Setelah penerimaan siswa baru, kini Raka harus mengurus daftar ulang sekolahnya. Dia memilih untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah tempat ibunya dulu melanjutkan sekolah. Banyak hal yang dia pertimbangkan untuk memilih sekolah ini, beruntungnya Raka diterima dengan nilainya sendiri dan tidak merepotkan khalayak ramai.
Ditemani oleh Farin, Raka masuk ke sekolah dan menuju tempat daftar ulang. Dia berjalan bersama dengan ibunya dan tidak pernah merasa malu untuk menggenggam tangan ibunya. Raka melihat Welly yang juga masuk ke sekolah yang sama. Dia tersenyum saat Welly menyapanya.
“Sekolah di sini juga, Wel?” tanya Farin yang masih ramah dengan teman Raka.
“Iya, Tante. Diterima di sini, Alhamdulillah aja, Tan.” Welly menjawab setelah menyalami ibu dari sahabatnya.
“Sudah semua kamu?” tanya Raka pada Welly.
“Sudah, ini sudah tinggal tunggu kain buat seragamnya. Kamu baru datang?” balas Welly.
“Iya. Butuh debat dulu buat Adik aku diam dan mau biarkan aku sama Mama ke sini buat urus daftar ulang dulu,” kata Raka pada sahabatnya.
“Iya sudah, kamu urus aja dulu. Aku duluan ya. Itu Bundaku sudah selesai,” kata Welly yang mulai pamit.
Farin menyapa ibu Welly saat wanita itu menoleh ke arahnya. Raka mengantre untuk mendaftar ulang. Farin menemani anaknya dengan setia. Raka mengikuti prosedur daftar ulang dan memberikan semua yang dibutuhkan pada pihak administrasi.
“Sudah, Kak?” tanya Farin saat anaknya sudah kembali dengan membawa selembar kertas.
“Sudah, Ma. Ini suruh ke kopsis buat bayar sama ambil seragamnya. Nanti juga ada bukunya, tapi katanya bukunya enggak langsung dapat sekarang, Ma. Ada kupon buat ambilnya,” kata Raka menjelaskan apa yang dia dengar dari pihak administrasi.
Raka mengikuti ibunya yang berjalan menuju ke koperasi sekolah untuk melakukan pembayar seperti yang diarahkan. Farin menemani anaknya mengantre kembali di bagian koperasi dan menerima panggilan dari suaminya.
“Kenapa, Pa?” tanya Farin saat mengangkat panggilan dari suaminya.
“Belum selesai, Ma? Adik rewel ini, ngambek terus, Ma.” Arlan menceritakan tentang anak-anaknya.
“Sebentar lagi, Pa. Papa temani dulu lah, jangan ditinggal kerja dulu. Makin ngambek nanti,” kata Farin memberikan solusi untuk Arlan.
“Ya sudah deh, nanti pulangnya hati-hati, Ma. Jangan sampai ngebut ya, Ma.” Arlan mengingatkan istrinya yang hanya diiyakan oleh istrinya.
Farin menemani anaknya yang mulai menyerahkan kertas yang diberikan saat daftar ulang untuk dia membayar tagihan untuk menebus kain seragam dan buku. Farin mengeluarkan uang cash yang dia pegang khusus untuk membayar sekolah Raka. Wanita itu langsung memberikannya pada petugas untuk dihitung kembali.
“Loh, Farin?” sapa seorang pria yang baru saja masuk ke area koperasi membuat Farin menoleh ke arah pria itu.
“Mas Arya? Kamu ngapain di sini?” tanya Farin yang masih perlu menunggu petugas memberikan apa yang anaknya dapatkan dari sekolah.
“Aku ngajar di sini. Aku jadi panitia pendaftaran juga. Ini mau konfirmasi masalah buku. Ini Raka ‘kan?” balas Arya yang baru saja disalami oleh Raka.
“Iya. Aku kira kamu enggak minat jadi guru, Mas. Secara kamu ambilnya kimia murni S1-nya.” Farin menyahuti pria yang sangat akrab dengannya itu.
“Kamu makin jarang ke rumah setelah Papi pergi. Aku suka kangen anak-anak kamu. Anak kamu lucu-lucu sih. Ini aja Raka sudah tiba-tiba SMA,” kata Arya pada Farin.
“Mas Arlan sibuk banget, Raka juga masih sering ikut olimpiade sampai dia mau lulus, Mas. Jadi, jarang banget banyak waktu buat main. Aku aja sering banget dilarang keluar sama Ana, Mas.” Farin menjawab pertanyaan Arya dengan lembut.
“Nanti ikut olimpiade kimia ya, Ka. Om yang bimbing deh,” kata Arya menawarkan pada Raka.
“Masih belum tahu, Om. Nanti kalau minat dan Mama kasih izin, aku mau kok, Om.” Raka membalas tawaran Arya yang sudah mengajaknya untuk mengikuti olimpiade kimia.
“Sudah semua?” tanya Arya melihat Raka membawa kantong plastik.
“Sudah, Om. Kata petugasnya, cuma ini aja.” Raka mengatakan pada Arya apa yang dia dapat.
Farin dan Raka pun pamit pada Arya yang masih ada kegiatan. Farin menolak saat Arya mengajak untuk makan di kantin sekolah itu. Alasan Ana yang sedang merajuk di rumah digunakan Farin untuk menolak ajakan Arya. Bagaimana pun, dia juga tidak bisa membiarkan anaknya lama-lama bersama dengan suaminya yang sudah rela mengambil cuti untuk menemani dua anaknya yang lain. Akhirnya Farin dan Raka pun segera pulang dari daftar ulang setelah semua prosedur dilakukan.
***
Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi hal yang paling sibuk untuk Farin. Ketiga anaknya yang baru saja menjalani liburan sering menghilangkan barang hingga membuatnya harus membantu mencari apa yang dibutuhkan anak-anaknya. Farin berada di kamar Ana untuk membantu anaknya itu mencari pita yang harus dipakai saat upacara.
“Mama, buku yang kemarin Mama sampul enggak ada di kamarku,” kata Icam yang baru saja masuk ke kamar Ana saat Farin mencari pita untuk anak perempuannya.
“Sebentar, Mas. Satu-satu. Minta tolong Papa atau Kakak buat carikan di kamar Mas. Mama taruh di laci meja belajar kamu semua, Mas. Sudah Mama bagi semua,” kata Farin yang sudah menemukan pita Ana.
“Tapi, enggak ada, Mama.” Icam berdiri di samping Ana yang sedang menunggu Farin memasangkan pita ke rambutnya.
“Pa, Papa!” Farin memanggil suaminya yang beruntung sedang mendengarnya. Farin melihat suaminya yang datang dengan boxer dan kaos oblongnya. “Kamu sudah selesai mandi?” tanya Farin melihat suaminya.
“Sudah, baru mau ganti baju, kamu panggil. Kenapa?” tanya Arlan melihat istrinya yang terlihat sangat hectic.
“Bantu Ana pasang pita ya. Aku bantu Icam cari bukunya dulu. Yang rapi ya, Pa. Tolong,” Farin meminta suaminya menggantikan posisinya untuk memasangkan pita ke rambut anaknya. Dia segera pergi ke kamar Icam bersama dengan anaknya setelah suaminya itu mengiyakan apa yang diminta oleh Farin.
“Ini makanya, buku kalau sudah Mama tata, jangan diberantakin lagi, Mas. Ini ada gitu, kok enggak ada bilangnya?” Farin melihat anaknya yang tersenyum tanpa dosa melihatnya.
“Kaos kakinya di mana? Ayo dipakai, Mama mau lihat Kakak sekarang,” kata Farin yang langsung keluar setelah melihat anaknya menemukan kaos kaki yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Farin membuka kamar Raka dan melihat kondisi kamar anak sulungnya yang berantakan. Dia menghela napas panjang melihat Raka yang sibuk mencari sesuatu. Dia berjalan masuk dan mendekati anaknya yang sedang sibuk.
“Kakak cari apa?” tanya Farin pada anaknya.
“Dasi, Ma. Dasi SMPku kok enggak ada ya?” balas Raka pada ibunya.
“Mama taruh di laci lemari. Coba dibuka dulu, biasanya juga Mama taruh situ ‘kan?” Farin dengan sabar mengatakan pada anaknya tentang keberadaan dasi tersebut.
“Aku tadi cari enggak ada, Ma. Adanya kaos kaki aja,” kata Raka pada ibunya.
Farin langsung membuka lemari anaknya dan menarik laci yang dia maksud. Dia mengeluarkan laci tersebut dan melihat dasi itu ada di bagian paling dalam dari laci itu. Farin memberikan pada Raka yang langsung meminta maaf karena merepotkan ibunya. Farin hanya menganggukkan kepalanya.
“Kamu sudah semua, Pa?” tanya Farin pada suaminya yang sudah mulai mengganti bajunya setelah menyelesaikan tugas dari istrinya.
“Kebetulan kamu di sini, tahu jam tanganku yang hitam enggak? Aku cari di laci enggak ada. Apa aku lupa taruh ya?” tanya Arlan pada istrinya.
“Kamu pakai yang lain aja dulu ya. Anak-anak bisa terlambat kalau kamu tunggu cari jam tanga. Mereka pada hectic hari ini. Enggak sesuai prediksi sebelumnya. Untung aku sudah buat sarapan tadi,” kata Farin yang mengambil dasi suaminya untuk dia pasang di leher suaminya.
“Iya deh, bantu carikan ya, Sayang. Tolong.” Arlan meminta tolong pada istrinya yang langsung menganggukkan kepalanya. Dia merangkul pinggang istrinya selama wanita itu memasang dasi di lehernya.
“Mas, jangan bosan tegur aku ya, kalau aku lalai sama tugasku.” Farin mengatakan pada suaminya.
“Kamu enggak pernah lalai, meski kamu sangat sibuk sama anak-anak, kamu enggak pernah lupa buat membantu aku menyiapkan semua yang aku butuhkan. Kalau butuh istirahat, bilang ya. Aku enggak mau kamu jatuh sakit, Sayang.” Arlan mengecup kening istrinya dengan lembut.
Farin menganggukkan kepalanya dan berhambur dalam pelukan suaminya sejenak melepas penat yang datang. Arlan membalas pelukan istrinya dan mengusap lembut punggung istrinya. Dia tidak ingin istrinya terlalu lelah, tapi anak-anaknya juga tidak bisa lepas dari ibunya.
“Terima kasih selalu membantu aku dan anak-anak, Sayang.”
Bersambung …