Pemilihan Ekstrakurikuler

1388 Kata
Raka duduk di halaman belakang sembari memberi makan kucing kesayangannya. Dia menghabiskan waktunya bersama dengan Bona, kucing kesayangannya. Farin masih berada di rumah orang tuanya untuk menjemput Ana dan Icam yang selalu pulang sekolah ke rumah Karin. Tadinya, Raka ingin ikut, tapi dia malah ketiduran dan membuat Farin berangkat sendiri. Bona sangat manja pada Raka hingga hanya diam di pangkuan Raka yang sedari tadi setia mengelus bulunya. Dia ingat awal mengadopsi Bona hanya karena Icam sering melihat Bona di luar rumah pemiliknya dan memainkannya. Sang pemilik awal pun akhirnya memberikan Bona pada Icam untuk dirawat. Raka yang juga menginginkan kucing itu, akhirnya mau menerima dan Icam menggendong Bona pulang. Kedatangan Bona dulu sempat menjadi heboh di rumahnya, pasalnya Arlan sangat cemburu pada Bona yang selalu memenangkan perhatian Farin. Arlan selalu merasa kalah dengan Bona untuk mendapatkan perhatian Farin. Raka menggelengkan kepalanya pelan mengingat masa kecilnya yang ternyata banyak hal yang masih bisa dia syukuri. “Kakak!” Suara Ana membuat Raka menoleh ke arah adiknya yang masih menggunakan seragam sekolah dan membawa tasnya. Raka mengangkat alisnya melihat adiknya yang datang dan naik ke gazebo. “Kok enggak ganti baju di rumah Yangti, Dik?” tanya Raka pada adiknya. “Lemarinya enggak bisa dibuka.” Ana duduk di depan Raka yang sedang bersama dengan Bona. Raka hanya menganggukkan kepalanya dan tidak lagi menanyakan pada adiknya yang pasti akan lebih bawel nantinya. Suara panggilan Farin yang mencari Ana membuat Raka menyuruh Ana masuk ke rumah terlebih dahulu dan mengganti bajunya. Ana masih bersama dengannya, meski Farin sudah memanggilnya membuat Raka menghalangi tangannya untuk menyentuh Bona. “Mama panggil, Adik. Sana dulu itu loh, nanti Mama kesal.” Raka memperingati adiknya yang malah mengerucutkan bibirnya. “Aku mau usap Bona dulu,” kata Ana pada Raka. “Setelah ganti baju, nanti seragam kamu kotor,” balas Raka. “Adik! Ya Allah, Mama panggil dari tadi enggak dengar atau gimana sih? Masuk, ganti baju!” Farin sudah gemas melihat anaknya yang berada di gazebo bersama Raka. “Iya, sebentar, Mama.” Ana menjawab ibunya dengan wajah sedikit tidak ikhlas. “Ayo cepat, Dik. Itu seragamnya besok dipakai lagi, Ya Allah. Kamu lama-lama Mama tinggal di rumah Nenek loh ya. Jaga rumah sana aja, Mama sudah kesal sama kamu,” kata Farin yang melihat anaknya mulai turun dari gazebo. Raka tersenyum pada ibunya saat wanita itu melihat ke arahnya. Farin menggenggam tangan Ana dan masuk ke rumah mereka. Farin memang selalu diuji kesabarannya dengan tingkah Ana yang selalu ada saja yang membuat wanita itu mengurut dahinya. Raka menyusul ibu dan adiknya setelah melepaskan Bona dari pangkuannya. Dia mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke rumahnya. Dia melihat Farin sedang berada di dapur dan sibuk dengan blendernya. “Mama mau buat apa?” tanya Raka pada ibunya yang langsung berdiri di pantry sebagai pembatas dirinya dan ibunya. “Mau buat jus melon, mau?” balas Farin pada anaknya. “Mau dong, Ma. Boleh ‘kan?” tanya Raka yang melihat ibunya membuka kulkas untuk mengambil melon. “Iya, bentar. Adiknya dijaga ya, Kak. Jangan sampai berulah. Mereka habis beradu mulut itu,” kata Farin pada anak sulungnya. “Iya, Ma. Mama buat sendiri enggak papa?” tanya Raka yang belum mau meninggalkan ibunya sendirian di dapur. “Mama sudah biasa sendirian di dapur, Kakak. Jaga aja adiknya, tanyakan ada tugas enggak. Mereka dari tadi belum tidur siang juga soalnya. Tolong, ya.” Farin meminta tolong pada anak sulungnya yang akhirnya langsung dilakukan oleh Raka. Raka berjalan ke kamar adik laki-lakinya terlebih dahulu untuk memastikan keberadaan Icam. Dia mengetuk pintu kamar adiknya dan membukanya dengan perlahan saat mendengar adiknya menjawab. Raka melihat adiknya sedang berada di meja belajar dan menata buku yang baru saja dia keluarkan dari tas sekolahnya. “Ada tugas, Cam?” tanya Raka melihat adiknya. “Ada, tapi aku malas kerjakannya. Masih capek, Kak. Aku dari tadi takut tidur pakai seragam, nanti Mama bakal marah kalau bajunya kusut,” kata Icam pada Raka yang masuk ke kamarnya. “Istirahat dulu aja, nanti Kakak temani kerjakan tugasnya, ya.” Raka menepuk bahu adiknya pelan yang langsung dibalas dengan anggukan kepala. Raka menyuruh Icam keluar, jika ingin menikmati jus melon buatan ibunya. Dia mengingatkan Icam untuk berjalan hati-hati di tangga. Raka pindah ke kamar Ana untuk melihat gadis kecil yang mampu membuat keluarganya menekan kesabaran untuk menghadapi Ana. Dia membuka pintu kamar adiknya dan melihat adik perempuannya itu sedang berada memeluk boneka singa yang sudah sangat lama. Boneka yang dia kasih untuk adiknya. “Kenapa?’ tanya Raka duduk di samping adiknya yang ada di tempat tidur. “Mama masih marah sama aku, Kak?” balas Ana yang terlihat takut Farin masih marah padanya. “Mama enggak marah kok. Mama cuma kesal aja karena tadi kamu enggak langsung menuruti ucapan Mama. Mama itu sayang banget sama anak-anaknya, bahkan sama Kakak aja jarang ‘kan marah?” Raka menceritakan pada adiknya dan memberitahu kesalahan adiknya itu. “Aku mau minta maaf sama Mama,” kata Ana yang menaruh boneka singanya setelah mendengar banyak ucapan Raka. “Icam di mana?” tanya Ana yang sudah turun dari tempat tidur. “Di bawah. Mau minta minum jus buatan Mama,” kata Raka menjawab pertanyaan adik perempuannya yang mulai berjalan ke luar kamar. Dia menyusul adiknya dan turun bersama. Ana langsung menghampiri ibunya dan meminta maaf karena telah membuat ibunya itu kesal. Farin menganggukkan kepalanya dan menyuruh anak-anaknya untuk duduk di meja makan bersama menikmati jus yang dia buat. Ana dan Raka menyusul Icam yang sudah duduk terlebih dahulu. *** Arlan menemani anak kembarnya belajar di ruang keluarga. Raka baru saja berjalan turun dengan membawa kertas yang entah berisi apa. Arlan hanya memperhatikan anak-anaknya yang sedang belajar dengan giat di depannya. Farin sedang membereskan makan malam mereka sebelumnya. Ana dan Icam pun sedang dalam mode akur, tidak ada keributan yang mereka perbuat. “Pa, aku boleh ikut basket lagi?” tanya Raka pada ayahnya yang menemani adiknya belajar. “Boleh, kamu semakin cepat tinggi juga kalau ikut basket. Ini lihat kamu sudah mau lewati tinggi Papa,” jawab Arlan pada anaknya. “Kalau ikut OSIS?” tanya Raka pada ayahnya yang mulai menoleh ke arahnya. “Sudah mulai pendaftaran anggota OSIS? Kamu mau ikut OSIS alasannya apa dulu?” balas Arlan pada anaknya. “Mau aja, Pa. Kaya seru banget ketemu sama banyak orang dari kakak kelas dan bisa berinteraksi dengan banyak orang. Boleh?” Raka menunggu keputusan ayahnya yang belum menjawab pertanyaannya. “Papa enggak melarang kamu mengikuti organisasi apa pun, Kak. Papa cuma mau kamu tahu diri kamu sendiri, jangan sampai banyak kesibukan malah buat kamu jadi malas buat mengerjakan tugas kamu sebagai siswa. Papa bilang ini bukan karena Papa larang kamu ikut apa pun, sebelumnya kamu cuma ikut basket aja, sekarang kamu mau ikut OSIS, kamu juga sempat tertarik ikut bimbingan olimpiade, kamu yakin bisa mengimbangi semua kegiatan kamu apa enggak? Cari tahu itu dulu, kalau kamu sendiri yakin, Papa pasti dukung kamu melakukan apa pun,” kata Arlan menjelaskan maksudnya. “Aku yakin bisa, Pa. Aku akan berusaha buat mengatur jadwalku sendiri,” kata Raka dengan yakin. “Mama enggak suka kalau kamu memaksakan diri loh, Kak. Mama enggak masalah dengan semua yang kamu pilih, tapi kalau bisa jangan sampai memaksakan diri kamu sendiri. Kamu juga butuh me time, butuh liburan buat pikiran kamu enggak terlalu berat. Mama enggak mau aja kamu terlalu banyak beban sampai kamu sendiri bingung menyelesaikannya bagaimana, Mama enggak mau kamu lalai sama kewajiban utama kamu, belajar.” Farin yang baru saja bergabung menyahuti percakapan anak dan suaminya. “Iya, Ma. Aku akan coba buat konsisten sama pilihan aku. Aku pasti bisa kok, Ma. Mama izinkan aku, ‘kan?” tanya Raka pada ibunya. “Sama kaya yang Papa bilang, Mama enggak pernah melarang kamu melakukan apa pun. Selama kamu yakin sama kemampuan kamu, ya tugas Mama sama Papa cuma dukung kamu, Kak. Enggak ada yang perlu dilarang,” jawab Farin. “Jadi, kalau ada pendaftaran anggota baru, aku mau mengajukan diri ya, Ma.” Raka dengan wajahnya yang sangat antusias hanya melihat ibunya menganggukkan kepalanya. Raka duduk di bawah bersama dengan dua adiknya untuk mengisi formulir pendaftaran ekstrakurikuler yang akan dia masuki. Arlan merangkul pinggang istrinya sembari melihat anak-anaknya yang sibuk dengan dirinya masing-masing. Raka meminta orang tuanya untuk tidak ke mana-mana karena membutuhkan tanda tangan orang tuanya. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN