Ganing Liam

1818 Kata
"Hai, sudah serapan?" Sapa ku mengagetkan Ganing Liam yang tengah asyik berdiri dekat meja kantin. "Sudah." jawabnya dengan senyum lebar kemudian menundukkan pandangannya karena malu. Dia memang seperti itu suka tersenyum dan suka menunduk karena pemalu, sangat persis seperti yang disampaikan Frida padaku. "Mbak Linn gak serapan?" tanya nya balik sambil menggigit roti yang diambilnya dari etalase kantin. "Hemm ... sejak kapan aku jadi mbak mu?" sahut ku sedikit kesal. "Panggil Linn saja, lebih enak, oke, atau panggil ‘yang’ juga boleh.” candaku sambil tersenyum "Oke Linn!" balasnya tersenyum sambil menyeduh kopi yang diberikan bulek Rus barusan. "Iya, ini baru mau serapan." Aku berjalan ke arah etalase dan mengambil beberapa kue yang di jual di kantin pabrik, lalu kembali kemeja tadi. Kami duduk saling berhadapan. "Mana Frida? Tumben dia gak sama kamu? Biasanya kan, dimana ada kamu pasti ada dia. Bukannya kalian sudah jadian ya." "Jadian??! Maksudnya pacaran? Yaa nggak lah! Siapa yang bilang, kami cuma berteman kok!" Jawabnya mengulum senyum lalu tertunduk. Sepertinya Ganing suka sekali tersenyum, karena sepanjang kami ngobrol dia selalu tersenyum ramah. "Oh gitu ya, aku kira kalian sudah jadian, habisnya kalian suka terlihat selalu bersama." Entah ... kenapa dengar dia bilang nggak, kok, ada rasa bahagia, apa lagi setelah di amat amati lebih dekat ternyata dia emang cakep, bukan cuman fisik tapi Ganing emang anaknya asyik diajak ngobrol. Aku bisa menilai begitu dari obrolan kami selama hampir kurang lebih 30 menit an ... Wah!! Gak terasa cukup lama juga kami ngobrol. "Kayaknya kamu serba bisa ya, seperti kata Frida, kayaknya dia tahu semua deh tentang kamu. Aku jadi pingin tahu apa aja yang kamu bisa tapi dia gak tahu, ada kan?!" Ledekku hingga membuat dia kembali tersenyum tapi kali ini beda, senyum dia cuma dihadapan aku tanpa Frida dan yang lain. Sepanjang obrolan kami tanpa Frida dan yang lain, membuat aku merasa betah ngobrol dengan Ganing, dan ternyata dia gak seka_ku yang diceritain Frida, sesekali kami tertawa lepas dan itu sangat menyenangkan. "Buku baru lagi ya?" Ku lirik komik di sampingnya. "Iya, kenapa, kamu mau pinjam?" "Nggak!! Yang kemarin aja belum aku balikin, masa iya aku pinjam lagi." 'Ya nggak apa-apa, kamu ambil aja, gak usah dibalikin aku banyak kok dirumah." "Serius?!" "Iya serius." Hm .. ternyata dia memang benar-benar baik dan menyenangkan. Sejak obrolan kami pagi itu, entah kenapa ... Kami jadi sering berpapasan dan ngobrol tanpa sengaja, tanpa janjian, tanpa Frida dan yang lainnya. Dan itu hampir menjadi kebiasaan, bahkan biak tiba di pabrik aku bergegas menuju ke kantin hanya untuk mencari kehadiran nya, dan jika tak ada rasa kecewa langsung menyelimuti diri, bukan cuma bikin malas serapan tapi juga jadi malas kerja, malas ngapa-ngapain. Begitu sebaliknya begitu melihat sosok dia ada di kantin lalu tersenyum rasanya luar biasa tak bisa diungkapkan seluruh jiwa bergetar rasanya bahagia banget. Kenapa bisa begitu, aku juga gak ngerti. Seolah- olah semesta sengaja memberi ruang pada kami tanpa yang lain, tanpa ada gangguan dan membiarkan kami saling mengenal dan lebih dekat dan itu benar-benar kejadian, kami berdua jadi tambah dekat. Ganing menceritakan banyak tentang dirinya, dia yang suka mancing, jago masak, pintar main gitar, dan pintar berbahasa inggris, dia juga orangnya royal dan gak pelit. Cewek mana coba yang gak tertarik. Berbeda dengan aku, aku lebih memilih tertutup. Sebenarnya aku ingin ceritakan soal anak kecil itu ke dia. Tapi ... aku ragu takutnya dia menertawakan aku dan kemudian menjauhiku. Sebaiknya aku tak menceritakan soal anak kecil itu pada siapa pun, pada dia juga pada geng ku. ••• Di jam makan siang aku sama sekali nggak ngelihat Frida, biasanya suara dia aja bisa menggema dari locker cewek sampai ke kantin, jika ada dia, dijamin suasana sepi bakal riuh. "Ra! Mana Frida kok aku sekarang jarang liat dia makan siang di kantin." "Sekarang dia suka di Locker cowok, Linn." "Ngapain, dia disana? tanyaku sedikit curiga "Dia lagi pendekatan ama anak Packing," sahut Rara "Iya Linn, itu loh adiknya mbak Hesna." ucap Tuti menimpali. "Oh gitu." "Terus gimana dengan taruhan kita?" "Sudah batalin saja, ngapain sih taruhan. Lagian Ganing Liam itu anaknya baik." "Ehm!! Iya Gan n ning memang baik, siapa bilang dia jahat. Mentang-mentang sudah akrab, udah jadian ya,?" celetuk Rara. "Wah! Makan-makan dong kita" sahut Tuti. Aku yang mendengarkan ucapan mereka cuma bisa senyum-senyum saja. "Iya nanti kita makan-makan. Kan, pakai duit kalian juga." Hehehe canda .... "Ke Taman yuk! ajak ku ke Rara dan Tuti. Siang ini kami memang cuma bertiga karena Wida ijin gak masuk, sementara Frida seperti yang dibilang Rara tadi, dia lagi betah di Locker cowok. Frida memang begitu orangnya, kalau sudah suka sesuatu akan dia kejar sampai dapat. "Ayo." ucap mereka mengiyakan ajakan ku. Sambil bangkit dari tempat duduk dan mengikuti aku menuju taman. Di Taman pemandangannya jauh lebih indah, karena dari taman kita bisa memandang lepas kearah lautan. Bukan cuma itu tamannya juga luas dan ditumbuhi banyak pepohonan yang tinggi dan rindang, jadi membuat suasananya terasa tambah sejuk dan tenang. Gak heran kalo usai makan siang karyawan lain memilih tempat ini untuk bersantai termaksud Geng kami. Rara dan Tuti merebahkan tubuhnya di bangku panjang yang terbuat dari batu. Sementara aku, aku lebih senang memandang kearah laut sambil mendengarkan musik melalui headset ku. Sempat terlintas pikiran ku soal kejadian kemarin, siapa anak laki-laki itu. ••• Dalam beberapa minggu ini aku sudah gak pernah lagi melihat penampakan anak laki-laki itu entah kenapa dan itu aku rasakan saat aku akrab dengan Ganing. Kami berdua memang sering bertemu di pabrik meski cuma memandang dari kejauhan atau berpapasan pas keluar masuk kantin, sejak kami jadian dan jadi pacarnya, perhatianku memang lebih banyak tertuju pada pria keturunan Tiongkok itu. Iya beberapa hari lalu dia menyatakan perasaannya, aku sempat gak percaya, dia kan anaknya pemalu ternyata punya keberanian juga menyatakan perasaannya dan ternyata semua itu karena Frida yang membantunya. Tapi! Masa iya itu ada hubungannya dengan ke tidak muncul nya anak kecil itu dengan hubungan kami, tapi baguslah, semoga saja anak kecil itu gak muncul-muncul lagi, jadi aku tidak perlu lagi memikirkannya, karena jujur aku pasti kepikiran setiap yang tak kasat mata itu menampakkan dirinya padaku. Hubunganku dengan Ganing berjalan dengan baik, sementara Frida dan adiknya mbak Hesna, si Ayub anak Packing, ternyata mereka juga udah jadian beberapa hari sebelum kami jadian. "Wah! Kamu menang Linn," teriak Rara. Jadi kami harus setor full gaji kami nih ke kamu!" Ucap Wida dengan nada terdengar lemas. "Sudah, gak usah, kan taruhan nya dibatalin." "Kapan di batalin nya, kenapa?" "Iya dibatalin sejak kamu jatuh hati ke Ayub, dan jarang nemuin kita, kan aku jadi gak lawannya.” Lagian aku perhatikan yang lain juga pada sibuk kan." ucapku ke Frida lagi, sambil memandang yang lainnya, seketika wajah mereka terlihat bahagia dan menyisakan senyum n kecil di ujung bibir mereka dan mengindahkan perkataan ku barusan. "Ya udah, kita buat rencana baru aja, jalan kemana gitu, keluar kota kalau perlu. Kita udah lama kan gak jalan bareng." ucap Frida bersemangat. "Wahh! seru itu, boleh juga ide mu Da!" Tuti terlihat jauh lebih bersemangat begitu mendengar ide Frida untuk liburan ke luar Kota. ••• Hari yang kami tunggu akhirnya tiba, rencana weekend bareng udah tinggal nunggu hitungan jam, Aku, Frida bersama pasangan kami, Tuti, Rara dan juga Wida sudah ada di terminal. Kami menanti Bus yang menuju ke kota yang akan kami kunjungi. Museum di tengah kota adalah tujuan kami, begitu tiba di sana tentu saja kami lega karena perjalanan cukup lama kurang lebih 3 jam duduk dalam Bus, aku dan Frida sih gak merasa bosan karena ada Ganing dan Ayub yang menemani kami, sementara yang lain, mereka pasti bosan banget. Tempat yang kami tuju adalah salah satu kota yang menarik karena ada sungai sepanjang jalan terlihat. Iya benaran indah dan menarik tapi ada yang aneh karena sepanjang menyusuri jalan ada bisikan yang selalu memintaku untuk masuk ke dalam sungai. Aku berusaha mengabaikannya dengan menimpali obrolan teman-teman tanpa memperdulikan bisikkan yang terus terdengar di telingaku. Akhirnya kami sampai juga di tempat yang kami tuju. Setelah menebus beberapa tiket masuk, kami masuk ke dalam, mengamati satu persatu benda-benda bersejarah di Museum ini, hampir semua ruangan yang ada di dalam kami datangi, dari tempat tidur, alat musik, senjata-senjata yang dipakai pada zaman itu, seperti keris, tombak, dan lain-lain, hingga singgah sananya pun terpampang indah. Kami terus menyusuri ruang tiap ruang hingga terhenti di sebuah manekin sepasang kekasih menggunakan pakaian adat. "Linn, aku lupa," sahut Frida tiba-tiba seperti ingin mengatakan sesuatu setelah melihat manekin itu. "Ya da apa, kamu lupa apa?" tanyaku penasaran. "Aku pernah dengar, katanya kalo sepasang kekasih itu, gak boleh datang ke tempat-tempat seperti ini, katanya pasangan itu gak akan langgeng alias putus di tengah jalan, gitu Linn." "Kamu tuh aneh, udah tahu kayak gitu, terus kenapa kamu saranin buat ajak Ganing dan Ayub. Lagian dengar ya, aku gak percaya yang begituan. Kalo nanti putus, yaitu karena emang udah gak cocok. Terus pikir aja, apa hubungannya Museum ini dengan sepasang kekasih dimana kutukannya coba?" jelas ku panjang lebar ke Frida, biar dia paham jangan hanya selalu mendengar 'katanya' tanpa bukti. Frida hanya diam begitu mendengar ucapan ku barusan "Sudah gak usah dipikirin, entar putus benaran loh!” ledekku sembari menarik lengannya. Bukan cuma dalam Museum yang kami jelajahi tapi disekitaran Museum juga, banyak warga sekitar yang menjajakan beraneka ragam jualannya dari pernak pernik gelang, kalung, pakaian, hingga makanan berat. Liburan kali benar-benar menyenangkan apalagi bisa liburan bareng Ganing Liam. Kesenangan yang harus segera diakhiri karena aku dan yang lain harus segera ke terminal Bus untuk pulang. Lumayan lelah untung saja aku dan yang lain tadi sempat ganti baju jadi tidak perlu khawatir dengan aroma yang tidak menyenangkan karena jalan seharian. Lamunanku sempat terganggu saat tangan Ganing menarik kepalaku pelan agar aku menyenderkan kepalaku ke bahunya. Wahh …gak sangka ternyata dia romantis juga, kali ini aku biarkan saja, mungkin karena tiba-tiba rasa kantuk menyerang ku. “Linn … Linn … bangun.” teriak Frida namun pelan. Ku buka mataku, karena suara panggilan dan sentuhan tangannya membuatku segera sadar,. “Sudah sampai yaa, kok cepat banget Da?” tanyaku sambil menutup mulutku karena menguap. “Belum Linn … itu ban bus nya bocor, makanya berhenti. Kemana Ganing, kok dia dan Ayub gak ada, apa mereka berdua turun ke bawah. “Kamu lagi nyari Ganing ya? Itu dia dibawah lagi ngobrol sama Ayub dan beberapa penumpang Pria yang lainnya. Duh!! Mana kebelet pipis lagi, Da temani aku ayok!” rengek ku ku ke Frida sambil menarik lengannya untuk segera turun. Frida hanya menurut saja tanpa bisa menolak sedikit pun. Kami berdua bergegas turun. Dari jarak kurang lebih tiga meter Ganing terlihat asyik ngobrol seperti yang Frida bilang tadi. Aku sengaja mendekati pria yang berdiri menghadapi badan Bus, menanyakan dimana aku bisa buang air kecil. Tanpa berkata apa pun pria itu mengarahkan telunjuknya ke arah kedai di ujung dekat batu besar tampak seperti tugu. “makasih yaa pak,” ucapku sambil berlalu dan mempercepat langkahku untuk segera sampai di toilet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN