“Mas! Mas Icam!”
Keributan kembali terjadi pagi ini membuat Raka memijat kepalanya melihat keributan adiknya. Kedua adiknya sama-sama keras kepala dan tidak ada yang ingin mengalah. Hal itu membuat Raka yang sedang menemani dua adiknya bersiap untuk sekolah malah merasa pusing melihatnya.
“Kalian bisa berhenti bertengkar enggak? Kakak panggil Papa nih lama-lama!” ancam Raka yang ampuh membuat dua bocah di depannya diam, meski saling membuang pandangan satu sama lain.
Ana seketika langsung duduk di samping Raka yang menemani mereka. Bibir Ana sudah terlihat mengerucut karena kesal. Icam sudah kembali diam dan hanya fokus dengan rubik yang dia pegang. Ana yang melihatnya langsung berdiri dan berbisik pada Raka.
“Icam sekarang nakal ya, Kakak.” Ana berbisik pada Raka yang langsung memberi respons matanya terpejam tanpa ingin membalas perkataan adiknya yang sedikit keterlaluan untuknya.
“Mas, kok main? Bukunya sudah semua?” Farin yang baru saja turun melihat anak-anaknya dan langsung menegur Icam yang sibuk dengan rubik di tangannya.
“Sudah, Mama. Aku tunggu Mama sama Papa selesai,” kata Icam menjawab pertanyaan ibunya dengan sopan.
“Adiknya rewel enggak, Kak?” tanya Farin pada Raka yang sedari tadi menemani dua bocah itu.
Raka tidak menjawab dan hanya memberikan senyum manis untuk ibunya mengisyaratkan untuk tidak khawatir dengan kedua bocah itu. Farin pamit ke belakang untuk menata sarapan di meja makan. Raka mendudukkan Ana dan Icam berdua di ruang keluarga sebelum ayahnya turun atau Farin kembali untuk memanggil mereka.
“Dengar Kakak! Ana, Kakak enggak suka kamu jahat sama Icam. Icam itu kakak kamu juga, meski kalian beda beberapa menit. Mama memlahirkan kalian bertaruh nyawa, jadi saling menghargai. Icam, Kakak enggak suka kamu suka membentak Ana. Ana perempuan sama kaya Mama, hargai Ana sama seperti kamu menghargai Mama, mengerti?” kata Raka memberitahu kedua adiknya yang hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku mau dipanggil Mas, sama kaya Ana panggil Kakak ke Kak Raka,” aku Icam pada Kakaknya.
“You got it, Cam. Ana, panggil Icam mulai sekarang Mas, dia kakak kamu juga loh. Enggak boleh kurang ajar sama yang lebih tua, oke? Nanti Kakak belanjakan sesuatu buat kalian, kalau Kalian bisa akur,” tawar Raka demi tidak mendengar adiknya bertengkar kembali.
“Oke,” kata Ana yang menyetujui permintaan Raka.
“Hayo, lagi bicarakan apa?” Arlan yang turun dan melihat anak-anaknya saling berbisik pun menyapanya. Dia mengecup satu persatu pipi anaknya dan ikut duduk bersama dengan ketiga anaknya.
“Enggak ada, Pa. Papa hari ini ada visit proyek enggak? Aku mau ikut Papa sekali-sekali gitu, Pa,” ujar Raka mengutarakan keinginannya.
“Besok kayanya, Kak. Besok aja kalau ikut, kamu juga belum siap-siap kalau ikut sekarang. Pasti kamu juga belum bilang Mama. Bisa kena semprot Papa kalau kamu tiba-tiba buat keputusan kaya gini. Oh ya, bicara sama Mama kamu mau daftar ke mana ya. Biar Mama bantu kamu daftar sekolah dan kamu enggak kebingungan nantinya. Kalau ada yang bisa Papa bantu, kamu bilang aja, Kak.” Arlan mengingatkan anak sulungnya untuk mendaftar sekolah.
“Pendaftaran dibuka dua hari lagi, Papa. Kalau sekarang itu sekolah swasta,” kata Raka mengeluh.
“Loh, katanya mau ke international school, Kak? Kalau itu sudah bka kok pendaftarannya. Coba Kakak cari dulu ya dan mantapkan mau masuk mana. Brosur yang dari Papa itu jadikan pertimbangan juga, Kak.” Arlan mengingat permohonan anaknya yang sangat dia dukung.
“Uangnya pasti mahal, Pa.” Raka mulai mendiskusikan keinginannya selagi menunggu Farin selesai menata sarapan.
“Uang enggak ada apa-apanya buat Papa. Papa akan selalu usahakan apa yang Kakak mau, asal Kakak serius sama keinginan Kakak. Mama sama Papa kasih dukungan full buat Kakak,” kata Arlan pada anaknya.
“Oke deh, nanti aku bicara sama Mama.” Raka mulai menghentikan diskusi dadakan yang dia buat. “Oh ya, Pa … tadi Papa bilang kalau ada yang Papa bisa bantu, aku suruh bilang Papa, ‘kan?” lanjut Raka.
“Iya. Sudah ada yang bisa Papa bantu?” tanya Arlan dengan wajah bingungnya.
“Jelas ada yang bisa Papa bantu dong.” Raka melihat ayahnya yang mengangkat sebelah alisnya menandakan sedang menunggu dirinya melanjutkan ucapannya. “Bayar pendaftarannya, Pa.” Raka tertawa melihat ayahnya mencebik bibir.
“Kalau itu sudah Papa kasih ke Mama. Papa sama Mama sudah mempersiapkan semua buat kalian. Makanya, kalian belajar yang rajin. Mengerti?” Arlan mengusap lembut rambut Ana yang berada di sampingnya.
Farin sudah memanggil mereka membuat semua langsung menuju ke meja makan sebelum Farin mengulangi panggilannya dan akan panjang urusannya. Farin melihat keluarganya yang datang bersama bahkan Ana menggenggam tangan ayahnya dengan erat. Dia tersenyum melihat keluarganya yang datang bersama dan Arlan menyempatkan untuk memberikan kecupan di pipinya.
***
Raka menemani Farin berada di kafe untuk memantau usaha yang dijalankannya. Raka tidak hanya diam menunggu, tapi dia juga memainkan laptopnya mencari info sekolah yang ingin dia masuki untuk dia diskusikan bersama dengan kedua orang tuanya. Farin dan Arlan membebaskan Raka memilih di mana dia akan sekolah.
Suara rintihan membuat Raka menoleh ke arah sumber suara. Raka berlari dan meninggalkan laptopnya melihat ibunya yang merintih. Raka langsung menghampiri Farin yang terkena pisau saat akan melakukan platting pada hidangan yang ada di depannya.
“Mama enggak papa? Bentar ya, Raka cari obat merah,” kata Raka yang ikut panik melihat jari ibunya yang berdarah.
Salah satu karyawan yang ada memberikan kotak P3K pada Raka dan anak itu langsung mengobati ibunya dengan telaten. Usia Raka memang masih sangat muda, tapi kebiasaannya sendiri dan menjaga adik-adiknya membuat dia tahu harus melakukan apa saat ada situasi seperti ini.
“Mama, hati-hati dong. Aku enggak mau Mama terluka kaya gini,” ucap Raka yang serak.
Farin meminta karyawannya meninggalkan dirinya bersama dengan Raka yang tengah menahan tangis sembari mengobati lukanya. Farin tersenyum melihat kehangatan anak sulungnya yang kini semakin dewasa. Farin mengecup kening anaknya membuat Raka menoleh ke arahnya.
“Mama enggak papa. Ini luka kecil, Kak. Mama sudah biasa sama luka kaya gini. Mama sering masak buat Kakak, Papa, Adik, itu juga sama resikonya. Kali ini tandanya keberuntungan Mama sedang menipis aja, Kak. Jangan sedih ya. Mama enggak papa kok, Kak. Farin menenangkan anaknya dengan memberikan senyuman yang sangat manis dan mirip dengan senyum milik Raka.
“Kalau Papa tahu, aku pasti kena marah juga. Aku enggak bisa jaga Mama dengan baik,” kata Raka melihat jari ibunya yang sudah terbalut perban.
“Enggak. Papa enggak akan marah sama Kakak. Papa pasti akan bilang terima kasih sama Kakak karena sudah bantu Mama dan obati Mama kaya gini. So, Kakak sudah nemu mau daftar di mana?” tanya Farin mengalihkan pembicaraan mereka.
“Sudah. Mama jangan bantu lagi ya. Mama di sini itu bos-nya. Kenapa malah mau bantu sih. Mama ngobrol aja sama aku, aku mau banyak tanya sama Mama,” ujar Raka pada ibunya.
“Oke, tunggu Mama dibangku Kakak. Laptop Kakak di sana. Mama mau ke kamar mandi dulu sebentar.” ucap Farin yang langsung dituruti oleh Raka.
Raka kembali dan menenangkan dirinya yang terlalu khawator dengan ibunya tadi. Sejak memutuskan selesai menjadi wanita karir, Farin memang hanya mengisi waktunya di kafe saat bosan. Wanita itu seolah tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang hanya menikmati uang dari suaminya. Kebiasaan untuk bekerja membuat Farin merasa aneh dengan dirinya yang hanya diam di rumah.
Raka pun memaklumi hal itu, hanya saja Raka sering khawatir ibunya terluka dan kelelahan. Dia tidak ingin Farin jatuh sakit. Karena keadaan rumah akan terasa berbeda saat Farin jatuh sakit. Raka tidak ingin hal itu terjadi.
Bersambung …