Sejak sepulang dari latihan, Raka berada di ruang bermain milik adiknya dan menemani adiknya. Dia menjauhkan adiknya dari ibunya demi wanita yang dia sayang itu bisa beristirahat dengan tenang. Arlan pun menemani istrinya yang sedari tadi dia larang bergerak turun dari tempat tidur. Farin hanya pasrah saat Raka dan Arlan sudah bersatu melarangnya.
Raka yang sedang berada di ruang bermain adiknya ikut bermain dengan dua anak kecil yang sedang menyusun lego di depannya. Permainan yang tidak pernah tidak ada di rumah keluarga Arlan. Raka membantu adik-adiknya menyusun lego seperti yang dua bocah itu mau.
“Kakak, Mama kenapa sih? Kita kenapa enggak boleh sama Mama dulu?” tanya Ana yang duduk di samping Raka dan memberikan balok lego yang dipegangnya.
“Mama lagi enggak enak badan. Mama butuh istirahat, Papa larang kalian sama Mama biar kalian enggak ikut sakit juga. Mama belum sehat betul, jadi akan makin kepikiran kalau kalian juga sakit,” kata Raka dengan sabar.
“Kalau Mama sembuh, aku boleh main lagi sama Mama?” tanya Icam menoleh pada kakaknya.
“Enggak papa dong. Masa mau main sama Mama eggak boleh, tapi kalian harus tahu waktunya ya. Mama juga butuh istirahat. Adik juga enggak boleh buat Mama kesal terus. Kasihan Mama dong kalau lama-lama kesalnya. Mama itu orangnya suka banget menahan perasaannya, jadi kalian enggak boleh kaya gitu terus ya.” Raka menasihati adik-adiknya.
“Iya, Kakak. Alu enggak akan buat Mama sakit lagi,” kata Icam menjawab perkataan Raka.
Kalian enggak buat Mama sakit, hanya aja Mama tepat sekali sakitnya setelah kalian sering berulah. So, kalian beneran jangan terlalu banyak tingkah ya. Mama itu sayang banget sama kita, makanya Mama akan tetap berusaha sabar menghadapi kita. Kalau Papa mulai marah, Mama selalu sabar bukan menengahi kalian?” kata Raka pada adik-adiknya yang langsung menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di kamar, Arlan masih fokus dengan laporan kafe yang biasanya dikerjakan oleh istrinya. Dia hanya bisa membantu sedikit untuk mengurus laporan itu dan merapikannya sedikit untuk mudah dimengerti istrinya. Dia juga perlu memeriksa dengan laporan yang sebelumnya.
“Mas,” panggil Farin dengan lirih membuat Arlan membalikkan kursi yang sedang dia pakai untuk duduk.
“Kenapa? Mau apa?” tanya Arlan yang mendekati istrinya yang masih dalam posisi tidurnya. Dia duduk di samping istrinya yang berusaha untuk mendudukkan tubuhnya. “Kenapa, Sayang?” tanya Arlan kembali.
“Peluk dulu,” kata Farin dengan manja.
Arlan sangat paham dengan sifat manja istrinya saat sedang sakit seperti ini. Dia memeluk istrinya lembut dan membawanya dalam dekapan hangatnya. Tubuh hangat Farin masih terasa. Demam wanita itu masih terasa cukup tinggi.
“Kamu mau apa?” tanya Arlan yang setia memeluk erat istrinya dan mengusap lembut punggung sempit Farin.
“Anak-anak sudah makan, Mas?” tanya Farin yang menyandarkan kepalanya di d**a bidang suaminya.
“Belum, Sayang. Mereka malah asyik main, aku juga sampai lupa. Kamu mau makan apa?” tanya Arlan yang meraih HPnya yang ada di nakas.
“Panggil anak-anak dulu, Mas. Mereka pasti lapar, cuma kamu sibuk aja. Kamu sih, sama Raka malah larang aku buat ngapa-ngapain,” kata Farin yang melepaskan pelukannya pada Arlan.
Arlan menghubungi telepon rumahnya, karena sudah dapat dia pastikan Raka sedang tidak bersama dengan HPnya. Telepon itu diangkat oleh Pak Oding yang kebetulan sedang berada di dekat ruang keluarga dan mendengarnya. Arlan meminta tolong untuk memanggilkan anak-anaknya dan menyuruh mereka ke atas.
Tidak membutuhkan waktu lama, Raka dan dua adiknya membuka pintu kamar. Ana langsung naik ke tempat tidur dan duduk di dekat ibunya. Mereka mendekat dengan Farin yang masih cukup lemas.
“Mama masih sakit?” tanya Icam pada ibunya.
“Sudah agak mendingan kok, Mas. Kamu sudah makan sama Kakak, sama Adik?” balas Farin yang tersenyum hangat melihat anaknya sangat perhatian padanya.
“Aku sama Kakak makan roti, Mama.” Ana menjawab pertanyaan ibunya dengan senyum tipis di wajahnya.
“Sini, pesan makan dulu. Kalian mau apa?” tanya Arlan pada anak-anaknya.
“Mama belum sembuh,” kata Ana dengan menundukkan kepalanya.
“Mama sudah membaik, Adik. Mama juga butuh makan. Ini mau Papa pesankan makan juga. Kalian mau apa?” tanya Arlan mengulangi pertanyaannya.
“Soto ayam, Papa.” Ana menjawab pertanyaan ayahnya dan melihat ke arah dua kakaknya. “Kakak mau juga?” tanya Ana.
“Kakak mau kok. Mama gimana?” balas Raka yang dibarengi oleh anggukan dari Icam.
“Mama ikut kalian,” kata Farin dengan senyum yang hadir di wajah pucatnya.
“Ya sudah, Papa pesan makan dulu. Nanti kalau sudah sampai, minta tolong Kakak ambil di depan ya. Siapa tahu Pak Oding atau Papa enggak dengar, Kak.” kata Arlan pada anaknya yang ada di dekatnya.
“Iya, Pa.” Raka menyetujui apa yang diminta ayahnya. Tidak susah memang meminta tolong pada Raka, terlebih dalam situasi seperti ini. Raka akan dengan senang hati mengiyakan demi ibunya tidak bergerak turun dari tempat tidur sebelum benar-benar sehat.
Cukup lama mereka menunggu pesanan makan mereka sampai, tapi itu tidak menyurutkan kebersamaan mereka di kamar kedua orang tua mereka. Arlan tersenyum melihat anak-anaknya yang menjaga Farin dan duduk tenang di sofa sembari menceritakan apa yang mereka lakukan selama tanpa Farin di bawah.
Raka pamit dari kamar itu untuk mengambil makanan mereka karena HP Arlan yang sudah berbunyi saat ayahnya itu ke kamar mandi. Raka yang mengangkatnya dan segera turun ke bawah setelah mendengar makanan mereka sudah sampai. Raka mengambil makanan mereka dan sekalian mengambil peralatan makan.
Raka membawanya ke atas dan masuk kembali ke kamar kedua orang tuanya. Dia menaruh semuanya ke meja dan Arlan membantunya menyiapkan makanan. Farin meminta Arlan membantu anak-anaknya mengambil makan terlebih dahulu sebelum mengambilkan untuk dirinya. Arlan pun melakukan apa yang diminta istrinya.
“Jangan banyak tingkah ya, ini panas. Mengerti?” pesan Arlan pada anak-anaknya, terutama Ana.
“Iya, Papa.” Mereka menjawab dan makan dengan tenang di karpet ddengan TV yang ada di kamar tersebut dihidupkan.
Arlan membantu istrinya makan sembari melihat anak-anaknya yang makan sambil menonton kartun. Farin memakan makanannya dengan bantuan suaminya. Tidak lupa pria itu menyuruh Farin untuk meminum obat. Raka setia membantu adik-adiknya dengan sabar tanpa menyulut emosi sama sekali. Farin sungguh bangga melihat Raka yang sedang merawat adik-adiknya.
“Papa, sambal tadi mana?” tanya Raka yang mencari semangkok sambal yang dia siapkan.
“Itu di meja dekat laptop Mama,” jawab Arlan pada anaknya. “Jangan banyak sambal, Kak. Sakit perut nanti,” lanjut Arlan.
“Aku mau sambalnya dong, Pa.” Farin membujuk suaminya untuk mau memberikan sambal untuknya.
“Enggak ada,” kata Arlan pada istrinya yang langsung membuatFarin mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan suaminya yang sangat tegas.
“Mama sembuh dulu, nanti pasti sama Papa boleh makan pedas lagi. Sekarang enggak pakai sambal dulu ya, Ma.” Raka menghibur ibunya yang baru saja mendapatkan penolakan dari Arlan.
“Iya, Mama. Jangan sakit ya, kita kesepian kalau enggak ada Mama.” Ana ikut membujuk ibunya.
Farin pun pasrah dan hanya menganggukkan kepalanya. Arlan menatap istrinya penuh kemenangan karena anak-anaknya sedang berada di pihaknya. Farin mencebik bibirnya melihat Arlan dengan wajah mengesalkan dari pria itu.
Bersambung …