Memikirkan Izin Mama

1913 Kata
Setiap penerimaan anggota baru dari salah satu organisasi pasti akan mengadakan acara bersama terlebih dahulu. Begitu juga dengan Raka yang akhirnya diterima menjadi anggota OSIS di sekolahnya. Raka melihat undangan yang dia terima untuk mendapatkan izin dari orang tuanya. Dia membaca kembali undangan itu dan menerka tentang izin ibunya yang masih dalam mode ngambek karena dirinya membicarakan dengan ayahnya keinginannya untuk boleh mengendari kendaraan sendiri. Dia memasukkan undangan dan surat izin yang harus ditandatangani oleh orang tuanya. Raka memilih untuk keluar dari kelasnya yang sedang tidak ada pelajaran karena gurunya sedang ada urusan. Dia memilih untuk berjalan-jalan di sekolahnya dan tidak jarang dia bertemu dengan orang yang mengenalnya karena Arya terkadang memberitahu orang yang mengenal Farin, bahwa dirinya adalah anak dari Farina Azzalea. “Mau ke mana, Ka?” tanya seorang guru olahraga yang muncul dari arah berlawanan membuat Raka menyalaminya. “Mau cari bolpoin di koperasi, Pak.” Raka berdusta pada guru tersebut. “Jam pelajaran siapa, Ka?” tanya guru itu lagi. “Jam pelajarannya Pak Rendi, Pak. Cuma katanya Pak Rendi lagi ada urusan, Pak.” Raka menjawab dengan sopan pria yang ada di depannya. “Mamamu gimana? Sehat? Saya mau ketemu Mama kamu lupa terus mau hubungi Mamamu,” tanya pria itu yang juga mengenal ibunya. “Mama sehat, Pak. Lagi sibuk di rumah aja. Paling juga buat kue atau ikut urus kafe. Mama juga jarang main HP kalau enggak ada yang hubungi dulu, Pak. Jadi, mungkin Mama juga enggak akan join ke alumni sekolahnya,” kata Raka pada gurunya itu. “Ya sudah salam aja dulu ya, Ka. Bilang dari Vedo gitu ya, Ka.” Guru itu kemudian pergi ke ruang guru dan Raka melanjutkan jalannya. “Mama ternyata banyak juga temannya.” Raka bergumam pada dirinya sendiri. Meski Raka menyukai belajar, tapi dia juga tidak munafik jika dia juga menyukai jam kosong seperti ini. Hal yang paling langka yang dia dapatkan di sekolah ini sejak mereka menerapkan sistem ajar bertaraf internasional, meski masih bersifat percobaan. Raka masuk ke masjid yang ada di lingkungan sekolahnya dan berdiam diri di sana. Saat jam pulang menyapa barulah Raka kembali ke kelasnya. Dia mengambil tas dan keluar dari kelas yang mulai ditinggalkan oleh teman-temannya yang sudah pulang terlebih dahulu. Dia keluar dari sekolahnya dan melihat mobil Arlan sudah berada di depan sekolah. Raka segera menghampiri mobil ayahnya dan masuk ke mobil itu. Arlan yang sedang memainkan HPnya langsung menoleh ke arah sampingnya dan melihat anaknya mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Arlan membalas uluran tangan itu dan menaruh HPnya ke sampingnya. “Kenapa lama banget keluarnya, Kak? Perasaan teman-temanmu sudah dari tadi keluarnya,” tanya Arlan yang mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Aku di masjid tadi, Pa. Maaf lama,” kata Raka pada ayahnya yang menunggunya sedari tadi. “Oalah. Ya sudah, kita pulang ya. Enggak ada yang tertinggal, ‘kan?” Arlan mulai menjalankan mobilnya saat melihat anaknya menganggukkan kepalanya. “Pa, Mama masih mode ngambek enggak sama aku?” tanya Raka yang menoleh ke arah ayahnya. “Enggak lah. Mamamu memang kaya gitu, tapi ngambeknya sudah selesai biasanya. Kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan sama Mama? Kamu khawatir Mama enggak mau dengar kamu?” balas Arlan melihat ke arah anaknya sebentar. “Mama akhir-akhir ini sampai tadi pagi terasa lebih dingin. Jarang banyak bicaranya, Pa. Tanggapan buat aku yang banyak cerita aja kaya cuma template yang enggak akan berubah. Biasanya Mama akan kasih gambaran lebih banyak gitu, Pa. Aku jadi merasa bersalah, Pa. Aku enggak akan memaksa Mama buat kasih izin aku belajar kendaraan kok, Pa. Aku serius bilang kaya gitu,” kata Raka pada ayahnya. “Nanti Papa bantu bicara sama Mama ya, Kak. Mama mungkin punya alasan kenapa Mama enggak mau kamu belajar kendaraan sampai diamkan kamu sekarang. Kamu sudah mau ujian semester. Kamu fokus belajar aja, Mama pasti akan membaik kok, Kak.” Arlan menenangkan anaknya yang terlihat khawatir dengan apa yang akan menjadi respons dari ibunya. “Gimana aku bisa tenang, kalau Mama aja enggak mau bicara sama aku?” gumam Raka pelan. *** Raka mengeluarkan surat izin dan undangan untuk menghadiri LDKS OSIS yang harus dia ikuti. Dia masih berada di kamar sejak pulang sekolah dan menyelesaikan semua urusannya di kamar tanpa keluar sedikit pun. Dia masih menatap ragu lembaran yang ada di depannya. Ketukan pintu kamarnya membuat Raka membalikkan kertas itu dan kembali membuka buku yang tadinya sudah dia tutup. Dia mempersilakan pembuat ketukan masuk dan terlihat adik laki-lakinya masuk menghampirinya. Dia tersenyum melihat Icam membawa buku ke arahnya. “Kakak kenapa enggak keluar dari kamar? Kakak sibuk?” tanya Icam pada kakaknya saat telah berada di samping kakaknya. “Iya, Kakak tadi lagi kerjakan banyak tugas. Kenapa? Kamu mau tanya sesuatu?” balas Raka yang melihat adiknya membuka buku di sampingnya. “Aku mau Kakak jelaskan ini. Bisa? Ana enggak mau kasih tahu, padahal tadi nilai dia lebih besar dari aku, Kak.” Icam meminta kakaknya menjelaskan tentang pelajaran yang tidak dia mengerti. Raka mengajarkan sedikit hingga adiknya itu merasa cukup. Icam pamit keluar karena tidak ingin mengganggu kakaknya yang sedang belajar. Dia sudah merasa beruntung Kakaknya memberitahu dan menjelaskan apa yang dia tidak mengerti. Raka menghela napas panjang saat adiknya sudah keluar dan menutup pintu kamarnya kembali. Ini sudah masuk jam makan malam di keluarga Raka, tapi baik Arlan atau Farin masih belum mencari Raka. Itu membuat Raka malah menghabiskan waktunya di dalam kamar. “Kak, enggak mau makan?” tanya Arlan yang baru saja membuka kamar anaknya. “Papa ngagetin aja,” kata Raka melihat ke arah ayahnya yang tidak mengetuk pintu. “Habis ini aku turun, Pa. Papa bisa turun dulu kok,” lanjut Raka. “Oke, Papa tunggu di bawah sama Mama dan adik ya.” Arlan kembali keluar dan menutup pintu kamar anaknya. Raka berjalan turun karena tidak ingin membuat keluarganya menunggu lebih lama. Dia tersenyum saat Ana menyapa dirinya. Raka duduk di samping Icam yang sudah berada di meja makan. Raka hanya diam tidak banyak berbicara. “Ma, Papa mau ngomong sama Mama setelah makan ya.” Arlan mengatakannya pada istrinya. Raka menoleh ke arah kedua orang tuanya. Dia hanya diam dan tidak menyahuti apa pun. Dia segera kembali ke kamar setelah selesai makan malam. Raka pamit dengan sopan kepada kedua orang tuanya. Di kamar dia masih diam di meja belajar. Dia sudah mengisi surat izin yang harus ditandatangani oleh orang tuanya, tapi dia tidak memberikannya pada orang tuanya. “Mama masih diam, pasti enggak kasih izin nih,”keluh Raka pada dirinya sendiri. Raka memilih duduk di tempat tidur dan menghidupkan tablet yang ada di nakas. Tablet itu biasanya hanya Raka gunakan saat tidak ingin menggunakan HP di waktu belajar. Dia kini menggunakannya untuk memutar video di Youtube. Dia menonton apa pun yang bisa dia tonton. Suara ketukan pintu membuat Raka menoleh dan melihat ayahnya yang muncul dari balik pintu. Raka menghentikan aktivitasnya dan menaruh kembali tablet yang dia pakai. Arlan masuk sembari menggenggam tangan istrinya. Raka mengerutkan keningnya melihat kedua orang tuanya masuk bersama. “Papa mau ngobrol sama Mama di kamar Kakak boleh?” tanya Arlan. “Oh, Papa mau pakai kamar aku? Boleh, aku keluar dulu aja kalau gitu,” jawab Raka yang berdiri dari posisinya. “Enggak. Papa juga mau ngobrolnya sama Kakak,” kata Arlan membuat Raka terdiam melihat ibunya. Arlan menyuruh istrinya duduk bersama dengan Raka di tempat tidur. Dia berdiri di depan istrinya yang menatapnya bingung. “Sayang, aku tahu … kamu sayang banget sama Raka. Aku enggak tahu apa yang buat kamu melarang Raka buat belajar kendaraan, but itu enggak terlalu dia mau kok,” lanjut Arlan pada istrinya. “Ini mau bahas masalah kendaraan lagi?” tanya Farin dengan wajah datarnya. Raka menundukkan kepalanya tidak bisa melihat ibunya sangat dingin. Dia menahan diri untuk tidak membawa semuanya dengan perasaan. Dia sadar dia akan mudah menangis, jika itu mengenai keluarganya. “Bukan sepenuhnya salah sih. Aku enggak akan minta kamu izinkan Raka belajar sekarang atau dekat-dekat ini, enggak. Aku nyaman dan suka mengantar-jemput anak-anak. Aku bahagia, Sayang. Tapi, lihat kamu yang sampai sekarang masih diam sama Raka, aku enggak bisa tahan lagi. Aku enggak mau kamu sama Raka diam-diaman, Sayang.” Arlan menjelaskan maksudnya. “Papa, jangan bertengkar sama Mama. Mama enggak salah kok, Pa.” Raka menyahuti perkataan ayahnya. “Enggak, Kak. Mama sama Kakak sama salahnya.” Arlan mengatakan pada anaknya. “Oke, terus aku harus apa? Aku enggak diamkan Raka, aku masih tanggapi dia bicara sama aku.” Farin membela dirinya di depan suaminya. “Iya, kamu tanggapi dia, tapi dengan kata yang enggak seperti biasanya. Kata template yang kamu keluarkan saat kamu bosan,” balas Arlan. “Kakak merasa kaya gitu?” tanya Farin pada anaknya. “Maaf, Ma. Aku merasa kaya gitu. Aku yang tanya ke Papa tentang Mama. Maaf,” jawab Raka tidak berani melihat ibunya. “Anak kamu dari tadi mikirkan ini. Dia punya hal yang mau dibicarakan sama kamu, sama aku, tapi dia enggak berani kasih tahu dari tadi. Kamu sadar akan itu?” tanya Arlan pada istrinya. “Mas, aku enggak ada niat buat diamkan Raka. Aku juga enggak niat balas Raka kaya gitu.” Farin menoleh ke suaminya yang masih berdiri di depannya. Dia menolehkan kembali wajahnya ke arah anaknya. “Kakak mau bicara apa sama Mama? Mama dengarkan Kakak,” lanjut Farin. “Aku takut Mama malah enggak kasih izin, Ma.” Raka menunduk dalam saat suaranya mulai bergetar. “Izin? Izin apa dulu? Kakak cerita dulu sama Mama. Enggak usah sedih, Mama minta maaf kalau kesannya Mama enggak peduli sama Kakak kemarin-kemarin,” kata Farin menggenggam tangan anaknya yang masih menundukkan kepalanya. “Aku diterima jadi anggota OSIS, Ma. Aku harus ikut LDKS, tapi Mama masih diam. Aku enggak mau Mama semakin marah dan diamkan aku, Ma. Aku enggak maksa Mama kasih izin aku dalam hal apa pun. Aku enggak papa kok, kalau ditolak OSIS, Ma. Aku lebih baik ditolak daripada aku harus didiamkan Mama.” Raka perlahan mengangkat kepalanya melihat ibunya. Farin membawa Raka ke dalam pelukannya. Dia dengan lembut mengusap punggung anaknya yang sedang bersedih karena dirinya. Dia tidak menyuruh Raka diam, tapi dia tetap memeluk erat anaknya. “Maaf, Kak. Mama enggak akan larang Kakak ikut apa pun kok. LDKSnya di mana? Ada surat izinnya? Kasih Mama sini,” kata Farin pada anaknya. Raka melepaskan pelukan itu dan berdiri mengambil selebaran yang sedari tadi menjadi pusat keraguannya. Dia memberikan pada Farin yang langsung membacanya. Arlan masih diam di depan istri dan anaknya. Farin memberikan kertas itu pada Arlan untuk membacanya juga. Farin kembali memeluk anaknya. “LDKS setelah ujian ya. Mama kasih izin kok, Kak. Sudah ya, maafkan Mama yang buat Kakak kaya gini. Masalah naik kendaraan, Mama belum bisa kasih izin Kakak. Kakak enggak marah, ‘kan?” Farin menghapus air mata anaknya. “Enggak, Ma. Aku enggak marah. Aku tahu Mama pasti punya alasan, meski Mama belum kasih tahu apa alasan Mama melarang aku. Aku enggak masalah, Ma.” Raka dengan yakin mengatakannya pada ibunya. “Ya sudah, Kakak lanjutkan apa yang jadi kegiatan Kakak tadi. Suratnya Mama bawa dulu ya. Nanti kalau sudah Mama atau Papa tandatangani, Mama kasih lagi ke Kakak. Kalau besok sudah harus dikumpul, Kakak minta aja besok ya?” Farin tersenyum melihat anaknya yang sedang menatapnya sendu. “Aku sayang Mama, jangan marah lagi ya, Ma.” Raka memeluk ibunya kembali. “Papa juga sayang kalian, jangan diam-diaman lagi ya. Papa jadi bingung kalau kalian diam,” sahut Arlan yang ikut memeluk anak dan istrinya. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN