Sariawan

1222 Kata
Tugas mata pelajaran Kimia membuat Raka bergelut mesra dengan buku tebal yang dia punya dari buku ibunya dulu. Raka memilih belajar di ruang keluarga sembari menunggu ayahnya datang. Dua bocah kecil yang kini baru turun dari lantai dua membawa bukunya sendiri dan ikut Raka belajar di ruang keluarga. “Mama, matematika atau kimia?” tanya Raka pada ibunya yang sedang ada di meja makan dan menata makan malam untuk mereka. “Kamu tanya sama Mama tentang Mama atau minta pendapat Mama buat kamu dulu ini konteksnya, Kak?” balas Farin pada anaknya yang sedikit tidak mengerti pertanyaan anaknya akan mengarah ke mana. “Tanya pendapat Mama,” jawab Raka melihat ibunya yang mulai berjalan mendekat ke arahnya. “Kalau Mama cuma bisa bilang senyaman kamu. Kamu nyaman selagi mengerjakan apa? Matematika atau kimia?” Farin duduk di samping anak sulungnya yang sedang sibuk dengan tugas kimianya. “Aku suka matematika, tapi kayanya kimia menarik, makanya Mama suka kimia,” kata Raka pada Farin. “Kak, yang menarik buat kamu itu percuma kalau kamu enggak nyaman sama apa yang akan kamu lakukan. Yang ada akan bosan, Mama juga dulu gitu. Mama tertarik sama kimia, sampai Papinya Om Arya suka banget berharap ujian Mama dulu akan ambil kimia. Nyatanya, Mama malah takut nilai Mama semakin jatuh dan Mama jadi putar haluan lagi dan ambil biologi yang lebih aman buat Mama,” balas Farin. Arlan yang baru saja mendapat panggilan dari clientnya akhirnya keluar dari ruang pribadinya. Dia melihat anak dan istrinya yang sedang bersama di ruang keluarga. Dia pun menghampiri keluarga kecilnya yang sedang berkumpul. “Anak-anak Papa rajin banget belajarnya,” kata Arlan yang duduk di samping Icam dan mengusap rambut Icam dengan lembut. “Biar pintar kaya Kakak,” jawab Icam yang menoleh sebentar pada ayahnya yang ada di sampingnya. “Anak Papa pintar-pintar kok. Mau Kakak, Mas, Adik semua pintar. Papa selalu bangga punya anak kaya kalian,” balas Arlan pada anak-anaknya. “Karena Papa sudah selesai teleponnya, sekarang tugasnya ditaruh dulu, kita makan malam dulu ya. Mama sudah masak buat kalian loh,” kata Farin pada keluarganya yang sedang berkumpul. Semua pun menurut pada Farin dan berjalan bersama ke meja makan untuk melakukan apa yang wanita itu minta. Ana lebih banyak diam saat ini membuat Arlan yang melihat anak perempuannya itu dengan aneh. Gadis kecil yang biasanya banyak tingkah dan selalu penuh semangat, kini malah banyak diam. “Adik kenapa? Kok diam?” tanya Arlan saat istrinya memberikan makanan untuknya. “Adik itu lagi sariawan, Pa. Jadi diam gitu, tadi dia sudah bilang sama aku kok,” balas Farin. “Obatnya sudah dibelikan, Ma?” tanya Arlan melihat istrinya. “Sudah aku kasih madu, Pa.” Farin menjawabi pertanyaan suaminya dengan sabar. “Adik kalau makan jangan sembarangan ya. Sekarang dimakan dulu itu, nanti biar Mama obati lagi sariawannya,” kata Arlan pada anak perempuannya yang hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa kali Ana menjadi pusat perhatian saat gadis kecil itu merintih. Raka dengan sabar terkadang mengusap kepala adiknya dengan lembut. Raka takut menyentuh pipi adiknya dan malah menyenggol sariawan adiknya. “Ana, sakit banget ya?” tanya Icam yang ada di depan Ana. “Sakit, Mas.” Ana menoleh ke arah ibunya. “Mama, makannya boleh enggak dihabiskan kali ini?” tanya Ana dengan pelan. “Adik, dihabiskan dong makannya. Mama masak buat Adik loh. Itu sariawannya juga biar sembuh, Dik.” Raka membujuk adiknya dengan lembut. “Tapi, sakit, Kakak. Perih banget rasanya,” keluh Ana. “Iya, Kakak tahu. Kalau kamu enggak habiskan, Mama kasihan dong sudah masak banyak buat kita makan, tapi Adik enggak mau habiskan masakan Mama,” balas Raka. “Mama sedih kalau aku enggak habiskan makannya?” tanya Ana pada ibunya. “Enggak usah dipaksa, kalau enggak bisa. Mama enggak papa,” kata Farin pada anak bungsunya. “Aku enggak mau Mama sedih. Aku enggak mau jadi anak durhaka, Mama. Jangan sedih ya, aku habiskan kok makannya,” kata Ana melihat ibunya yang masih menikmati makanan di depannya. Raka tersenyum dan mengusap lembut rambut adiknya yang berusaha menghabiskan makanan di piringnya. Keluarganya pun menemani Ana, meski makanan di piring mereka sudah habis, tapi tidak ada yang beranjak dari meja makan. Hanya Farin yang pergi ke dapur. Wanita itu keluar dengan membawa segelas air jeruk. “Habis minum air putih, ini diminum ya, Dik. Waktu mau ditelan, coba dikenakan ke sariawannya. Sakit memang, tapi bismillah sembuh ya.” Farin memberikan pada anak gadisnya yang menyuapkan suapan terakhir di piringnya ke mulut. “Kakak tugasnya sudah selesai?” tanya Arlan. “Sudah, tinggal menghafalkan unsur di golongan IA, Pa. Oh ya, Pa … menurut Papa, aku harus ikut matematika atau kimia aja, Pa?” balas Raka sembari menunggu adik perempuannya selesai meminum air jeruk buatan Farin. “Kamu tertarik sama kimia, Kak?” tanya Arlan memperhatikan anak sulungnya. “Iya, kayanya seru belajar kimia, Pa. Cuma ya, aku juga enggak tahu tepatnya aku mau ke mana, Pa.” Raka menjawab pertanyaan ayahnya dengan pelan. “Pelan-pelan, Kak. Papa sudah pernah bilang bukan, kenali diri Kakak sendiri. Cari tahu Kakak minatnya di mana. Bakat Kakak ada di mana, kembangkan apa yang sudah ada juga baik, Kak. Kalau dari Papa, Kakak lebih cocok itung-itungan matematika, Kak. Daripada temanan sama zat-zat, Kak.” Arlan memberikan pendapatnya untuk anak sulungnya itu. “Kenapa Papa dukung aku hitung-hitungan?” tanya Raka. “Papa sama Mama punya usaha yang enggak akan jauh dari hitung-hitungan, Kak. Papa enggak akan paksa kamu buat terjun sama Papa ke perusahaan Papa atau teruskan usaha keluarga Mama, tapi paling enggak kamu tahu nantinya apa yang harus kamu lakukan buat keluarga kamu saat Papa atau Mama enggak lagi bisa menghandle semua. Kalau kamu mau jadi yang lain juga enggak papa kok. Mau jadi guru, dosen, atau mau jadi pengusaha sendiri juga enggak papa. Papa akan dukung kamu sepenuhnya,” kata Arlan. “Kenapa merencanakan masa depan itu susah, Pa?” tanya Raka pada ayahnya. “Bukan susah, kamu hanya belum mengerti diri kamu sendiri, Kak. Bakat dan minatmu masih belum kamu gali sendiri. Perlahan aja buat menentukan Kakak mau apa dan jadi apa, yang Papa harapkan, jadi apa pun Kakak, Kakak harus tetap bermanfaat untuk semua orang,” jawab Arlan. “Paling enggak bermanfaat buat orang sekitar, Kak. Juga, jangan sombong dengan apa yang Kakak punya dan dianggap orang menjadi kelebihan Kakak. Ingat, di atas langit itu masih ada langit, Kak. Enggak semua yang menganggap Kakak lebih dari dia itu karena memang merasa seperti itu, manusia itu punya banyak topeng, Kak. Enggak jarang mereka merendah untuk meroket. So, pesan Mama, jangan terlalu berlebihan sama pujian, Kak. Oke?” Farin memperhatikan anaknya yang sedang menatapnya penuh perhatian. “Iya, Ma. Aku akan selalu mencoba menjadi yang terbaik buat semua orang, terlebih buat Mama sama Papa. Aku enggak akan mengecewakan siapapun, aku janji.” Raka memberikan kelingkingnya pada ibunya. “Pinky Promise, Ma,” kata Raka. Farin menerima uluran kelingking Raka dan tersenyum bangga melihat anaknya yang tidak banyak berubah. Ana memberikan kembali gelas yang kini sudah habis isinya pada Farin membuat wanita itu mengecup puncak kepala anaknya dan mengusap lembut kepala Ana. “Ana juga sayang Mama,” kata Ana yang ikut memeluk ibunya yang baru saja mengecup puncak kepalanya. “Semua sayang Mama,” sahut Arlan yang mencuri kecupan di pipi istrinya dengan lembut. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN