Jam tangan menunjukkan waktu yang semakin sore dan Raka masih berada di kafe karena Farin yang kini tengah sibuk berbincang dengan manajer kafe. Raka tahu dari ibunya itu, jika ada seorang karyawan yang akan resign dari kafe karena itu Farin ingin ikut berpartisipasi dalam farewell party yang diadakan oleh manajer kafe itu.
Jika kalian, terutama para cowok, bilang menunggu ibu-ibu itu membosankan, Raka ingin mengakui itu juga. Ada rasa bosan hanya menunggu di sudut ruangan sembari dia menentukan pilihannya untuk masa depannya. Namun, dia juga tidak ingin merusak kebahagiaan ibunya yang sedang tersenyum lebar karena bisa ikut berkumpul dengan para karyawannya.
Farin sudah mengatakan tidak akan sampai malam mengikuti acara ini. Wanita itu memberikan budget untuk acara yang para orangnya adakan. Farin hanya akan berada di kafe hingga jam pulang kantor Arlan menyapa. Begitu setidaknya yang Raka dengar dari ibunya tadi.
Ponsel Raka berbunyi dan membuat Raka mengangkat panggil dari ayahnya yang menyapa. Arlan jarang sekali menghubunginya, jika dirinya tidak berbuat hal yang membuat pria itu mengkhawatirkannya. Raka segera mengangkat dan menyapa dengan sopan ayahnya yang ada di ujung sana.
“Halo, assalamualaikum, Pa. Ada yang bisa aku bantu?” tanya Raka begitu mengangkat panggilan dari ayahnya yang juga menjawab salam Raka dengan cepat.
“Mama ke mana, Kak? Kok Papa telepon enggak ada jawaban terus, Kak. Mama lagi sama Kakak, ‘kan? Tadi katanya mau ke kafe. Sendiri atau sama Kakak?” tanya Arlan bertubi membuat Raka ingin menertawakan ayahnya yang selalu mudah panik, jika Farin tidak ada kabar.
“Satu-satu tanyanya, Pa. Kaya apa aja, langsung diserbu. Kakak jawab nih. Iya, Mama di kafe sama aku. Kenapa enggak angkat telepon Papa? Kayanya HP Mama ada di tas. Ini tasnya ada di depan aku. Mama lagi ngobrol sama manajer kafe, Pa. Sudah, ada yang perlu aku jawab lagi, Pa?” tanya Raka dengan nada menggoda ayahnya membuat Arlan diujung sana berdecak kesal.
“Kalau Mama sudah selesai ngobrol, bilang Papa hubungi Mama dari tadi. Jaga Mamanya, Kak. Mamamu itu diam-diam banyak yang naksir,” kata Arlan dari ujung sana.
“Iyalah, Mama Raka ‘kan cantik, bodynya juga bagus.” Raka menggoda ayahnya yang langsung melemparkan banyak kalimat indah yang masuk ke telinga Raka. “Ya sudah, Pa … nanti aku sampaikan ke Mama. Papa lanjut aja kerjanya, biar Mama enggak lihat cowok lain,” lanjut Raka sebelum pamit dan mematikan sambungan panggilan itu.
Hubungan antara Arlan dan Raka memang terkadang terlihat seperti teman, tapi itu tidak membuat Raka lupa diri bahwa dia juga harus menghormati Arlan sebagai ayahnya. Arlan pun juga seperti itu, memang sudah sejak Raka kecil, Farin sering mencoba untuk membuat keluarganya berbaur menjadi apa pun, meski tetap harus saling menghormati.
Farin kembali dan melihat Raka yang baru saja menaruh HPnya. Farin duduk di depan anaknya dan menyeruput jus melon yang ada di depannya. Raka menyampaikan pesan dari ayahnya yang langsung membuat Farin mengecek HPnya yang ditinggal di tas.
“Papa bilang apa aja, Kak?” tanya Farin sembari mengecek HPnya.
“Itu tadi sama aku suruh jaga Mama, katanya Mama diam-diam banyak yang naksir gitu, Ma.” Raka menjawab dengan jujur apa yang ayahnya katakan padanya.
Farin tertawa pelan mendengar jawaban dari anaknya. Raka pun menceritakan apa jawabannya untuk perkataan ayahnya itu yang membuat Arlan langsung memberikan kalimat indah untuknya. Farin hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar kisah dari anak sulungnya.
“Papa itu bucin banget ya, Ma, sama Mama. Kaya yang benar-benar enggak mau Mama diambil orang,” kata Raka memangku wajahnya menatap wajah cantik ibunya.
“Iya. Papa kamu ya, kaya gitu, Kak. Padahal Papamu sendiri juga banyak yang naksir. Mana masih muda semua rata-rata yang naksir sama Papamu, gitu kok ya, malah mengkhawatirkan Mama. Enggak sampai kadang Mama ke pikirannya Papamu,” kata Farin yang masih sibuk sama HPnya membalas pesan dari suaminya. “Oh ya, gimana hasilnya, Kak? Mau dibicarakan sama Mama atau sekalian sama Papa?” lanjut Farin.
“Sekalian sama Papa aja deh, Ma.” Raka memberikan keputusan pada ibunya dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya sebentar.
“Papa agak terlambat pulangnya. Ada meeting dulu sama client ini baru jalan. Kamu enggak papa tunggu Papa pulang?” tanya Farin melihat anaknya.
“Enggak papa dong. Masa tunggu ayahnya sendiri bermasalah. Mama masih lama di sini?” Raka mengedarkan pandangan melihat seluruh pengunjung sudah berganti orang sedari tadi, tapi dirinya masih sama duduk di tempatnya dan menunggu ibunya.
“Habis ini kita pulang.” Farin memasukkan kembali HPnya ke tas. Raka hanya mengangguk dan menunggu ibunya menghabiskan jus yang ada di depannya.
***
Definisi agak telat ala seorang Arlan da Costa adalah tiga jam. Raka sudah beberapa kali berganti posisi rebahan di sofa menunggu ayahnya pulang hingga sudah ada beberapa buku komik yang baru saja selesai dia baca. Menunggu Arlan seolah membuat dirinya semakin mengantuk, padahal mereka ingin makan malam bersama seperti biasanya.
“Mas, Papa kok lama?” tanya Ana pada Icam membuat Raka menoleh ke arah dua adiknya yang berjalan dari ruang bermainnya.
“Itu Kakak, tanya Kakak aja.” Icam mengajak Ana mendekati Raka yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa.
“Apa? Kenapa Kakak-Kakak?” tanya Raka pura-pura tidak tahu apa yang menjadi bahasan adik-adiknya.
“Papa kok lama pulangnya? Aku sudah lapar, Kak.” Ana duduk dan langsung mengangkat kedua kakinya untuk menumpu kepalanya.
“Tunggu sebentar, Papa pasti bentar lagi datang kok.” Raka menghibur adik-adiknya sebelum kedua adiknya semakin merengek, Raka memberikan camilan untuk adik-adiknya.
Setelah cukup lama menunggu Arlan, akhirnya pria itu datang dan keluarganya makan malam bersama. Raka langsung mengatakan pada ayahnya, jika dia ingin melakukan diskusi dengan Arlan dan Farin mengenai sekolahnya. Raka yang tidak ingin memaksa Arlan pun menanyakan kesediaan pria itu. Nyatanya pria itu langsung mengiyakan dan hanya mengatakan akan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Farin baru saja menemani dua anaknya yang sudah sangat mengantuk untuk tidur. Wanita itu berjalan menuju ruangan pribadi suaminya di mana anak sulung dan suaminya sedang berada. Farin membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Raka yang tengah sibuk dengan laptop, sedangkan Arlan memainkan HP di samping anaknya.
“Pa, kok malah main HP sendiri sih.” Farin menegur suaminya yang bermain HP di samping Raka.
“Raka masih cari file yang mau dia tunjukkan ke kita. Sambil tunggu dia, aku balas chat Gilang nih. Dia bilang Dana mau mampir ke rumah, cuma tanggal berangkatnya kapan, belum tahu pasti.” Arlan mematikan HPnya dan menaruhnya. Dia kembali fokus pada anaknya yang masih sibuk membuka beberapa file di laptopnya.
Raka menunjukkan file yang baru saja tadi sore dia kumpulkan dan memperlihatkan pada kedua orang tuanya untuk berdiskusi tentang sekolahnya. Farin dan Arlan membaca dengan saksama apa yang anaknya berikan. Arlan menganggukkan kepalanya melihat apa yang anaknya.
“So, sudah fix mau ke international school? Sudah dipikirkan dengan matang?” tanya Arlan melihat anaknya.
“Aku mau ke situ, Pa, tapi aku sedikit enggak yakin sama otakku. Apa aku bisa menyelesaikan sekolah di sana dengan baik dan benar. Aku enggak mau kalau sudah sekolah malah keluar dan memilih buat pindah sekolah, Pa. Litu merepotkan.” Raka mengeluarkan suaranya.
“Iya, memang itu merepotkan, Kak. Cuma yang harus Kakak ingat, Kakak itu pintar, Kakak bisa melewati sesulit apa pun pelajaran yang mungkin Kakak benci. Kakak pasti bisa melakukan apa yang Kakak mau.” Farin memberikan gambaran tentang pribadi anaknya sendiri.
“Kalau Kakak fix masuk situ, besok Kakak sudah bisa daftar. Di situ tadi tulisannya sudah dibuka pendaftarannya. Kalau Kakak mau sekolah negeri, Kakak harus mau tunggu dua hari lagi. Lagi, Kak … sekolah di mana aja itu sebenarnya sama, Kakak tanpa sekolah di international school aja sudah lancar bahasa asingnya. Papa sama Mama aja bangga sama Kakak. Sekarang Kakak mau langsung pilih atau masih mau dengar pendapat Mama sama Papa?” Arlan melihat anaknya yang sedang duduk di dekatnya.
“Aku merasa kalau aku di international school itu cuma bakal memuaskan gengsiku, Pa. Aku enggak mau kaya gitu, kalau di sekolah negeri yang sama kaya Mama, apa aku bisa, Pa?” tanya Raka melihat ayahnya yang menatapnya dengan wajah serius.
“Bisa, Mamamu di sana juga cukup terkenal. Kakeknya Mama itu dulu kepala sekolah di sana. Kayanya yang kenal sekarang cuma sedikit, karena Mamamu jarang banget datang reuni,” kata Arlan.
“Mama bakal cari tahu pendaftarannya dan sistem belajarnya di sana, kalau kamu mau tahu, Kak. Yangti yang masih punya kenalan di sana kayanya, tapi kamu pasti bisa masuk tanpa kenalan orang dalam, Kak. Mama yakin itu.” Farin membesarkan hati anaknya.
“Di sana, kamu harus tunjukkan hal paling baik dari didikan Mamamu. Buat bangga Mamamu, Papa enggak mau kamu main-main dan membuat malu Mamamu, Kak. Bisa?” Arlan menatap serius anaknya.
“Bisa, Pa. Jadi, aku diizinkan masuk sekolah Mama, ‘kan?” tanya Raka.
“Kalau itu pilihanmu, Papa dan Mama hanya akan memberikan dukungan dan doa terbaik buat kamu, Kak. Jadi, kamu pendaftaran dua hari lagi ya. Ini sudah fix ya?” Arlan melihat anaknya yang menganggukkan kepalanya dengan semangat membuat dia dan Farin tersenyum melihat anaknya bisa memutuskan sendiri apa yang dia inginkan dengan sedikit arahan dari mereka.
Bersambung …