Masa pendaftaran baru saja dilewati, Raka hanya harus menunggu pengumuman untuk mengetahui hasilnya, dia masuk atau tidak di sekolah tersebut. Hari ini Raka dan dua adiknya memilih untuk menginap di rumah Karin karena Imam, Yangkung mereka datang. Farin hanya mengiyakan dan menuruti semua permintaan anak-anaknya. Farin malah diminta Arlan untuk menemaninya di kantor setelah mengantar anak-anaknya.
Raka masih betah berada di ruang keluarga rumah Karin menemani Yangkungnya yang sedang membaca koran. Dia memilih memainkan HPnya selagi menemani Yangkungnya membaca koran. Raka melihat sebentar Yangkungnya yang masih berada di sampingnya.
“Kak, pengumuman sekolahnya kapan?” tanya Imam yang menutup korannya.
“Masih dua minggu lagi, Yangkung. Yangkung di sini sampai kapan? Lama kah?” balas Raka yang menaruh HPnya.
“Belum tahu, Kak. Paling juga tiga hari aja di sini. Yangtimu masih sakit itu, jaga ya Yangtinya, Kak.” Imam mengingatkan cucunya untuk menjaga Karin.
“Yangkung, aku boleh tanya enggak?” tanya Raka pada Imam membuat pria tua itu menaruh semua perhatiannya pada cucu pertamanya.
“Apa, Kak?” balas Imam.
“Kenapa dulu Mama enggak suka sama keluarga Yangkung. Raka juga enggak boleh terlalu dekat sama keluarga Yangkung, makanya Yangkung yang sering ke sini. Kenapa?” tanya Raka yang tidak pernah mengungkit itu pada keluarganya.
“Karena Yangkung pernah buat salah sama Mama dan Yangti. Kakak jangan tanya sama Mama. Kakak cukup jadi Kakak kaya sekarang enggak membenci siapa pun, Yangkung minta maaf sekali enggak bisa kasih tahu apa salah yang Yangkung lakukan, Kak. Yangkung enggak siap dengar respons Kakak,” jawab Imam pada cucu pertamanya.
“It’s okay, Yangkung. Aku enggak marah kok, kalau Yangkung enggak mau jawab juga. Cuma aku tadinya penasaran aja. Ya sudah, Yangkung istirahat aja dulu. Ini sudah siang banget. Aku mau ke Yangti buat bantu minum obat dulu. Habis ini pasti Mama sama Papa pulang sekalian jemput Adik,” kata Raka yang memasukkan HP ke saku dan pamit untuk ke atas terlebih dahulu membantu Karin untuk meminum obat yang menjadi rutinitas wanita yang melahirkan dan membesarkan ibunya, Farina Azzalea.
Dugaan sangat benar tentang kedua orang tuanya yangpulang bersama dengan dua adiknya. Raka dapat mendengar suara kedua adiknya dari kamar Karin setelah wanita yang semakin renta itu mulai terlelap karena efek obat yang baru saja dikonsumsi. Raka segera keluar setelah memastikan Yangtinya tidur dengan lelap.
“Yangkung, lihat Mas Icam. Aku selalu disalahkan sama Mas Icam. Dia yang enggak mau berbagi s**u kotak itu sama aku.” Suara Ana yang jelas dapat terdengar oleh Raka yang masih berjalan mendekati kedua adiknya.
“Ana cukup!” Arlan yang baru saja masuk memperingati anak perempuannya yang langsung terdiam begitu mendengar suara Arlan. “Maaf, Yah. Baru datang jadi ramai kaya gini,” lanjut Arlan yang menyalami mertuanya.
“Enggak papa, Lan. Namanya juga anak-anak, ada aja tingkahnya.” Imam tersenyum melihat dua cucunya yang masih dalam perkembangan.
“Kalau menurut Raka, meski mereka anak-anak, mereka enggak seharusnya bertengkar terlalu sering. Mama sama Papa sudah terlalu sabar menghadapi mereka, Yangkung,” kata Raka yang baru saja mendekat dan ikut duduk di samping kedua orang tuanya setelah menyalami keduanya.
“Kak, sudah. Adiknya sudah diam itu. Enggak usah diperpanjang lagi,” kata Farin yang melarang Raka untuk meneruskan bahasannya.
***
Jam makan malam menyambut dan Raka masih menemani Farin yang sedang membantu Karin untuk makan sebelum meminum obatnya. Si kembar sedang bersama dengan Yangkungnya dan Arlan sedang pamit untuk salat berjamaah di masjid. Farin pun tidak pernah melarang. Raka yang biasanya ikut, hanya ingin menemani Karin untuk saat ini. Arlan pun tidak melarang selama anaknya itu tidak melupakan kewajibannya.
“Adik kamu sudah makan, Kak?” tanya Karin pada cucunya yang setia berada di sampingnya dan bercerita banyak hal yang menarik untuk dibagi.
“Masih main berdua ditemani sama Yangkung. Yangti cepat sembuh ya, biar bisa main sama kita lagi,” kata Raka yang tersenyum dengan manis pada wanita renta yang kini menaruh perhatian penuh padanya
“Aamin, Kak. Doakan aja, Kak. Yangti juga mau sembuh kok,” kata Karin pada cucunya yang sedang bersama dengannya dan merawatnya dengan penuh perhatian. “Kamu juga, Kak. Anak-anak sama suami kamu ajak makan malam. Ada Ayah juga loh, Kak. Jangan lupa makan malam sana,” lanjut Karin pada anaknya yang baru saja menaruh piring yang baru saja digunakan untuk membantu Karin makan.
“Iya, Bun. Habis ini aku siapkan makan malam buat semua. Mas Arlan juga masih betah di masjid, belum pulang tuh,” kata Farin menjawab perkataan ibunya.
“Mama siapkan makan malam aja, aku yang bantu Yangti minum obat. Aku sudah hafal obatnya Yangti kok,” kata Raka yang meminta ibunya mengikuti apa yang Karin katakan .
“Iya sudah, kalau gitu, Mama siapkan makan malam dulu ya. Kalau sudah selesai, Kakak juga segera turun ya. Makan malam sama-sama, oke?” Farin mengambil semua peralatan yang digunakan untuk membatu Karin.
Farin turun dan mendengar anak-anaknya yang mulai mendrama di depan Yangkungnya. Satu persatu mereka saling mengadukan pada Yangkungnya apa yang mereka lakukan, tidak jarang mereka saling menyalahkan, jika membahas tentang marahnya Arlan pada Yangkungnya. Farin yang mendengar dengan samar-samar hanya menggelengkan kepalanya.
Tangisan Ana terdengar membuat Farin meninggalkan semua yang baru saja dia siapkan di meja makan untuk makan malam. Farin segera ke halaman belakang untuk melihat apa yang terjadi dengan anak-anaknya. Dia segera menghampiri anak gadisnya yang terduduk di depan gazebo dan memegang kakinya.
“Adik kenapa?” tanya Farin yang langsung menyamakan tingginya dengan Ana.
“Sakit, Mama.” Ana menangis dan meminta untuk dipeluk oleh Farin.
“Ana jatuh, Mama. Dia banyak tingkah sendiri kok. Aku enggak apa-apakan. Yangkung juga tahu kok. Iya ‘kan, Yangkung?” Icam menyahuti apa yang menjadi pertanyaan ibunya.
“Ayo masuk aja Mas. Adik jalan pelan-pelan, Mama sudah enggak kuat kalau gendong kamu, Dik.” Farin berdiri dan membantu Ana untuk berjalan, meski dengan kaki yang sedikit pincang. “Mas, minta tolong ambilkan obat di kamar Mama ya. Di tas Mama ada kayanya ya,” lanjut Farin meminta tolong pada anaknya.
Icam hanya membalas dengan anggukan kepala dan segera melakukan apa yang menjadi permintaan ibunya. Ana duduk di sofa dengan tangisan yang tersisa. Farin menenangkan anaknya hingga suaminya muncul setelah betah dari masjid.
“Adik kenapa nangis?” tanya Arlan mendekati anak perempuannya.
“Jatuh, Papa.” Ana menjawab dengan sesegukan membuat Arlan ikut mengambil tangan Ana dan melihat keadaan anaknya.
“Sudah diobati?” tanya Arlan kembali.
“Belum Pa, masih diambilkan Mas obatnya,” jawab Farin yang merasa ikut ditanya oleh suaminya.
Icam kembali dengan membawa beberapa obat yang menurutnya penting. Dia segera memberikan pada ibunya dan Arlan mengambil alih. Pria itu meminta Farin untuk melanjutkan kegiatannya dan dirinya yang mengurus anak-anaknya. Farin pun hanya mengangguk dan menuruti apa yang menjadi perkataan suaminya.
Raka menyusul turun dan melihat adiknya sedang bersama dengan ayahnya yang sibuk mengobati Ana. Icam banyak tanya tentang obat yang dipakai Arlan untuk merawat luka Ana. Raka yang tidak tahu apa-apa pun akhirnya ikut berkumpul dan menyalami ayahnya terlebih dahulu.
“Kamu dari mana, Kak?” tanya Arlan melihat Raka sebentar sebelum merapikan kembali perban di kaki Ana.
“Bantu Yangti minum obat. Kenapa memangnya, Pa? Ana sama Icam habis berbuat apa?” tanya Raka yang tidak mengerti apa yang terjadi.
“Enggak berbuat apa-apa, Kak. Ana tadi mempraktikkan dia yang dimarahi Papa, terus kesandung. Jatuh deh,” kata Icam menjawab pertanyaan Raka.
Mendengar jawaba dari adiknya, Raka ingin tertawa. Bagaimana bisa Icam sepolos itu menjawab pertanyaannya dan menyangkutkan ayahnya yang jelas ada bersama dengannya. Raka menahan keinginannya tertawa karena akan membuat Ana salah paham dan semakin menangis nantinya. Raka hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap kepala Ana lembut.
“Lain kali jangan banyak tingkah ya, Dik. Kamu banyak drama banget sih, jadi cewek.” Raka mencubit pelan pipi adiknya yang baru saja selesai menangis.
Bersambung …