Kelulusan Raka

1158 Kata
Hidup yang penuh ujian selalu menjadi hal yang sangat dinikmati oleh beberapa manusia, termasuk Raka. Farin dan Arlan menunggu anak sulungnya di depan sekolah dengan perasaan yang tidak dapat dijabarkan. Hari ini adalah hari pengumuman hasil kelulusan Raka dan itu membuat sepasang suami istri ini merasa ikut berdebar dengan apa yang didapatkan oleh anaknya. Berkali-kali Farin menghela napas berat dengan memeluk lengan suaminya. Arlan beberapa kali mengusap tangan istrinya memberikan ketenangan, meski dirinya sendiri sedang tidak tenang. Farin mencubit suaminya melampiaskan perasaannya yang tidak karuan dan Arlan hanya diam membiarkan istrinya bereaksi seperti apa pun. “Mas, aku takut Raka kecewa. Aku enggak siap lihat Raka,” kata Farin yang memeluk lengan suaminya semakin erat. “Enggak papa. Dia pasti bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Yakin sama dia kalau dia enggak akan mengecewakan dirinya sendiri dan kamu. Kamu sudah berusaha keras untuk membantu dia, jadi dia pasti mempertimbangkan perasaan kamu. Percaya sama Raka, oke?” balas Arlan mencoba memberikan istrinya pengertian agar wanita itu tidak terlalu memikirkan hal yang justru membuat mereka semakin was-was dengan perasaan Raka. Gerbang sekolah terbuka dan banyak anak angkatan Raka keluar dengan berbagai ekspresi. Jantung Farin dan Arlan semakin berdebar melihatnya. Sementara itu, Raka sendiri di dalam masih berkumpul dengan Welly dan teman-temannya yang lain. Raut wajah haru terlihat jelas di wajah mereka. “Bakal pisah dong ini,” kata Welly pada teman-temannya. “Iya. Thank you buat tiga tahunnya. Kalian enggak pernah mengecewakan sebagai teman,” balas Raka. “Enggak ada yang bakal bikin acara kumpul-kumpul nih? Hitung-hitung sebelum kita pisah benaran ini,” kata Aldo pada teman-temannya. “Kalau aku pasti kumpul sama keluarga dulu hari ini. Kita bicarakan nanti aja di grup. Kayanya, Mama sama Papaku sudah tunggu di depan deh,” balas Raka yang mengambil HPnya dari saku yang tengah bergetar. “Ya sudah, kita bahas nanti. Kalau gitu, kita keluar aja deh,” kata Aldo pada teman-temannya yang lain. Gerombolan Raka pun keluar bersama dan menyapa kedua orang tua Raka yang sudah berdiri di depan mobilnya. Raka memeluk erat Farin dan mendengarkan Arlan yang sedang berbincang dengan teman-temannya menanyakan hasil mereka semua. Ucapan syukur terdengar saat teman-teman Raka memberikan banyak pujian tentang hasil yang Raka dapatkan. “Om, kalau misal kita ajak Raka jalan apa boleh?” tanya Welly pada Arlan membuat pria itu menoleh ke arah anaknya yang sedang merangkul ibunya. “Mereka mau adakan acara perpisahan sendiri, Pa. Cuma masih belum pasti mau apa. Belum dibicarakan lengkap,” kata Raka menjelaskan maksud dari pertanyaan Welly. “Tergantung anaknya. Kalau dia mau, Om enggak ngelarang selama dia juga tahu apa yang baik dan buruk buat dia.” Arlan mengusap rambut Raka yang masih merangkul Farin dengan erat. Keluarga Raka pun akhirnya pamit dan Raka sendiri langsung meminta untuk mengunjungi makam Nenek dan Kakeknya terlebih dahulu. Arlan dan Farin pun hanya menemani Raka yang sangat excited dengan apa yang dia rencanakan secara tiba-tiba. Raka seolah bagaikan duplikat dari Farin yang sering sekali menceritakan apa pun yang dia dapat kepada Kakeknya, meski sang Kakek sudah pergi. Farin tersenyum saat anaknya itu membanggakan dirinya di pusara Kakek dan Neneknya. “Kakek sama Nenek tenang aja di sana. Aku janji bakal buat Kakek, Nenek, Mama, Papa, Yangti, Yangkung bangga. Doakan aku di sana ya.” Raka dengan wajah penuh senyumnya membanggakan dirinya. Setelah mengikuti permintaan Raka untuk datang ke makam kakek dan neneknya, Raka meminta untuk pulang ke rumah Karin, di mana kedua adiknya menunggu. Arlan menghentikan mobil di halaman rumah dan Raka langsung masuk ke rumah masa kecil ibunya. Sama seperti sebelumnya, wajah bahagia selalu ada di wajah Raka dan sambutan dari Hana juga Gilang membuat Raka semakin bahagia. “Selamat Kakak! Semoga ilmunya barokah ya. Semoga cepat dapat sekolah yang diinginkan. Semoga juga nanti Lani bisa kaya Kakak,” kata Hana yang memeluk keponakannya. “Pasti, Tante. Terima kasih sudah mau doakan Raka juga. Lani sama Sasha di mana?” tanya Raka yang juga menyalami Gilang. “Ada di kamar Yangti sama adikmu,” kata Gilang menjawab pertanyaan Raka. Raka pun segera pamit untuk menghampiri adik-adiknya dan Karin yang sedang berada di kamar. Farin masuk bersama dengan Arlan dan mendapat ucapan selamat dari Hana juga Gilang atas apa yang diraih oleh Raka. “Dari dulu, Raka enggak pernah mengecewakan ya, Kak.” Gilang bangga atas keponakannya. “Alhamdulillah aja dia mau berjuang buat dia dan semua orang yang ada di sekitarnya. Dia memang enggak pernah mau mengecewakan siapa pun, Lang.” Farin duduk bersama di ruang keluarga. “Bangga enggak, Mas, punya anak sehangat Raka? Mana pintar banget,” tanya Gilang. “Lebih dari kata bangga, Lang. Dia kalau sama mamanya sudah kaya paling nurut. Justru itu yang bikin tambah tenang. Apalagi dia sampai sekarang masih aja suka terbuka dan menuruti semua permintaan kakakmu ini. Bangganya sudah sampai another level kalau sama Raka.” Arlan menjawab pertanyaan Gilang dengan raut bangganya memiliki anak seperti Raka yang sangat membanggakan. Raka di kamar Karin dengan wajah bahagianya dia menceritakan semua pada Karin yang sedang duduk lemas. Ana yang sedang bermain dengan Sasha, adik Lani pun terlihat bahagia setelah mendapat kabar dari Raka. Semua mendengarkan cerita Raka tentang apa yang diraih pria itu baru saja. “Kakak hebat sudah membanggakan Mama sama Papa. Kedepannya, Kakak harus lebih membanggakan lagi. Bagaimana pun, Mama sama Papa enggak akan menuntut Kakak, tapi mereka akan sangat bangga kalau Kakak dapat yang lebih dari ini,” kata Karin pada cucu pertamanya. “Semoga aja, Yangti. Karena Raka sudah dapat nilai bagus, Yangti harus cepat sembuh ya. Nanti kita liburan bareng setelah Raka dapat sekolah. Raka yang akan minta ke Papa sendiri ya.” Raka meminta pada Karin untuk cepat membaik. “Aamiin, Kak. Doakan aja Yangti bisa lebih sehat lagi. Kamu enggak mau kasih kabar ke Yangkung? Yangkung katanya belum bisa ke sini waktu Kakak kasih tahu kalau mau pengumuman,” kata Karin memberitahu. “Oh iya, aku telepon Yangkung nanti deh, Yangti.” Raka tersenyum bahagia melihat Karin yang juga menatapnya bangga. “Kakak makan aja dulu. Adik-adiknya biar di sini aja sama Yangti,” kata Karin menyuruh Raka untuk segera makan siang. “Ana sama Icam enggak boleh buat ulah ya. Kakak mau makan siang dulu, nanti Kakak ke sini lagi. Oke?” Raka memberikan kepalan tangannya yang langsung disambut oleh kedua adiknya. “Oke!” Kedua bocah itu memukul pelan kepalan tangan Raka sebelum sang Kakak itu pamit keluar dari kamar Karin. Sementara itu di ruang keluarga, para orang dewasa masih berbincang hingga Hana menyuruh Arlan dan Farin untuk makan siang terlebih dahulu. Farin yang berniat memanggil Raka mengurungkan niatnya saat melihat anaknya itu sudah berjalan turun dengan baju yang sudah dia ganti. “Mama, Yangti suruh makan dulu.” Raka mengatakan pada Farin. “Baru aja Mama mau panggil Kakak. Ya sudah, sana ke meja makan dulu sama Papa. Mama ke mobil sebentar ada yang ketinggalan,” kata Farin pada anaknya yang langsung dilakukan oleh dua pria beda generasi itu. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN