Setiap manusia sudah pasti ingin apa yang mereka rencanakan itu berjalan dengan sesuai rencana. Sama seperti Raka dan teman-temannya yang berharap acaranya berjalan lancar. Kini Raka sudah berkemas dan menyiapka semua yang sekiranya dia butuhkan di tempat dirinya menginap. Mereka memilih untuk camping di area terbuka dengan pemandangan pantai yang memukau.
Baik Farin atau Arlan masih belum tahu, jika Raka sudah mulai berkemas untuk acara besok. Mereka justru asyik menemani kembar bermain di ruang bermain. Raka sibuk sendiri mencari barang-barangnya hingga dirinya angkat tangan karena tidak menemukan beberapa barangnya.
"Mama," panggil Raka yang berada di pintu ruang bermain adiknya.
"Kenapa, Kak?" Arlan yang sedang bersama istrinya malah menyahuti panggilan Raka dan Farin menoleh menunggu anak sulungnya itu kembali membuka suaranya.
"Bisa tolong bantu aku beres-beres barang buat besok, Ma?" tanya Raka pada ibunya.
"Besok? Mau ke mana? Ada apa memangnya, Kak?" balas Farin yang bingung dengan rencana anaknya.
"Yang acara waktu itu loh, Ma. Yang mau liburan sama anak-anak." Raka menjelaskan sedikit untuk membuat ibunya ingat.
"Oalah, jadi toh, Kak. Papa kira enggak jadi, kamu diam-diam aja." Arlan menyahuti anaknya kembali.
"Tolong ya, Ma. Boleh?" pinta Raka penuh harap.
Farin berdiri dan meninggalkan anak kembarnya untuk membantu Raka menata semua barang yang sekiranya akan dibutuhkan di tempat dirinya menginap. Farin melihat kamar Raka yang seolah baru saja terjadi gempa lokal yang membuat kamar itu berantakan. Raka meminta maaf karena memberantakkan kamarnya sendiri dan Farin hanya mengangguk.
"Bermalamnya di mana?" tanya Farin yang mulai menata baju-baju yang sudah Raka sediakan.
"Di pantai, Ma. Bakar-bakar 'kan seru kalau di area terbuka kaya gitu, Ma." Raka tersenyum menceritakan sedikit tentang rencana liburannya dengan teman-temannya.
Farin hanya diam mendengarkan, masih terlihat wajahnya sedikit tidak ikhlas anaknya pergi sendiri. Raka masih belum menyadari wajah ibunya yang sedikit berubah menjadi datar. Raka malah semangat mengatakan apa yang ingin dia lakukan di sana. Farin hanya berdeham sembari menata barang anaknya.
“Mama masih enggak mau aku liburan sendiri ya, Ma?” tanya Raka yang melihat wajah ibunya yang terlalu datar dengan apa yang dia ceritakan.
“Enggak juga, Mama cuma mau dengar Kakak aja. Ini sudah semua? Jaketnya jangan lupa, Kak. Di alam bebas pasti dingin banget, Kak.” Farin mengalihkan pembicaraan.
Raka memeluk ibunya dengan erat membuat Farin terdiam karena pelukan anaknya yang cukup erat saat ini. Dia tahu bahwa anaknya sangat menyayanginya, tapi membiarkan anaknya yang bahkan belum pernah pergi sendiri bersama dengan teman-temannya membuat Farin sangat mengkhawatirkannya, meski dirinya sudah mencoba untuk mengalihkan pikirannya dan mengizinkan anaknya.
Raka mengatakan banyak hal yang membuat Farin tenang dan mencoba kembali percaya pada anaknya. Suara Ana dan Icam membuat Raka melepaskan pelukannya pada ibunya. Kedua bocah itu langsung memeluk Raka dengan erat dan menahan tangis. Raka menoleh ke ibunya yang terlihat juga bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
“Kakak enggak boleh pergi!” Ana mengerucutkan bibirnya dan melihat Raka yang berada di depannya.
“Kakak cuma pergi sebentar, Dik. Kakak cuma ada acara sama teman Kakak. Enggak akan lama-lama kok,” kata Raka yang mulai paham dengan apa yang sedang terjadi dengan dua adiknya.
“Enggak! Itu Kakak bawa tas besar sama baju banyak. Jadi, pasti Kakak enggak sebentar. Itu kaya Kakak ikut Mama ke Aunty Chae Ra.” Ana masih berpegang teguh pada pikirannya dan tidak ingin percaya dengan aa yang kakaknya katakan.
“Kakak cuma liburan sebentar, Dik. Enggak lama. Ini perginya juga dekat, enggak ke korea. Kenapa penuh tasnya? Karena Mama bawakan banyak keperluan Kakak semua. Kalau kamu tahu tempatnya juga enggak jauh-jauh dari sini kok,” ucap Raka yang masih mencoba membuat adiknya percaya.
“Kakak serius?” tanya Icam.
“Jangan percaya Kakak, Mas!” Ana melarang Icam untuk percaya dengan Raka.
“Serius, sangat serius, Cam. Kakak enggak pernah bohong sama kamu atau Ana,” kata Raka mengacungkan tangannya membentuk huruf V.
Arlan dan Farin pun membantu Raka menenangkan kedua adiknya yang masih sedikit tidak percaya dengan Raka. Mereka berdua melihat Raka menghubungi teman-temannya dan menanyakan apa saja yang harus dia bawa selain apa yang sudah ada di list. Ana mengerucut manja saat melihat Raka sungguh berbicara dengan teman-temannya dan merencanakan liburan bersama dengan teman-temannya.
***
Raka duduk di jok belakang bersama dengan dua adiknya yang memaksa untuk ikut mengantarnya ke tempat liburan karena kedua orang tuanya mengantarnya. Ana dan Icam pun duduk berhimpitan dengan Raka karena tidak percaya dengan kakaknya itu. Terlebih Ana yang sedari semalam sangat bawel kepada Raka membuat Raka hanya diam, jika Ana tidak melemparkan pertanyaan padanya.
“Kakak, enggak ada yang perempuan, ‘kan?” tanya Ana pada Raka dengan mendekatkan wajahnya pada kakaknya membuat Raka harus sangat sabar menghadapi adik perempuannya yang selalu cemburu dengan siapa pun yang dekat dengan keluarganya.
“Enggak. Cuma cowok semua, termasuk Welly yang waktu itu ngobrol sama kamu,” jawab Raka dengan sabar.
“Kakak, enggak boleh bohong loh ya,” kata Icam yang ikut memastikan pada Raka.
Arlan yang melihat tingkah anak-anaknya hampir menyemburkan tawanya melihat mereka sangat protektif pada Raka. Arlan tidak pernah mengajarkan hal seperti itu pada kedua anaknya, untuk Raka hanya dia sering mendapat panggilan dari Arlan karena Farin yang tidak bisa dihubungi saja dia tahu ayahnya sangat protektif pada ibunya. Namun, itu tidak membuat Raka serta merta menunjukkannya pada keluarganya.
“Adik kenapa ngomongnya kaya gitu?” tanya Farin yang sedari tadi masih diam mendengar obrolan anak-anaknya.
“Aku enggak suka kalau Kakak sama banyak cewek kaya yang pernah Tante Hana lihat di TV,” jawab Ana pada ibunya.
“Enggak, Kakak enggak kaya gitu kok. Percaya deh sama Mama. Sekarang kalian duduk yang baik. Papa lagi fokus setir itu,” Farin melihat dua anaknya yang mulai memposisikan duduk yang benar di samping Raka.
Sesampainya di tempat, Raka turun dan menyapa teman-temannya. Raka yang akan mengambil barangnya, malah menjadi tempat Ana bersembunyi dari banyaknya cowok yang ada di depannya dan terlihat terpukau dengan dirinya yang imut. Ana memegang erat tangan Raka dan berdiri di belakang tubuh Raka.
“Ma, Ana nih. Aku mau ambil barang,” kata Raka mengadu pada ibunya. Raka melihat teman-temannya yang tersenyum mencoba mencari celah untuk menggoda Ana. “Jangan digoda adikku!” keluh Raka.
“Lah, Kakaknya posesif.” Andra menyahuti Raka yang sedang mencoba membujuk Ana untuk melepaskannya.
Karena Ana yang tidak ingin melepaskan Raka, dia pun langsung mengajak Ana untuk mengambil barang-barangnya yang masih ada di mobil. Raka menggenggam tangan adiknya dan mengambil barangnya di bagasi mobil. Ana memeluk kakaknya saat pamit untuk pulang.
Arlan mengingatkan anaknya untuk tidak melakukan hal yang mengkhawatirkan. Raka juga sudah berjanji akan menghubungi ibunya dan mengabarkan tentang dirinya. Farin tidak banyak bicara dan segera masuk ke mobil saat Arlan mengajak untuk pulang. Ana dan Icam melambaikan tangannya dari kaca jendela.
Saat malam mulai menyapa, Raka masih duduk di depan tenda setelah dia melakukan salat sebelumnya. Malam ini tidak akan banyak acara yang akan dia lakukan bersama dengan teman-temannya. Dia hanya ingin menikmati hembusan angin malam yang sedang beradu dengan suara ombak yang bergulung.
“Ka, adikmu cantik banget. Boleh enggak besok kalau besar jadi punyaku?” tanya Andra yang duduk di samping Raka,
“Enggak!” Raka langsung menolak dengan tegas apa yang diminta oleh sahabatnya.
Andra mencebik bibirnya saat mendengar Raka menolak dirinya dan teman-temannya malah tertawa dengan bahagia. Mereka pun memanaskan air untuk mereka membuat teh dan mi untuk mereka makan. Raka tersenyum melihat teman-temannya yang mengerti dirinya yang harus menghubungi ibunya karena tidak ingin membuat ibunya itu semakin khawatir dengan kepergiannya.
Mereka tertawa bersama dengan menyiapkan permainan yang akan mereka mainkan bersama. Raka melakukan video call dan melihat Ana yang sedang antusias mengobrol dengannya. Raka hanya membalas dengan mendengarkan adiknya berbicara.
“Halo, Adik. Namanya siapa?” tanya Andra yang mengambil HP Raka setelah melihat sahabatnya itu berbicara dengan adiknya.
“Kakak!” Suara teriakan Ana membuat semua yang bersama dengan Raka tertawa melihat Andra ditolak oleh Ana. Raka langsung mengambil kembali HPnya dan meminta maaf pada adiknya yang terlihat mengerucutkan bibirnya dari ujung sana.
“Aku enggak suka sama Kakak! Kakak nakal! Kakak kasih HPnya ke teman Kakak, padahal aku masih cerita sama Kakak!” keluh Ana dari ujung sana.
“Kakak enggak kasih HPnya. Dia yang mau tahu Adik. Sudah, enggak usah ngambek, kalau Kakak pulang kita main sama Kak Lani juga. Okay? Senyum dulu dong, Dik.” Raka meminta maaf pada adiknya sebelum gadis itu semakin marah padanya.
“Sudah. Kakaknya biar sama temannya, Dik. Kamu jangan lama-lama telepon Kakak,” kata Farin yang dapat Raka dengar dengan jelas.
Raka mematikan sambungannya saat Ana meminta untuk diakhiri sebelum Farin kembali memperingatinya. Dia memasukkan HPnya ke saku jaket dan kembali bergabung dengan teman-temannya. Canda tawa terus terdengar hingga larut malam dan mereka memutuskan untuk tidur, karena rasa kantuk.
Bersambung …