Sekolah Percobaan Taraf Internasional

1261 Kata
Kelas Raka sedang ramai karena hari ini seorang guru yang harusnya mengisi kelas mereka tidak masuk dan tidak memberikan tugas apa pun. Semua siswa di kelas Raka pun menikmati kelonggaran itu dengan senang hati. Raka pun sama, tidak melewatkan apa yang menjadi hal yang sangat diinginkan oleh khalayak banyak. Raka memilih untuk ikut dengan teman-temannya yang siap tidur di belakang kelas mereka. Mereka berjejer dengan rapi demi mendapatkan tempat di karpet yang disiapkan mereka untuk merebahkan tubuhnya. Mereka juga mengatakan tentang berita sekolahnya yang akan melakukan percobaan untuk menggunakan sistem yang sudah bertaraf internasional. Untuk Raka itu masih menguntungkan dan biasa saja, tapi untuk beberapa anak yang lain malah takut dengan Bahasa Inggris yang bisa saja akan menjadi hal yang umum untuk sekolah mereka. “Namanya masih percobaan, enggak akan segitunya kok. Palingan juga masih campur-campur bahasanya. Lakukan aja sih, kalau kataku,” sahut Raka yang menanggapi obrolan teman-temannya. “Iya, sih … tapi, agak gimana gitu, Ka. Secara Bahasa Inggrisku itu enggak bagus banget gitu,” balas salah satu anak yang sedang rebahan di samping Raka. “Santai aja, enggak akan semua bisa kok. Termasuk aku, aku juga enggak bagus-bagus banget kok. Semua itu bisa karena kebiasaan aja. Aku juga sadar akan itu.” Raka kembali menjawab perbincangan teman-temannya. “Iya sih, kamu mah menurutku sudah baik banget, Ka. Enggak kaya aku yang banyak banget koreksinya, kalau disamakan kaya kamu,” kata Welly yang juga ada bersama dengan Raka. “Enggak kaya gitu, Wel. Kamu aja yang terlalu tinggi ekspektasinya ke aku,” kata Raka yang terkekeh mendengar sahabatnya itu. Raka hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang sangat memuji dirinya. Raka memilih untuk memejamkan matanya setelah teman-temannya menyudahi bahasan dadakan mereka tentang sekolah mereka. Mereka memilih untuk tidur sebentar sebelum melanjutkan pelajaran mereka nantinya. Jam pulang menyapa dan Raka menunggu jemputan di depan sekolahnya. Raka mengerutkan keningnya saat melihat mobil Gilang yang berada di depannya. Gilang memanggil Raka dan menyuruhnya segera masuk ke mobilnya. “Loh, kok Om yang jemput aku?” tanya Raka yang masuk ke mobil Gilang. “Mamamu minta Om jemput kamu. Mamamu ada di rumah Om. Lagi mau sama Sasha, katanya.” Gilang memberitahu apa yang sedang terjadi dengan Farin. “Siapa yang antar Mama?” tanya Raka kembali. “Papamu tadi habis makan siang, kalau enggak salah.” Gilang menjawab pertanyaan keponakannya. “Kenapa tiba-tiba mau ke rumah Om Gilang?” tanya Raka. “Ya, tanya Mamamu kalau masalah itu, Kak. Om mana tahu kalau masalah itu,” jawab Gilang pada keponakannya yang sedang banyak tanya. Raka hanya diam dan menaruh HP ke tas. Dia tidak terlalu banyak bicara karena memikirkan ibunya yang baru saja sembuh. Gilang hanya memecahkan suasana sejenak dengan menanyakan apa yang menjadi pikiran Raka saat ini. “Mama kemarin sempat sakit, Om … jadi, aku sedikit khawatir Mama masih belum benar-benar membaik. Aku khawatir, Om.” Raka menceritakan pada Omnya. . Gilang membawa keponakannya ke rumahnya. Beruntung jam pulangnya dengan Raka tidak jauh berbeda, jadi dia bisa pulang lebih dahulu untuk menjemput Raka tanpa khawatir harus kembali ke kantor kembali. Gilang segera memasukkan mobilnya ke halaman rumah sederhananya. Rumah itu memang tidak sebesar rumah tempat tinggal Farin dan Arlan, tapi itu justru sering dinikmati oleh kakak iparnya itu untuk sering bermain di rumah sederhana itu. Raka turun saat mobil itu sudah berhenti di halaman rumah sederhana yang ada di dekatnya. Dia melihat Gilang yang juga menyusulnya turun dari mobil. “Ayo masuk, Kak. Ngapain tunggu Om, kaya rumah siapa aja,” kata Gilang pada keponakannya. “Siapa tahu Om Gilang takut aku merusak barang-barang OM,” jawab Raka dengan enteng. Kedua pria beda generasi itu masuk ke rumah yang langsung disambut Hana dengan Hangat. Raka tersenyum tipis saat dia dipeluk erat oleh Hana. Dia memang hampir tidak pernah lagi bertemu dengan Hana setelah pengumuman sekolahnya. “Kakak makin sibuk ya,” kata Hana. “Enggak juga, Tante. Tante aja yang jarang ke rumah Yangti, kalau aku lagi di sana. Jadi, jarang ketemu deh,” jawab Raka dengan sopan. Perlakuan Raka ke Tante dan Omnya memang berbeda sejak dulu. Gilang sangat suka menggodanya membuat dirinya sering sekali ribut dengan Gilang dan bertingkah seolah mereka teman, jika dengan Hana, dia masih terlihat kalem dan sangat sopan menghargai wanita yang merupakan adik dari ibunya itu. “Mama di mana, Tante?” tanya Raka yang tidak melihat ibunya ikut menyambutnya. “Lagi temani Sasha di dalam. Masuk aja, mau makan dulu enggak, Kak?” balas Hana. “Mau ke Mama aja, Tante. Tadi sudah makan siang kok,” jawab Raka yang masuk bersama dengan Hana. Raka masuk ke kamar tempat Farin berada bersama dengan Sasha, anak kedua dari Hana. Sementara itu Hana mengurus suaminya yang datang bersama dengan Raka. “Kakak sudah pulang?” tanya Farin saat Raka menyalami tangannya. “Sudah, Mama kenapa malah main? Sudah sehat banget?” balas Raka. “Mama capek di rumah enggak boleh ngapa-ngapain sama Papa. Papa izinkan ke sini, ya sudah Mama ke sini aja. Toh, Papa sendiri yang antar Mama ke sini, Kak. Jangan terlalu khawatir sama Mama,” kata Farin membelai wajah anaknya yang duduk di sampingnya. Raka langsung memeluk ibunya dengan erat seolah tidak ingin kehilangan ibunya. Kebiasaan Raka setelah Farin sakit dan tidak bisa menemaninya, Raka selalu setia memeluknya erat seperti ini. Farin membalas pelukan anaknya dengan lembut dan mengusap punggung anaknya dengan lembut. “Aku sayang Mama, gimana aku enggak khawatir kalau Mama sakit, Ma?” tanya Raka dalam pelukan Farin. “Iya, Mama tahu Kakak sayang sama Mama … tapi, Kak, Mama juga enggak mau sakit kok. Itu juga karena Tuhan yang memberikan ujian berupa sakit ke Mama. Jangan sedih gitu dong, itu ‘kan Tuhan sedang berbaik hati sama Mama mengingatkan Mama buat terus mengingat Tuhan.” Farin memeluk erat anaknya. “Aku sedih, kalau Mama sakit.” Raka mengatakannya dengan jujur dalam pelukan Farin. “Iya, Mama paham. Sudah ya, lepas dulu. Sasha lihati Kakak itu,” kata Farin pada anaknya. “Mama enggak kepikiran buat punya anak lagi ‘kan, Ma?” tanya Raka yang melepaskan pelukan itu dan melihat bocah kecil yang ada di dekatnya. “Memang Kakak mau punya adik lagi?” balas Farin. “Mama, enggak sopan membalas pertanyaan dengan pertanyaan lain. Yang tanyakan Kakak dulu,” keluh Raka pada ibunya. “Mama sih enggak pernah berpikir buat nambah anak lagi, Kak. Terserah Tuhan mau mempercayakan berapa malaikatnya buat Mama dan Papa di sini,” kata Farin menjawab pertanyaan anaknya. “Aku sudah besar, Ma. Masa nanti aku dikira ayahnya, Ma.” Raka mengerucutkan bibirnya membayangkan, jika dia memiliki adik kembali. “Kakak enggak suka anak kecil lagi?” tanya Farin. “Bukan, tapi Ana sama Icam masih cukup, Ma. Dua adik aja sudah buat Papa sering menahan marah ke Raka dari dulu,” jawab Raka. “Terus, kalau seandainya Mama hamil lagi, Kakak mau apa? Marah sama Mama atau gimana?” tanya Farin. “Aku enggak marah dong sama Mama. Mama dikasih kepercayaan buat jaga malaikat Tuhan lagi dan itu aku merasa beruntung dong, Ma. Cuma ya, aneh enggak sih, Ma, kalau aku sudah besar punya adik lagi, Ma.” Raka menoleh ke arah Mamanya. “Enggak ada yang aneh, Kak. Justru banyak orang yang benar-benar tunggu anaknya besar dan mengerti dulu baru punya anak lagi,” kata Farin. Raka hanya menganggukkan kepalanya dan bermain dengan Sasha yang terkekeh saat dia menggodanya. Farin yang melihat itu tersenyum dengan wajah bahagianya melihat anaknya yang tumbuh dengan sangat baik. Farin bangga dengan pertumbuhan Raka yang jarang sekali bersama terus dengannya, tapi anak itu sangat menyayanginya. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN