Satu hari sudah dilewati dengan bahagia oleh lima anak cowok yang sedang berada di pinggir pantai ini. Raka melakukan hal yang menjadi kewajiban untuknya, memberi kabar untuk keluarganya. Raka tidak ingin Farin menganggapnya buruk karena melanggar janjinya sendiri. Dia juga tidak ingin itu menjadi alasan orang tuanya menjadi banyak melarang karena janjinya yang tidak bisa dia tepati.
Setelah menghubungi keluarganya, Raka ikut bergabung kembali dengan teman-temannya dan melihat dua temannya yang lain membawa sebotol aqua besar air yang terlihat keruh. Raka mengerutkan keningnya melihat dua temannya itu. Ada rasa janggal dari apa yang terjadi.
“Ini acaranya bakal barbekyu aja, ‘kan?” tanya Raka pada Welly.
“Iya. Setahuku seperti itu.” Welly mengatakannya dan Raka mengangguk sebelum membantu Welly menyiapkan daging untuk mereka makan bersama.
Andra terlihat menata meja bersama dengan dua teman Raka yang lain. Dalam hati Raka berharap apa yang ada di kepalanya tidak akan pernah terjadi. Karena dia sangat sadar tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa dengan apa yang dia lakukan.
Saat daging sudah siap, Raka dan Welly ikut bergabung ke meja makan. Keduanya terlihat bingung dengan keberadaan botol aqua yang ada di meja makan. Welly mengangkatnya dan menelisik apa yang ada di dalam botol itu.
“Ini bukan air mineral, ini apa? Kenapa ada di sini?” tanya Welly pada teman-temannya.
“Memang bukan. Itu bir, aku dikasih sama orang yang bantu kita izin buat acara di sini. Kita ‘kan bilangnya sudah cukup umur, cuma belum urus KTP. Orangnya percaya aja enggak minta KK, ya sudah kita dapat service ini.” Farhan, salah satu teman Raka mengatakannya.
“Cukup umur apanya? Kita masih mau enam belas tahun, Bodoh!” Welly terpancing emosi mendengar pengakuan Farhan yang membuat terkejut.
Raka tidak banyak bicara hanya mencoba melerai Welly dan Farhan yang mulai emosi. Raka menarik Welly saat sahabatnya itu mulai marah-marah. Dia membawa Welly untuk menjauh dari tiga temannya yang lain. Welly menghela napas berat dengan seluruh emosinya.
“Wel, sabar dong. Enggak usah emosi kaya gitu. Kalau kamu enggak mau minum itu, ya sudah, enggak usah kamu minum. Kamu enggak harus marah sama mereka, Wel.” Raka mencoba memberi Welly pengertian untuk tetap menahan amarahnya hingga besok datang dan mereka berpisah.
Welly hanya menganggukkan kepalanya dan mereka kembali ke tempat tersebut. Welly dan Raka sama sekali tidak mencicipi bir yang berada di botol aqua itu. Mereka meminum air mineral mereka sendiri. Mereka segera tidur setelah melihat teman-temannya semakin mabuk. Raka dan Welly membawa ketiga temannya masuk ke tenda dan tidur.
***
Raka yang pulang setelah dijemput oleh Arlan pun langsung masuk ke rumah dan melihat ibunya yang sedang membereskan meja di ruang keluarga. Dia langsung memeluk ibunya dengan erat membuat Farin sedikit terkejut dengan kedatangan anaknya. Arlan hanya mengerutkan kening melihat anaknya.
“Apa sih, Kak? Kamu baru datang, bersih-bersih dulu baru peluk Mama.” Farin mencoba melepaskan pelukan Raka yang sangat erat lebih dari biasanya.
“Mama, aku mau minta maaf sama Mama.” Raka mengatakan hal yang semakin membuat Farin dan Arlan penasaran mendengar ucapan anaknya.
“Bersih-bersih dulu, baru bicara sama Mama. Adik kamu sudah tunggu kamu, Kak.” Arlan mengatakannya dan membuat Raka pasrah melepaskan pelukannya pada Farin.
Raka melakukan apa yang diminta ayahnya dan segera masuk ke kamarnya. Dia menaruh barang-barangnya ke sofa dan langsung masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Banyak hal yang lewat dalam kepalanya. Dia merasa bersalah karena apa yang terjadi semalam.
Raka tahu dia tidak sepenuhnya salah, tapi dia juga tahu melalaikan perasaan Farin yang terkadang tidak pernah salah membuat rasa bersalahnya meninggi. Helaan napas berat terus Raka keluarkan dengan banyak alasan hingga suara Farin terdengar di depan kamar mandinya.
“Apa, Ma? Kakak masih mandi,” kata Raka mencoba mendengar apa yang diucapkan Farin di depan kamar mandinya dengan jelas.
“Baju kotornya langsung bawa ke bawah ya. Masukkan ke mesin cuci, sekalian Mama mau cuci soalnya,” ujar Farin yang langsung diiyakan oleh Raka dari dalam kamar mandi.
***
Hal yang paling penting untuk keluarga Arlan dan Farin adalah pengakuan. Raka tahu akan hal itu, tapi sejak tadi dia masih belum mengakui apa yang membuat dirinya meminta maaf secara dadakan pada Farin. Arlan dan Farin pun tidak memaksa anaknya, mereka masih bersikap seperti biasa, layaknya tidak ada apa pun yang mengganggu mereka.
Farin menemani Ana tidur di kamarnya sendiri dan Arlan bertugas menemani Icam yang sudah sangat berani tidur sendiri. Setelah kembar tidur dengan lelap, kedua manusia itu masuk ke kamar mereka sendiri. Keduanya berpikir, jika Raka sudah tidur terlebih dahulu karena rasa lelah yang dia emban sedari tadi.
Farin dan Arlan masih berbincang santai di tempat tidur dengan saling mendekap. Mereka memang selalu membicarakan apa pun yang terjadi dalam harinya. Saat salah satu tidak melakukannya, justru mereka akan meminta keesokan harinya.
Ketukan pintu kamar membuat keduanya sempat terdiam dan Arlan turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu kamarnya. Dia melihat anaknya yang berdiri dengan menundukkan kepalanya di depan pintu kamarnya. Arlan menyentikkan jari membuat Raka mendongakkan wajah melihat kearahnya.
“Pa, kenapa?” tanya Farin dari tempat tidur.
“Aku mau ketemu Mama,” kata Raka pada ayahnya.
Arlan membiarkan anaknya masuk dan menemui ibunya. Raka masuk dan segera naik ke tempat tidur untuk memeluk ibunya. Farin masih diam dan tidak banyak bertanya tentang apa yang terjadi pada anaknya. Dia membiarkan Raka memeluk dirinya mencari kenyamanan yang sedang dirinya cari.
“Kamu kenapa, Kak?” tanya Arlan yang menyusul anaknya dan duduk di tepi tempat tidur sembari mengusap kepala anaknya lembut.
“Aku mau minta maaf sama Mama, sama Papa juga. Maaf, Ma, Pa. Maafkan aku,” kata Raka membuat Arlan dan Farin sedikit bingung dengan apa yang dikatakan anaknya.
“Minta maaf karena apa dulu, Kak? Kamu berbuat salah apa sama Mama dan Papa?” tanya Arlan pada anaknya dengan lembut.
“Ma, kemarin Farhan bawa bir waktu kita camping, Ma. Aku merasa bersalah sama Mama, karena aku enggak percaya sama Mama. Aku minta maaf, Ma.” Pengakuan dari Raka membuat Arlan dan Farin terkejut.
Arlan dan Farin terdiam sejenak. Arlan mengatur emosinya mendengar pengakuan anaknya. Farin tergerak membalas pelukan anaknya dengan lembut.
“Kakak merasa bersalah karena Kakak minum apa gimana, Kak?” tanya Arlan pada anaknya.
“Enggak minum, Pa. Aku enggak minum sama sekali. Aku merasa bersalah karena aku enggak percaya sama Mama. Mama pasti selalu ada alasan buat larang aku, tapi aku kekeh buat ikut,” jawab Raka melihat ibunya yang masih terdiam, meski tangan wanita itu masih membalas pelukannya. “Mama enggak mau ngomong sama aku?” lanjut Raka.
“Kak, Mama masih kaget sama pengakuan kamu. Kamu terlalu mengejutkan Mama sama Papa. Ini kamu juga bahasnya malam kaya gini, Kak. Kenapa enggak dari tadi, Kak?” sahut Arlan mencoba mengerti perasaan istrinya yang terkejut.
“Karena aku enggak siap Mama diam kaya gini ke aku, Pa. Aku tahu Mama sama Papa pasti kecewa sama aku. Aku tahu, Pa. Aku minta maaf, Ma, Pa.” Raka kembali memeluk ibunya dengan erat dan tidak ingin melepaskannya.
“Kakak enggak minum, ‘kan? Mama enggak marah sama Kakak, cuma kaget sama apa yang Kakak ceritakan. Kakak enggak minum sungguhan?” tanya Farin yang akhirnya membuka suaranya.
“Enggak, Ma. Aku cuma lihat Andra, Farhan sama Leri minum. Mereka langsung mabuk, aku tahu diri kalau aku belum cukup umur, Ma.” Raka menjelaskan pada ibunya.
“Ya sudah, Kak. Kakak enggak usah sedih kaya gini. Kakak enggak salah kalau kaya gitu. Kakak enggak minum aja, Mama sudah syukur. Kakak ingat Mama sama Papa aja, Mama bangga, Kak. Kakak enggak pernah mengecewakan Mama,” kata Farin menenangkan anaknya yang mulai manja padanya.
“Jangan diamkan aku ya, Ma. Aku mau enggak mau Mama diamkan aku,” kata Raka pada ibunya.
“Enggak ada alasan buat Mama diamkan anak Mama, Kak. Kakak tenang dan istirahat sekarang. Mama enggak akan diamkan Kakak. Janji deh,” kata Farin menenangkan Raka.
“I love you, Ma.” Raka mengecup pipi Farin dengan lembut.
“Eum, love you more, Kak.”
Bersambung …