Keesokan harinya, di jam makan siang. Ku lihat Frida sedang asyik duduk berdua dengan Gan Ing Liam. Informasi yang kudapat dari geng kami, Frida sering nyamperin si anak baru itu, entah itu di unitnya, di kantin atau di loker pria.
Hm ... kalo kayak gini, kami benaran bakal setor gaji kami bulan depan nih, ke dia
"Linn, sini!!" teriak Frida.
Aku yang tadi ingin ke locker terpaksa membelokkan langkahku dan menuju ke arah mereka.
"Ya Da!"
"Sini, duduk! kenalin, ini Ganing."
Cowok yang sedang memegang komik itu tersenyum manis, sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
"Ganing"
"Linn"
Kami saling berjabat tangan, Terlihat sekali kalau dia memang sangat pemalu, sama seperti yang Frida jelaskan kemarin.
"Suka baca komik juga ya?" tanyaku memecah suasana yang sedikit canggung.
"Iya, dia suka komik, dia juga jago main gitar loh Linn, seperti kamu," jawab Frida, yang mestinya di jawab oleh Ganing bukannya dia.
"Wah! Bisa nih kapan-kapan aku pinjam komiknya, soalnya aku juga suka baca komik, apalagi komik yang kamu baca itu." timpal ku
"Oh kamu suka baca juga ya, ini kamu pinjam aja, kebetulan aku juga sudah selesai." balasnya sambil menyodorkan buku komiknya ke arah ku.
"Benaran nih!!"
"Iya, benaran bawa aja."
Tentu saja dengan senang hati aku sambut.
"Wah, makasih ya," sahut ku dengan senyum penuh bahagia.
Ternyata anak baru ini meski pemalu, tapi dia ramah, baru kenal saja, sudah kasih pinjam komiknya. Baik banget kan! Hehehe ....
"Ya sudah Da, Gan aku tinggal dulu ya, soalnya aku mau ke belakang, makasih ya komiknya, entar kalau udah selesai baca aku balikin okey."
Aku tersenyum sambil berlalu meninggalkan mereka berdua yang tengah asyik menikmati kopi bu lek kantin.
Selesai menghabiskan serapan ku, aku menuju ke locker ....
Dari kejauhan aku lihat lagi anak laki-laki yang kemarin di Kantin. Dia berdiri di tengah rolling door (pintu tarik). Pintu yang biasa kami lalui saat masuk menuju ke ruang proses.
Aku lihat dia membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam, tentu saja rasa penasaranku muncul, aku berlari kecil menuju ke arah pintu, untuk menyusulnya.
"Linn! Mau kemana?" teriak mbak Tis, dia adalah salah satu Sekuriti cewek di pabrik ini.
"Ke toilet dalam mbak, sebentar aja, ada barang ku yang ketinggalan tadi," ucapku berbohong sambil berlari masuk ke dalam, meninggalkannya.
"Jangan lama-lama ya," teriak mbak Tis.
Mesti tegas dibalik tegasnya Mbak Tis adalah Sekuriti cewek yang super baik.
Aku sudah ada di dalam, jejeran cermin wastafel pencucian tangan membuat aku jadi terlihat banyak. Kemana anak itu, apa dia masuk ke toilet. Ruangan khusus pencucian tangan dan toilet ini cukup luas.
Baru saja mau membuka pintu yang menuju ke arah toilet, suara langkah pijakan di air terdengar jelas. Suara itu menuju ke arah ruang Produksi, karena untuk menuju kesana harus melalui ruangan pencucian kaki.
Aku bergegas ke arah suara itu, Ku lihat anak itu berjalan, melepas tirai plastik yang menjadi sekat antara ruang pencucian kaki satu dengan yang lain. Aku berusaha menyusulnya, bunyi percikan air dari sepatu bot ku terdengar lebih nyaring, mengalahkan suara mesin produksi. Aku terus mengikutinya hingga sampai di ruang produksi. Kemana anak itu, aku melangkah pelan, ruangan ini benar-benar sepi dan ....
"Hi ... hi ... hii"
Suara cekikikan anak kecil itu terdengar lagi, sekarang suaranya menuju ke ruang penyimpanan material (cold storage). Aku harus melewati banyak meja untuk menuju kesana, terdengar jelas suara pintu ditutup, gemericik air jatuh dari beberapa pipa besi keran yang tidak tertutup rapat. Di keheningan begini suara apa pun bisa sangat terdengar nyaring dan menyeramkan, aku bergegas dan mempercepat langkahku, setibanya di depan pintu, perlahan ku buka dan melangkah masuk.
Pintu cold storage auto tertutup dengan sendirinya saat aku masuk dan melepas gagangnya.
"Halo, Dek! Kamu dimana?
"Ayo, keluar! Ngapain kamu di sini, di sini dingin tahu!" teriak ku sambil melipat satu lenganku dan mengusap-usapnya karena hawa sejuk di ruangan ini mulai masuk menembus kulit lenganku.
Aku harus melangkah pelan karena lantainya sedikit licin, aku maju menuju dari satu box ke satu box besar lainnya
Suara yang tadi tertawa berubah jadi suara tangisan kecil yang teredam, dan itu berasal dari peti besar di hadapanku.
Segera aku cari basket (keranjang) yang biasa di gunakan untuk diisi material, kulihat di ujung pintu ada beberapa, aku coba angkat dan ku balik lalu aku susun untuk bisa ku jadikan pijakan agar bisa naik ke atas. Perlahan Ku buka penutup peti yang lumayan berat
Dan nyaris ku lepas, karena kaget saat melihat anak itu terbaring dengan wajah pucat sambil menggigil kedinginan. Matanya menatap tajam kearah ku. Segera ku sandarkan pintu peti itu.
"Dek, ayo bangun, kamu bisa mati kedinginan nanti." pintaku
Aku mulai panik, ku coba ulurkan tanganku.
Rupanya keranjang, buat aku berpijak tadi masih kurang tinggi, aku sudah menunduk cukup dalam untuk meraih tangannya.
"Ayo dek sedikit lagi! Raih tangan kakak ya."
Aku berusaha lebih tunduk lagi, kurasakan jari-jari kakiku sudah menekuk ke dalam tapi kerasnya sepatu bot membuat aku sedikit kesulitan dan ....
"Brukk!!"
Aku terjatuh masuk ke dalam peti, penutup peti yang tadi ku sandarkan juga ikut terjatuh hingga menutup kembali rapat peti itu.
Kami terjebak berdua di dalam.
Aku coba bangun, ku dorong pintu itu, cahaya dari luar menyilaukan penglihatan ku. Ku cari anak kecil tadi, ternyata dia sudah ada didepan pintu dan mengulurkan tangannya kearah ku.
"Ayo kak!" Aku raih tangannya.
"Ini di mana?" gumamku sambil menengok ke sekeliling, jelas ini bukan di tempat aku bekerja tadi, bukan di pabrik!"
"Nggak usah bingung kak! Ini tempat yang sama kok, cuma beda sedikit."
"Maksudnya beda?"
"Ayo kak!"
Dia menarik tanganku dan tidak mempedulikan pertanyaan ku barusan. Dia mau mengajak aku kemana?!!
"Linn .. Linn!! Ayo bangun!"
Suara seorang perempuan mengagetkan aku, rupanya itu suara mbak Tis.
"Ayo bangun, waktunya kembali kerja, liat yang lain sudah pada di dalam, kamu malah masih tidur."
Rupanya aku ketiduran di locker, dan benar di ruangan ini cuman tinggal kami berdua.
"Iya, mbak Tis." sahutku sambil memakai baju seragamku dan berlalu meninggalkan mbak Tis yang melanjutkan patrolinya, mengecek apakah masih ada karyawan yang belum masuk ke dalam atau tidak.
Sepanjang langkahku menuju ke dalam, pikiranku kembali ke anak kecil tadi. Apa iya aku tadi bermimpi, tapi rasanya seperti nyata. Aku pasang kelengkapan bekerja ku , masker, topi, dan yang lainnya, di depan cermin ku cek kembali apa semuanya sudah benar.
Aku melangkah menuju ke dalam produksi, aku perhatikan semua karyawan yang sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk memulai pekerjaan. Ku lihat Igus berjalan menuju Cold Storage, aku bergegas menyusulnya. Igus adalah salah satu karyawan dari unit yang sama denganku.
"Gus!! Tunggu, kamu mau mengambil barang ya, aku ikut ya, aku mau liat materialnya masih banyak apa nggak."
"Ayo!!" ajaknya
Aku berjalan di belakangnya dan kami memasuki Cold Storage. Igus mengambil basket dan menumpuknya, lalu kemudian menaiki basket itu.
Itu biasa mereka lakukan kalo muatan material menggunakan peti fiber yang tinggi dan besar.
"Woii!! Kok melamun, ayo naik!" teriak Igus membuyarkan lamunanku.
Ku pandangi Igus sesaat, tiba-tiba ada rasa takut untuk Aku melangkahkan kaki naik ke atas.
"Ayo, cepat, tunggu apa lagi?" teriaknya pelan.
"iya ... Iyaa ...."
Ku ulurkan tanganku supaya dia membantuku untuk naik. Igus sudah membuka peti besar itu. Aku segera melihat ke dalam.
"Ternyata kosong." ucapku pelan.
"Kosong apanya, material setengah peti gitu, kok kamu bilang kosong" sela Igus mendengar perkataan ku barusan.
Ku cek sekali lagi untuk memastikan apa anak kecil itu benar-benar gak ada di dalam peti. Ku tundukkan kepalaku masuk ke dalam peti, tapi yang ada memang cuma material produksi.
"Sudah sana, kerja! kan sudah liat, entar ada Mas Rum loh!" ucapnya membuyarkan pikiranku tentang anak kecil itu.
Segera ku loncat dan keluar meninggal kan dia dan kembali kemeja ku, sebelum Mas Rum, kepala bagian kami benar-benar datang dan memarahi kami berdua.
Pikiranku masih dipenuhi seputar apa yang aku alami, siapa anak kecil itu, apa yang dia maksud sama aja namun sedikit berbeda. Tempat apa yang kami kunjungi tadi.
Aku hanya terus bertanya atau semua ini hanya sekedar mimpi.