar.
Begitu mendengar kabar ada pabrik di buka tentu saja aku langsung membuat dan mengirimkan surat lamaran bekerja. Bukan cuma aku beberapa teman dan tetangga juga melamar di tempat yang sama, itu karena pabrik berada tak jauh dari tempat kami tinggal. Kami diterima dan bekerja dengan baik.
Tapi siapa sangka pembukaan pabrik memang diadakan secara ramai tapi tidak di sahkan dengan Memotong binatang ternak, ya memang tidak di haruskan, tapi biasanya hal itu di lakukan untuk menghormati para penghuni sebelumnya, dan sebagai tanda bahwa bangunan itu sudah bisa dipakai, itu sih menurut kebiasaan yang ku dengar di sini, tapi tidak semua sepemikiran itu kan, apa lagi orang-orang yang tidak percaya dengan hal-hal gaib. Buat mereka itu hanya mitos atau hanya 'katanya' saja, tapi itu tidak berlaku jika di tanah Borneo, percaya tak percaya jika yang tak kau percayai itu menghampirimu semua akan berbalik arah dari yang tak percaya akhirnya percaya, syukur-syukur jika tak sampai mengambil nyawa.
Di sini hal yang dianggap mustahil bisa terjadi bahkan bisa membuatmu berkata Wah, kok bisa ya! Tapi, tetap semua kembali ke keyakinan, yakin apa nggak! Gitu sih menurut aku.
Kesurupan Massal bukan cuma membuat perusahaan rugi, tapi juga semua karyawan, khususnya karyawan borongan. Dengan tidak bekerja mereka tidak mendapatkan gaji yang maksimal meski mereka hadir.