Raka Sayang Mama

1105 Kata
Setelah apa yang Raka dengar dari ayahnya, dia memilih untuk menemani ibunya dan mencari waktu untuk bisa bicara berdua dengan ibunya. Mereka yang sedang berada di rumah mereka sendiri membuat Raka semakin leluasa menghabiskan waktu bersama dengan ibunya. Terlebih saat Farin ingin membuat sesuatu yang ingin dia makan. Raka membantu Farin mengaduk adonan kue yang sedang ingin dibuat oleh wanita yang melahirkannya itu. Farin memberikan banyak instruksi untuk mempermudah dirinya membantu. Raka dengan cekatan membantu ibunya, dia memang tidak pernah malu untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Farin dengan berbagai perbuatannya. “Ma, setelah ini apa yang dimasukkan?” tanya Raka pada ibunya yang sedang menyiapkan banyak hal yang lain. “Bentar, Kak. Aduk aja dulu biar nanti jadinya tetap lembut. Mama masih siapkan loyangnya,” Farin menjawab pertanyaan anaknya dan menyiapkan semua yang sedang mereka butuhkan. Raka melakukan apa yang diminta ibunya dengan baik. Tidak ada yang Raka lewatkan dari apa yang ibunya minta. Farin pun dengan sabar melakukan dan meminta bantuan Raka saat dia merasa tidak bisa melakukannya sendiri. Cukup lama Raka menemani ibunya membuat kue yang sedang diinginkan oleh wanita itu. Raka pun menuruti permintaan wanita itu saat meminta untuk memesankan ojek online untuk mengantarkan kue tersebut ke kantor ayahnya. Raka pun menghubungi ayahnya sendiri dan mengatakan jika Farin mengirimkan kue untuk pria itu makan saat senggang. “Ojeknya sudah jalan, Kak?’ tanya Farin saat turun kembali setelah mengganti bajunya yang kotor karena tepung dan lain sebagainya. “Sudah, Ma. Baru aja, aku juga sudah kasih tahu Papa, biar Papa enggak kaget waktu terima kuenya. Ada yang perlu aku lakukan lagi enggak, Ma?” tanya Raka pada ibunya. “Enggak ada, Kak. Kamu bisa istirahat aja dulu kalau capek. Adik soalnya mau main sama Tante Hana, nanti pulangnya diantar Tante Hana,” kata Farin memberitahu anaknya untuk bisa membebaskan dirinya dan beristirahat. “Aku mau ngobrol sama Mama. Lama aku enggak ngobrol berdua sama Mama. Boleh ‘kan, Ma?” tanya Raka pada ibunya yang duduk tidak jauh darinya. “Kakak ada masalah?” balas Farin yang melihat anaknya. “Enggak sih, Ma. Aku cuma mau bicara sama Mama aja, kangen curhat sama Mama berdua kaya gini. Mumpung enggak ada Papa sama kembar yang kadang ganggu, Ma.” Raka tersenyum dengan manis mencoba merayu ibunya. “Boleh. Ya sudah, Kakak mulai aja ceritanya, Mama pasti dengarkan Kakak kok.” Farin membalas senyuman tulus anaknya yang sedang melihat ke arahnya. Raka mengawali ceritanya dengan cerita kedekatan dirinya dengan teman-temannya. Cerita yang pasti sudah pernah didengar oleh Farin sepanjang dirinya bersekolah di sekolahnya. Cerita yang bukan lagi hal menakjubkan dan rahasia untuk Raka, tapi itu dia pilih untuk intro dari ceritanya. “Lalu, Kakak mau apa? Ini cerita yang sering Kakak ulang, kalau Kakak sedang bangga sama teman-teman Kakak. Kakak merasa ada yang aneh sama Mama?” tanya Farin pada anaknya yang ingin tahu tentang rencana anaknya. “Kemarin saat Papa kasih pilihan, Mama lihat aku dengan wajah yang enggak bisa aku jabarkan. Aku merasa Mama akan melarang aku atau lebih ke berharap Papa larang aku, apa aku benar, Ma?” balas Raka. “Kakak merasa kaya gitu?” balas Farin. “Ih, Mama. Aku dulu yang tanya, kenapa malah kasih aku pertanyaan lain.” Raka mengeluh mendengar ibunya membalasnya dengan pertanyaan lain. Farin meminta maaf dan menjawab pertanyaan Raka dengan jujur. Dia jujur mengatakan bahwa dirinya memang sedikit tidak ingin anaknya pergi sendiri berlibur dengan teman-temannya. Bukan masalah dirinya ingin membatasi pertemanan anaknya, tapi rasa was-was membuat Farin ingin melarang anaknya itu pergi sendiri. “Aku tahu kok rasa khawatir Mama. Aku enggak marah sama itu, karena buat aku itu bukti rasa sayang Mama sama aku yang terlalu tulus. Mama mau aku tetap menjadi anak baik dan enggak banyak tingkah. Aku tahu, aku juga enggak pernah berharap menjadi anak nakal, Ma. Kalau itu hanya sekadar bolos sekolah atau skip tugas, aku enggak masalah, Ma. Tapi, kalau buat yang lain kaya minum minuman keras, bahkan sampai konsumsi obat terlarang, aku enggak akan kaya gitu, Ma. Aku akan jaga diriku sendiri,” jelas Raka. “Kak, Kakak berteman dengan Welly dan yang lain memang sudah lama, tapi apa Kakak yakin sudah mengenal mereka dengan baik. Enggak jarang manusia memiliki banyak topeng yang digunakan untuk mencari teman dan yang lain, Kak. Mama hanya merasa takut Kakak terjerumus hal yang enggak Mama sama Papa mau, Kak. Susah untuk kembali, kalau Kakak sudah terjerumus, Kak. Semua enggak akan sama saat kita kembali,” kata Farin memberitahu. “Aku tahu, Ma. Papa juga sudah pernah kasih nasihat aku banyak sekali tentang pergaulan bebas. Papa juga kasih aku contoh yang banyak dari kehidupan yang pernah Papa dan Mama jalani. Aku enggak mau membuat temanku sengsara kaya teman Mama yang membuat Mama merasa sendiri. Aku enggak mau menjadi seperti Papa yang dipermainkan wanita, aku enggak mau, Ma. Karena itu, aku tetap ingin menjadi anak Mama yang tetap berada di bawah pengawasan Mama sama Papa. Cuma, bolehkan sekali saja aku menjadi lebih bebas bersama teman-teman sebayaku? Aku janji tetap akan menjaga diriku, Ma.” Raka menjelaskan maksudnya. “Kamu mau izin dari Mama juga?” tanya Farin. “Iya, karena ridho Allah ada sama ridho orang tua. Papa sudah izinkan, enggak adil kalau Mama belum kasih izin juga,” kata Raka. “Mama kasih izin Kakak, tapi janji jangan pernah lalai sama janji Kakak sendiri. Kakak harus bisa jaga diri. Apa yang sudah Papa ajarkan ke kamu itu diterapkan, jangan cuma dijadikan ilmu yang enggak akan kamu pakai nantinya, Kak. Mengerti?” Farin menatap anaknya yang sungguh berharap mendapatkan izin darinya. “Iya, Ma. Terima kasih sudah kasih izin aku buat hangout sama anak-anak lain. Aku enggak akan mengecewakan Mama. Aku akan jaga diri, karena aku sayang sama Mama.” Raka mendekati ibunya dan memeluk erat tubuh wanita yang melahirkannya itu. Farin membalas pelukan anaknya dan tidak pernah lupa dia selalu mengusap lembut punggung tegap anaknya. Semakin dewasa Raka, anak itu semakin mirip dengan ayahnya. Emosinya yang terkontrol dengan baik membuat Raka semakin terlihat dewasa. Farin dan Arlan tidak pernah meminta Raka untuk belajar menjadi dewasa, tapi naluri pria itu semakin menjadikan dirinya lebih dewasa. Farin sungguh bangga dengan cara Raka menyelesaikan masalah. Tidak ada urat yang keluar selama mengobrol dengan dirinya atau Arlan untuk menyelesaikan masalah. Jangankan urat, nada bicaranya pun selalu stabil dan tidak menunjukkan gejolak emosi sama sekali. Raka sungguh membanggakan untuk Farin dan Arlan. Namun, terkadang dia jauh lebih manja dari Icam dan Ana saat jatuh sakit. Farin harus siap sedia mendekap anak-anaknya, jika mereka jatuh sakit. Raka pun jarang sekali bisa lepas dari dirinya saat jatuh sakit. Hal itu justru membuat dirinya merasa penting sebagai ibu. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN