Latihan Basket

1224 Kata
Sabtu biasanya menjadi hari yang sangat tenang untuk keluarga Arlan, tapi kali ini Raka malah sibuk dengan dirinya yang harus berangkat ke sekolah untuk melakukan ekstrakurikuler. Raka yang mengikuti ekstra basket harus berlatih basket di sekolah dan itu membuat Arlan harus ikut bangun pagi dan langsung mengikuti jadwal anaknya. Farin sibuk membangunkan Arlan sejak pagi karena Raka baru mengatakannya pada Farin. “Ma, Papa sudah siap?” tanya Raka saat Farin membuka pintu kamar. “Kamu bangunkan sendiri, Kak. Dari tadi Mama bangunkan cuma bilang sebentar terus,” suruh Farin yang mulai lelah membangunkan suaminya yang selalu berujung tidur kembali. Raka masuk ke kamar orang tuanya setelah mendengar perintah Farin yang langsung melenggang pergi. Dia melihat ayahnya yang masih bergelung di dalam selimut. Raka membangunkan dengan pelan. “Pa, bangun dong. Aku mau latihan basket, Pa.” Raka mulai mengeluarkan rengekannya yang biasanya mampu membuat tidur Arlan terganggu. “Kenapa sih, Kak? Papa mau istirahat sebentar lagi, habis itu antar Kakak deh,” kata Arlan yang membalikkan badannya memunggungi Raka. “Aku sudah mau terlambat, Pa. Aku naik angkut aja deh, Pa. Enggak usah diantar. Pak Oding mau disuruh Mama ke rumah Tante Hana,” ucap Raka yang membuat Arlan membalikkan badannya dan melihat anaknya. “Tunggu di depan, Papa siap-siap dulu!” Arlan langsung mengatakannya dengan tegas membuat Raka hanya menganggukkan kepalanya. Raka keluar dari kamar kedua orang tuanya dan menemui Farin yang sedang sibuk di dapur. Dia mencari keberadaan dua adiknya yang biasanya mengganggu ibunya memasak, tapi dua bocah itu tidak ada di dapur. Raka mengintip di halaman belakang, ternyata dua adiknya berada di sana. “Mama, Papa sudah bangun. Sekarang siap-siap,” kata Raka memberitahu ibunya tentang ayahnya yang sedang bersiap mengantarkannya. “Ya sudah biarkan aja, Kak. Mama sudah capek bangunkan Papa dari tadi. Kamu juga, kenapa baru bilang kalau sekarang ada latihan?” Farin masih tetap fokus memasak, meski harus menanggapi anak sulungnya. “Aku lupa, Ma. Baru ingat setelah subuh tadi,” kata Raka mengakui kesalahannya. “Lain kali jangan dadakan lagi, Kak. Papamu itu kerja satu minggu penuh, bahkan sering banget overtime kerja. Pasti capek, jadi kamu juga harus ngerti kondisi Papa kamu,” ucap Farin mengingatkan anaknya. “Iya, Ma. Aku minta maaf ya, ganggu istirahatnya Mama sama Papa,” kata Raka meminta maaf tentang dirinya yang harus pagi-pagi mengganggu Farin dan Arlan untuk beristirahat. “It’s okay, Kak. Paling Papamu cuma kesal aja, nanti juga selesai. Ambil nasi dan sarapan dulu, Kak. Ini Mama sudah gorengkan sosis buat kamu. Adik sama Papa biar nanti aja,” kata Farin yang membawa sosis yang baru saja dia goreng. Raka melakukan apa yang diminta ibunya. Ini akibat dirinya memiliki agenda yang dadakan. Farin yang biasa dilarang Arlan untuk memasak pada hari dirinya libur, jadilah Raka hanya makan nasi dengan sosis. Meski Raka tidak masalah dengan itu, tapi dia merasa bersalah dengan ibunya. Dia yang sering meminta Farin untuk menjaga diri dan beristirahat dengan benar, tapi malah membuat Farin berkecimpung di dapur pagi-pagi saat weekend seperti ini. Raka makan ditemani oleh Farin. Dua bocah yang tadinya bermain berdua di halaman belakang bersama dengan kucing kesayangan mereka malah masuk dan meminta sosis yang akan Raka makan. Farin melarang keduanya mengganggu Raka yang sedang makan. “Kak, ayo berangkat!” kata Arlan yang baru saja turun dari lantai dua. “Pa, anaknya masih sarapan. Kamu dari tadi dibangunkan susah banget. Ini loh, jaga bocah ini. Biarkan Raka sarapan dulu,” kata Farin yang menyahuti suaminya yang baru saja muncul. “Adik sama Mas sini, jangan ganggu Kakak makan. Kakak mau ada acara di sekolah, Dik.” Arlan duduk di ruang keluarga dan memanggil anak-anaknya. Ana dan Icam pun berjalan mendekati ayahnya yang sedang berada di ruang keluarga, sebelum Farin atau Arlan kembali memperingatinya. Ana duduk di pangkuan Arlan dengan Icam yang setia duduk di sampingnya. Mereka mengobrol singkat dengan menceritakan kegiatan mereka sembari menunggu Raka yang masih sarapan. “Pa, sudah.” Raka datang dengan membawa botol minum yang langsung dia masukkan ke tasnya. “Oke. Ayo, kalian di rumah aja sama Mama. Papa cuma mau antar Kakak sebentar,” kata Arlan menurunkan Ana yang duduk di pangkuannya. Raka berjalan bersama ayahnya keluar dan meninggalkan dua adiknya yang masih berada di ruang keluarga. Raka masuk ke mobil setelah Arlan mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah mereka. Raka duduk tenang di samping ayahnya dan membiarkan ayahnya menyetir dengan fokus. “Kenapa baru bilang pagi-pagi kalau ada latihan?” tanya Arlan yang akhirnya memecahkan suasana. “Karena aku lupa, Pa. Maaf, Pa. Aku ganggu istirahatnya Papa. Nanti enggak usah jemput aku enggak papa kok, Pa.” Raka merasa bersalah dalam jawabannya. “Papa enggak masalah harus ngantar kamu pagi-pagi, tapi enggak harus dadakan, Kak. Papa baru lembur kemarin, kamu bilang hari ini enggak akan ada apa-apa. Papa tidur malah Mama bangunkan Papa terus,” kata Arlan yang membalas perkataan anaknya yang merasa bersalah karena mengganggu istirahatnya. “Aku yang lupa, Pa. Tadi aja karena aku diingatkan sama temanku yang satu kelas sama aku. Maaf banget, Pa.” Raka meminta maaf pada ayahnya. “Nanti pulang jam berapa, kabari Papa. Enggak usah pulang sendiri, Papa potong uang jajan kamu kalau berani pulang sendiri,” kata Arlan mengancam anaknya. “Iya, aku berangkat latihan dulu.” Raka langsung menyalami ayahnya saat mereka berhenti di depan sekolahnya. Dia turun dan masuk ke sekolahnya. “Punya Papa satu ada aja larangannya. Aku cowok masa enggak boleh pulang sendiri. Orang tua lain, biasanya suruh pulang sendiri kalau sudah besar. Traumanya Papa parah banget ternyata,” gumam Raka pada dirinya sendiri. *** Setelah hampir seharian Raka pergi melakukan banyak kegiatan, kini dia duduk di halte dekat sekolahnya untuk menunggu ayahnya atau siapa pun yang akan menjemputnya. Raka memainkan HPnya dan menunggu ayahnya dengan sangat sabar. Dia tidak ingin membuat ayahnya kesal padanya seperti masalah tadi pagi. Raka memasang earphone di telinganya selagi menunggu ayahnya. Dia malah menikmati game online yang sedang dia mainkan. Raka hanya menunggu hingga suara klakson mobil terdengar. Dia mengangkat wajahnya dan melihat mobil ayahnya yang sudah ada di depannya. “Assalamualaikum, Pa.” Raka masuk dan menyalami tangan ayahnya. “Waalaikumsalam, Kak. Jaga adik ya, Mama lagi enggak enak badan, Kak. Jangan langsung ke Mama dulu, bersih-bersih. Ngerti?” Arlan langsung memberitahu anaknya yang baru saja masuk. “Papa lama karena Mama sakit?” tanya Raka pada ayahnya yang sudah mulai menjalankan mobilnya kembali. “Iya, Mama susah banget disuruh istirahat dan biarkan Adik main sendiri sama Icam. Jadinya debat kusir dulu sama Mama.” Arlan menjelaskan sedikit pada anaknya. “Iya sudah, nanti Adik biar sama aku, Pa. Mama diajak ke dokter aja,” kata Raka pada ayahnya. “Kalau Mama mau, Mamamu itu selalu banyak alasan, Kak. Nanti kalau enggak membaik, Papa panggil Dokter Raffi aja ke rumah,” balas Arlan yang masih fokus mengemudikan mobilnya. Raka kembali diam dan menaruh HPnya. Pikirannya sedikit terganggu dengan kabar ibunya yang sedang sakit. Raka tidak ingin ibunya merasa sakit. Selama ini dia selalu mencoba untuk menjaga ibunya, tapi nyatanya dia merasa gagal menjaga ibunya. “Enggak usah kamu pikirkan, Mama enggak akan kenapa-kenapa. Papa jamin Mama akan sembuh. Mama cuma kecapekan, Kak. Waktu kamu daftar sekolah ‘kan sering harus bolak-balik nginep di rumah Yangti, apalagi harus sering mampir ke rumah Nenek sejak Nenek meninggal. Jadi, wajar kalau Mama capek,” kata Arlan. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN