Farin-Arlan Moment

1294 Kata
Enam belas tahun bersama hingga memiliki tiga anak membuat kedua sejoli ini terlihat sangat bahagia dengan apa yang mereka dapat. Anak-anak yang sangat membanggakan untuk mereka membuat mereka tidak pernah berhenti bersyukur. Didikan mereka kepada ketiga anaknya yanv tidak memandang bulu membuat ketiganya semakin dekat dan saling membantu. Sejak kecil selalu bersama, Raka yang sudah biasa merawat adiknya pun tidak pernah canggung untuk membantu adiknya melakukan hal apa pun. Farin sangat jngat bagaimana dia harus meninggalkan ketiga anaknya sendiri di saat Arlan, suaminya tidak sadarkan diri. Setiap mengingatnya, Farin merasa bersalah. "Hayo, kamu lagi ngelamunin apa?" tanya Arlan yang memeluk istrinya dari belakang. Seolah tidak ingin angin malam mengganggu istrinya yang sedang berada di balkon kamar mereka, Arlan memeluknya erat. "Enggak ada sih. Aku cuma tiba-tiba ingat dulu aku tega banget tinggalkan anak-anak di sini bertiga. Karena itu malah jadi ingat Jaehyun, Mas. Dia 'kan terakhir kasih kabar istrinya hamil, Mas. Tiba-tiba aja aku ingat dia," jawab Farin. "Ingat Jaehyun apa kakaknya?" goda Arlan. "Kamu masih suka cemburu enggak sama Jae?" tanya Farin membalikkan badannya. "Enggak, karena kamu sendiri sudah membuktikan sama aku tentang kamu dan Jae. Oke, dulu aku emang cemburu banget sama dia, meski dia enggak ada di dunia ini, tapi kamu masih saja menyisihkan hatimu buat dia. Sekarang aku yang menangkan hati kamu, aku sudah yakin itu," jawab Arlan pada istrinya yang tengah tersenyum dengan manis. "Kamu selalu memenangkan hatiku, Mas. Apa pun yang kamu dengar tentang aku, langsung tanya aja ke aku ya. Jangan dengarkan orang lain, karena aku juga sama. Aku akan memperlakukan kamu seperti itu. Aku enggak mau ada salah paham yang buat kita ribut besar, Mas." Farin mengusap rahang Arlan yang baru saja dicukur oleb pria itu. "Pasti, Sayang." Arlan membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mencintai satu wanita selama enam belas tahun ini membuat Arlan sungguh tidak ingin kehilangan sosok permaisurinya. Arlan selalu memperlakukan Farin dengan sangat baik. Farin bahagia dengan semua perlakuan Arlan yang bahkan menurun ke anak-anak mereka. "Sayang, aku bakalan ada acara di luar kota, kamu mau temani enggak?" tanya Arlan yang masih memeluk istrinya dengan erat. "Mau banget ditemani, Mas?" tanya Farin pada suaminya. "Iya, tapi kamu bakal sibuk cari sekolah buat Raka. Mau daftar di mana dia?" balas Arlan. "Raka mau di sini-sini aja sekolahnya, Mas. Dia belum ngomong lagi mau daftar ke mana," kata Farin. "Kayanya harus ngalah deh," ucap Arlan. "Enggak papa 'kan, ngalah dulu sama Raka?" tanya Farin yang mendongakkan kepalanya melihat sang suami. "Enggak papa dong. Aku enggak bakal cemburu sama Raka. Yang sekarang sering bikin cemburu itu Icam. Sedikit-sedikit sama kamu, maunya sama kamu terus," jawab Arlan. "Dulu kamu suka banget cemburu sama Raka, sama Icam juga. Sekarang sama Icam, masa sama anak sendiri cemburu sih, Mas. Icam juga nempel ke aku karena Ana sering enggak mau ikut aku,” balas Farin. “Icam sama Ana itu keterbalikkan ya. Kelihatan banget didikan Raka di Icam,” kata Arlan mengusap lembut puncak kepala istrinya. “Jangan buat anak-anak menanggung beban kaya gitu lagi, Mas. Kamu sudah janji bakal adil sama mereka,” ucap Farin. “Iya, kalau aku mulai kelewatan ingatkan aku ya. Aku hanya manusia biasa yang kadang suka buat kesalahan, Sayang. Ingatkan aku saat menurutmu aku berbuat kesalahan,” balas Arlan. Suara teriakan Ana dan Icam membuat kedua sejoli itu berlari keluar kamar. Mereka ingat anak-anak mereka sudah tidur. Arlan melihat kedua anaknya yang sedang ribut di kamar Icam. Arlan memang ingat menidurkan mereka bersama dan mereka setuju untuk tidur berdua. “Ada apa ini?” tanya Arlan melihat kedua anaknya yang masih bertengkar. Raka pun hingga ikut ke kamar adiknya. “Ada apa, Ma?” tanya Raka. “Enggak ada yang mau jawab Papa?” Suara Arlan mulai sedikit meninggi karena kedua anaknya tidak ada yang menjawab pertanyaannya, tapi saling menatap penuh kemarahan. “Icam yang salah!” Ana membuka suaranya dan menunjuk Icam dengan wajah kesalnya. “Ana yang semaunya sendiri!” Icam membalas ucapan Ana yang menyalahkannya. “Cukup! Sudah malam!” Suara Arlan mampu membuat keduanya semakin diam. “Ada apa sih, Sayang? Sini coba bilang sama Mama,” ucap Farin mendekati dua anaknya sebelum Arlan semakin emosi melihat anak-anaknya bertengkar. “Icam jahat sama aku. Dia enggak mau antar aku ke kamar mandi, Mama.” Ana menceritakan apa yang membuatnya dengan Icam bertengkar. “Kalau Icam kenapa marah sama Ana?” tanya Farin dengan sabar. “Kamar mandinya dekat, Mama. Aku juga enggak ke mana-mana, aku ngantuk, Mama, tapi Ana paksa aku sampai dorong aku jatuh dari tempat tidur, Mama. Aku enggak boleh marah sama Ana?” Icam melihat Farin dengan wajah sendunya. “Ana kenapa tiba-tiba takut ke kamar mandi?” tanya Farin terlebih dahulu di depan kedua anaknya. “Hontu. Aku habis nonton hontu sama Kak Lani tadi, Mama. Aku takut kalau ada hontu beneran gimana?” balas Ana. “Siapa yang suruh Ana lihat hantu?” sahut Arlan. “Pa, sudah dong. Kamu keluar deh!” keluh Farin mendengar suaminya yang sewot dengan keramaian anak-anaknya. Farin pun mendamaikan kedua anaknya. Raka yang tidak ingin terulang lagi pun mengajak Ana untuk tidur bersama dengannya. Farin menemani Icam terlebih dahulu untuk tidur bersama dengannya. Icam memeluk erat ibunya dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan ibunya. “Kenapa, Sayang?” tanya Farin saat memeluk anaknya. “Papa marah sama aku ya, Ma? Aku nakal?” balas Icam. “Enggak, anak-anak Mama sama Papa enggak ada yang nakal kok. Papa enggak suka anak-anaknya bertengkar. Papa enggak suka kalian berselisih, apalagi masalah sepele kaya tadi. Kalian enggak seharusnya bertengkar, Sayang.” Farin memberitahu anaknya. “Mama, aku kakaknya Ana, 'kan?” tanya Icam melihat ke arah ibunya. Farin menganggukkan kepalanya dan menunggu anaknya melanjutkan perkataannya. “Kenapa Ana enggak panggil kakak ke aku?” lanjut Icam kembali. “Icam mau dipanggil Kakak?” tanya Farin pada anaknya. “Tapi nanti sama kaya Kakak. Kalau panggilan yang lain enggak papa kaya Aa’. Abang, terus apa lagi ya?” balas Icam. “Kalau gitu mulai sekarang Mama mau panggil Icam pakai Mas ya. Mas Icam, oke?” Farin memberikan kesimpulan dengan senyum yang menenangkan anaknya. “Mau. Kaya Tante Hana panggil Papa,” kata Icam. “Kalau gitu sekarang Mas tidur dulu ya,” kata Farin menidurkan anaknya. Setelah Icam tidur, Farin keluar dari kamar anaknya dan melihat Ana yang tidur bersama dengan Raka. Farin membenarkan selimut anaknya dan mengecup kening anak-anaknya sebelum kembali keluar dari kamar Raka. Anak sudah memeiliki kamar sendiri, tapi gadis kecil itu sering meminta untuk tidur bersama kakak-kakaknya. Setelah melihat anak-anaknya, Farin kembali ke kamar untuk bersama dengan sang suami yang sudah berada di kamar terlebih dahulu. Farin membuka pintu kamar dan melihat suaminya sedang duduk di sofa dengan matanya yang terpejam. Farin langsung menghampirinya dan memeluk suaminya dari samping. “Anak-anak sudah balik tidur?” tanya Arlan yang membuka matanya. “Sudah, kamu jangan emosi lagi ya. Mereka sudah baikan kok, Pa. Mereka enggak mau kamu marah lagi, jangan marah lagi ya.” Farin masih memeluk suaminya dengan erat. “Iya, aku cuma kesal aja. Kenapa Ana sampai dorong Icam? Ana terlalu kasar sekarang, Sayang. Enggak habis pikir aku sama Ana,” kata Arlan pada istrinya. “Aku bakal bicara sama Ana pelan-pelan. Oh ya, Icam mau dipanggil Mas sekarang karena dia merasa dia kakaknya Ana, tapi Ana enggak pernah panggil dia kakak katanya,” ujar Farin. “Oh ya? Berarti panggil Mas Icam dong sekarang,” tawa Arlan. “Iya, kita panggil Raka, Kakak. Panggil Ana, Adik. Masa panggil Icam gitu aja, Mas.” kata Farin. “Oke deh, Mas Icam kalau gitu,” kata Arlan. “Mas, buat perbaikan mood kamu, aku mau kasih jatah ke kamu. Aku serius, kata Farin membuat Arlan langsung membawa tubuh istrinya ke tempat tidur dan melakukan ritual mereka bersama. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN