Kawan Baru

1218 Kata
Setiap manusia selalu melewati masa perkenalan dan perpisahan. Awal masuk ke sekolah ini dan menjalani orientasi, akhirnya Raka sudah mendapatkan kelas yang sudah ditentukan dari pihak sekolah. Raka ditempatkan di kelas IPA-1. Jam pelajaran pertamanya adalah kimia di mana ternyata Arya yang mengajar kelasnya. Raka mendengarkan semua penjelasan tugas dari Arya yang memang dia kenal sejak lama. Dia mengenal Arya saat dirinya masih baru sekolah. Sekarang dia malah menemui Arya sebagai gurunya di sekolah. Raka melihat Arya yang sering memperhatikan dirinya. “Raka, paham atau ada pertanyaan?” tanya Arya pada Raka. “Paham, Pak.” Raka menjawab dengan cepat dan sopan. Setelah jam pelajaran berakhir, Raka dan beberapa teman barunya mulai bergerombol untuk saling mengenal. Siapa sangka Raka harus satu kelas kembali dengan Welly, pria yang sudah dia kenal sejak tiga tahu lalu. Raka tidak perlu kembali mengakrabkan dirinya pada Welly, karena dirinya sudah pasti akan tetap bersama dengan Welly. “Kenalkan aku Reza,” kata seorang cowok yang memperkenalkan dirinya pada Raka. “Oh, iya … aku Raka,” balas Raka mengenalkan dirinya. Mereka segera ke kantin untuk menikmati waktu istirahat mereka. Raka hanya membeli sebungkus snack, karena dirinya sudah membawa bekal dari ibunya. Raka membawa kotak bekalnya dan duduk bersama dengan teman-temannya yang sedang makan. Dia memilih untuk memakan bekalnya bersama dengan teman-temannya. “Enggak pernah berubah ya, Ka. Selalu bawa bekal dari Tante Farin,” kata Welly yang duduk di temannya. “Iya, karena aku mau hemat.” Raka menjawab dengan sekenanya. Welly menganggukkan kepalanya paham dengan kondisi sahabatnya yang sering sekali berhemat hanya untuk membeli apa yang diinginkan dan tidak perlu meminta uang pada kedua orang tuanya. Kebiasaan Raka itu justru membuat Welly terkadang iri melihat didikan kedua orang tua Raka yang tidak terlalu ketat, tapi selalu menjadikan hal baik untuk anaknya. Raka sendiri selalu membanggakan kedua orang tuanya. Bukan hal yang membuat dirinya sombong, tapi dia selalu terlihat bangga saat banyak teman yang menanyakan tentang kedua orang tuanya. Bangganya Raka pun tidak serta merta membuat orang lain merasa buruk, Raka selalu merendah demi menghargai orang lain. “Kalian kenal sudah lama banget?” tanya Reza pada kedua sahabat yang terlihat sangat dekat sekali. “Kenal dari SMP. Lumayan lama banget sih,” jawab Raka pada teman barunya. Meski sudah menginjak usia SMA, tetap saja Raka masih menjadi anak kecil untuk kedua orang tuanya. Arlan juga masih tidak memberikan izin untuk Raka pulang sendiri menggunakan angkutan umum atau hanya sekadar pulang bersama dengan temannya. Raka pun hanya menuruti orang tuanya dan selalu meminta untuk menjemputnya. Jam pulang baru saja berbunyi dan Raka duduk di depan sekolahnya menunggu ayahnya menjemput dirinya. Raka memainkan HPnya sembari menunggu ayahnya menjemputnya. Saat mobil ayahnya datang, Raka segera masuk ke mobil dan menyalami ayahnya dengan sopan. “Gimana sekolahnya? Hari pertama ini,” tanya Arlan pada anaknya yang tahu bahwa ini adalah hari pertama anaknya mendapatkan pelajaran di sekolahnya. “Lumayan, Pa. Hari ini ada pelajaran yang diajar sama Om Arya. Om Arya sempat minta aku buat ikut olimpiade kimia, waktu ketemu daftar ulang dulu. Menurut Papa gimana? Karena minggu depan sudah ada bimbingan buat yang mau ikut OSN, Pa.” Raka menceritakan apa yang terjadi dalam sekolahnya. “Papa sih hanya bisa dukung kamu, Kak. Kamu selama ini suka sekali ikut olimpiade apa pun itu. Kali ini, kamu bakal diploting. Kalau kamu ikut kimia, bisa aja sampai nanti lulus, kamu bakal terus ditaruh di kimia. Kamu jadi harus tahu passion kamu itu ada di mana. Kenali dulu diri kamu, Kak.” Arlan mengeluarkan pendapatnya untuk dipertimbangkan oleh anaknya. “Mama dulu suka sekali kimia, apa itu sangat mudah, Pa?” tanya Raka pada ayahnya. “Papa enggak bisa bilang itu mudah sih, Kak. Papa dulu bukan anak IPA. Papa anak IPS, Kak. Papa enggak suka fisika, karena itu Papa memilih untuk masuk ke IPS, tapi kamu ‘kan basicnya memang suka sama hitungan, jadi enggak kaget kalau kamu bakalan nyaman sama IPA. Enggak ada pelajaran yang susah sebenarnya, Kak. Kalau kamu menyukai dan enggak buru-buru membenci pelajaran itu.” Arlan menjelaskan sedikit tentang apa yang sering orang ceritakan padanya dulu. Raka masih menganggukkan kepalanya, meski dia masih belum mendapatkan gambaran yang pasti dengan pilihannya. Raka yang ingat, jika ayahnya tidak tahu bahwa dirinya dan Welly kembali satu sekolah pun menoleh ke arah Arlan yang fokus mengemudikan mobilnya untuk mengantar anaknya. Raka kembali membuka suaranya untuk menceritakan pertemanannya yang baru. “Jadi, kamu satu kelas lagi sama Welly?” tanya Arlan yang menoleh sebentar pada anaknya. “Iya, Pa. Welly enggak nakal kok, Pa. Dia juga waktu kejadian bir itu dia marah. Dia enggak suka karena kita masih di bawah umur, tapi anak-anak yang lain malah mengkonsumsi itu. Boleh aku masih berteman sama dia ‘kan, Pa?” balas Raka. “Apa Papa pernah membatasi pertemanan kamu, Kak? Apa kamu butuh izin Papa untuk berteman dengan siapapun?” tanya Arlan pada anaknya. “Enggak sih, tapi aku mau tahu pendapat Papa. Aku enggak mau Papa sama Mama salah tangkap sama kelakuanku. Aku mau menuruti permintaan Mama yang mau aku tetap menjadi aku yang seperti sekarang. Jadi, apa pun itu, aku akan tetap menceritakan sama Mama, sama Papa.” Raka menjelaskan maksud dari ceritanya. “Mama berteman dengan siapapun aja Papa enggak melarang, Kak. Apalagi kamu yang memang membutuhkan banyak relasi untuk membantu kamu melewati masa pendewasaan. Pesan Papa cuma, jaga pergaulan kamu, kak. Kalau memang sudah menjadi hal yang sangat mengganggu atau toxic, jangan lagi dilanjutkan. Mama sama Papa akan selalu berharap kamu selalu dilingkupi orang-orang baik, Kak.” Arlan menoleh sebentar pada anaknya yang duduk tenang di sampingnya. “Aamiin, Pa. Aku akan selalu kaya gini buat Papa sama Mama. Kalau ada yang salah dari aku, bantu aku kembali ya, Pa. Aku takut tersesat sendirian,” kata Raka pada ayahnya. “Pasti. Papa pasti akan menjaga dan membantu kamu berjalan sampai kamu siap untuk menjalani hidup kamu sendiri, Kak. Papa sama Mama tetap orang tua kamu sampai kapanpun. Kamu tetap punya Mama, meski nantinya kamu akan menikah sama wanita yang kamu cintai. Dia enggak akan bisa sepenuhnya mengambil kamu dari Mama. Begitu kodratnya, Kak.” Arlan mengatakannya pada anaknya. “Iya, Pa. Sampai kapanpun aku akan selalu menjadi anak Mama dan Papa yang sangat membanggakan. Aku janji akan selalu membanggakan Mama dan papa. Aku enggak mau membuat Mama atau Papa kecewa sama aku. Aku juga janji akan selalu menjadi kakak yang baik buat Ana dan Icam, Pa.” Raka tersenyum saat mereka sampai di depan rumah. “Oke, pembicaraannya sampai sini dulu, Kak. Bilang sama Mama, kalau Papa langsung balik ke kantor ya, Kak. Bilang juga, kalau Papa mungkin bakal pulang telat. Jangan lupa istirahat ya,” kata Arlan pada anaknya. “Papa masuk dan bilang sendiri sama Mama?” tanya Raka. “Enggak ada waktu, Kak. Om Roland sudah tunggu Papa di tempat meeting,” kata Arlan pada anaknya. “Oke deh, aku sampaikan ke Mama. Papa hati-hati di jalan ya. Jangan sampai larut malam ya, Pa.” Raka mengingatkan ayahnya sebelum keluar dari mobil. “Kak!” Raka menoleh saat Arlan membuka kaca dan dirinya sudah keluar. “Salam!” protes Arlan. Raka kembali dan menyalami tangan Arlan sembari mengucap salam sebelum benar-benar meninggalkan pria itu untuk masuk ke rumahnya. Arlan kembali menjalankan mobilnya saat melihat anaknya masuk ke rumah. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN