Raka da Costa, pria tampan yang hidup dalam keluarga yang sangat mendidiknya dengan baik. Keluarga yang tidak pernah merasa apa pun menjadi beban dalam perjalanan hidup mereka. Sebesar apa ujian yang ada dalam hidup itu, keluarga Raka akan selalu terlihat manis di pandangan orang. Jangankan orang luar, anak-anak mereka pun sama sekali tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi pada kedua orang tuanya.
Raka dengan rasa bangga selalu mengatakan jika ibunya adalah ibu paling hebat yang dia temui. Bukan membandingkan ibunya dengan ibu teman-temannya, hanya saja Raka sering mendengar bagaimana teman-temannya sering merasa iri dengan perlakuan Farin pada Raka, meski Raka sudah menginjak usia remaja.
“Ka, kamu jadi daftar OSIS enggak?” tanya seorang pria yang berdiri di depan meja tempat Raka duduk.
“Iya, kamu juga, Ki?” balas Raka pada pria yang bernametag Rikina Alshaf.
“Iya, ini formnya ya.” Riki memberikan lembaran formulir yang harus Raka isi untuk mendaftar sebagai anggota OSIS.
Raka memasukkan kertas itu ke tas dan akan mengisinya saat pulang sekolah. Kebiasaan dirinya akan mengisi itu sembari berdiskusi ringan dengan kedua orang tuanya. Raka sangat suka melakukannya, karena dia akan mendengar pendapat kedua orang tuanya yang terkadang berbeda pendapat. Apa pun itu, Raka selalu bahagia memiliki dua orang yang sangat menyayanginya dan memperjuangkan kebahagiaannya.
Pelajaran terus berlanjut hingga jam pulang sekolah menyapa. Raka membersihkan semua buku yang ada di mejanya dan langsung memasukkan ke tas. Dia melihat ke arah mading yang ada di kelas untuk melihat jadwal piket. Yah, hari ini adalah jadwalnya piket untuk besok.
Raka memakai tasnya dan mengambil penghapus papan tulis, dia menghapus terlebih dahulu apa yang ada di papan tulis. Dia melihat beberapa cewek yang masih stay di kelas untuk melakukan piket dan menunggu temannya. Raka memang tidak seperti cowok lain yang akan kabur saat jadwal piketnya datang.
“Clarinet! Ini heh! Sapu yang benar!” Suara cewek-cewek yang menggoda temannya yang sedang menjalankan piketnya pun hanya membuat Raka menggelengkan kepalanya.
Namanya juga cewek, selalu ada saja yang menjadi bahasan mereka, meski sedang melakukan kegiatan. Buktinya, saat ini saja, saat mereka sedang piket, tapi bibirnya terus melemparkan gosip terhangat yang mereka tahu. Mereka bahkan tidak malu membahas itu di depan Raka.
“Aku sudah ya. Kamu piket aja sama teman-teman kamu itu, biar agak berguna sambil gosip,” kata Raka membuang sampah ke depan dan pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Raka tidak habis pikir dengan para perempuan itu yang betah sekali mengobrol dengan bahasan orang lain. Mereka bahkan terkadang sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, tapi tetap saja mereka akan melakukannya dengan sadar. Raka memilih untuk menunggu ayahnya atau siapapun yang akan datang menjemputnya.
Tidak lama menunggu, Raka melihat mobil ayahnya datang. Dia tersenyum sebentar saat ayahnya menurunkan kaca mobil. Dia masuk dan menyalami tangan ayahnya.
“Pa, aku boleh ngobrol sama Papa, sama Mama enggak nanti malam? Papa enggak sibuk, ‘kan?” tanya Raka saat ayahnya mulai menjalankan mobilnya.
“Ada apa memangnya, Kak? Penting banget sampai mau ngobrol bareng Mama sama Papa?” balas Arlan yang membuat Raka mencebik bibirnya.
“Kebiasaan buruk Mama sama Papa itu sama ya, enggak sopan tahu membalas pertanyaan ke orang yang bertanya, Pa. Ih!” kesal Raka.
“Oke, maaf. Papa insyaAllah enggak sibuk nanti malam. Memangnya kamu ada apa sampai mau bicara bertiga sama Mama dan papa? Kamu enggak buat masalah di sekolah sampai dapat surat panggilan ‘kan, Kak?” balas Arlan.
“Suudzonnya kejauhan. Memangnya aku pernah kaya gitu?” keluh Raka.
“Enggak. Makanya kalau ngomong itu yang jelas, Kak. Papa mana bisa membaca pikiran kamu. Pikiran Mama aja masih diterawang, lah kamu malah ngomong enggak dijelaskan dulu,” kata Arlan pada anaknya.
“Ya, pokoknya aku mau ngobrol aja sama Mama, sama Papa. Kalau buat aku ini penting sih, Pa.” Raka mengatakannya tanpa memberitahu apa yang akan menjadi pusat bahasannya.
“Iya, terserah Kakak. Papa cuma akan dengarkan Kakak nanti.” Arlan pasrah dan membawa anaknya untuk datang ke kafe keluarga Farin terlebih dahulu untuk mengecek usaha yang menjadi tanggung jawab dia dan istrinya itu.
Raka masih menjadi primadona di kalangan karyawan kafe dan dia tidak pernah bosan kadang menggoda karyawan kafe hingga semua tertawa. Raka memesan segelas jus wortel untuk dia nikmati selama menunggu ayahnya yang juga sedang memeriksa jalannya usaha kafe itu.
Setelah semua selesai, barulah Arlan mengajak Raka untuk pulang. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan membawa Raka dengan hati-hati. Sampai di rumah, Raka segera turun dan masuk terlebih dahulu tanpa menunggu ayahnya.
Seperti yang sebelumnya Raka ucapkan, kali ini dia ingin berbincang dengan ayah dan ibunya. Dia membawa formulir yang tadi dia dapat untuk mengobrol dengan kedua orang tuanya. Raka masuk ke ruang pribadi Arlan saat pria itu mempersilakan dirinya masuk tanpa ibunya.
“Mama mana?” tanya Raka pada ayahnya yang sedang sibuk dengan berkas yang ada di depannya.
“Masih urus Adik dulu. Kamu duduk aja dulu, Kak. Itu apa yang kamu bawa? Serius bukan surat panggilan buat Mama atau Papa ‘kan, Kak?” Arlan melihat anaknya sebentar.
“Bukan, Papa. Kok ya enggak percaya banget sih sama aku. Aku enggak aneh-aneh di sana, Pa. Aku cuma sekolah dengan baik di sana,” kata Raka meyakinkan ayahnya yang sempat menatapnya curiga.
“Ya sudah kamu tunggu aja Mama sebentar,” kata Arlan yang masih bergelut dengan berkas di depannya.
Raka pun mulai mengisi formulir yang tadi dia dapat. Dia mengisi dengan teliti setiap data yang diminta dalam formulir tersebut. Arlan menyelesaikan pekerjaannya saat sang istri masuk dan belum sempat mendamprat dirinya. Dia duduk di samping anaknya yang sedang mengisi data di formulir yang ada di depannya.
“Kak, ada apa? Kata Papa, kamu mau ajak Mama sama Papa ngobrol. Masalah apa, Kak?” tanya Farin yang duduk di samping Raka.
“Ma, aku ‘kan sudah enam belas tahun habis ini. Tahun depan aku mau tujuh belas tahun, Ma. Sudah besar, ‘kan? Sudah boleh buat KTP juga, Ma, Pa.” Raka memulai pembicaraannya pada kedua orang tuanya.
“Lalu?” tanya Arlan pada anaknya.
“Bukan aku enggak suka kalau aku terus diantar sama Mama atau Papa, tapi aku juga boleh ‘kan belajar naik kendaraan sendiri, Ma, Pa? Aku mau sekali aja naik kendaraan sendiri, Ma, Pa.” Raka mengutarakan apa yang dia inginkan pada kedua orang tuanya.
“Papa bukan enggak mau kamu naik kendaraan sendiri. Papa masih belum ada waktu buat ajari kamu, Kak. Papa lebih baik kamu naik kendaraan sendiri atau Papa antar daripada kamu naik angkutan umum, Kak.” Arlan membalas perkataan Raka.
“Mama enggak setuju. Kakak enggak usah aneh-aneh deh, Kak. Kakak masih sekolah dan Mama enggak akan setuju kalau Kakak belajar kendaraan sekarang. Mama tetap tolak, enggak usah bujuk Mama pakai apa pun!” Farin langsung menolak apa yang anaknya minta.
Raka menghela napas berat saat melihat ibunya langsung keluar dari ruang pribadi Arlan. Arlan sendiri mengusap bahu anaknya yang terlihat sedikit kecewa dengan keputusan Farin yang melarang Raka melakukan apa yang diinginkan anaknya itu.
“Mama hanya khawatir sama kamu, Kak. Nanti juga Mama akan luluh kok, selama kamu juga enggak akan banyak tingkah meminta terus ke Mama. Kamu ingat ‘kan waktu kamu minta action figure mahal dan Mama larang kamu, Papa bisa beli bahkan dapat izin dari Mama langsung. Kamu tenang ya, nanti Papa juga akan bicara sama Mama, tapi pelan-pelan. Mama orangnya akan luluh kalau Kakak mau membujuknya perlahan tanpa kesan yang kentara, Kak.” Arlan menghibur anaknya itu dengan lembut.
“Ya sudah deh, Pa. Aku juga enggak paksa kok. Aku cuma tanya aja,” kata Raka pasrah.
Bersambung …