Ujian Sekolah Raka

1316 Kata
Hal yang akhir dari setiap tingkat sekolah adalah ujian kelulusan. Itu yang Raka lakukan beberapa hari ke depan. Sejak jadwal dikeluarkan, Farin lebih intens menemani anaknya untuk belajar. Arlan pun dengan senang hati menggatikan peran Farin untuk dua anaknya selama Farin harus memberikan perhatian penuh kepada Raka. Farin tidak ingin anaknya melakukan apa pun sendiri hingga merasa tidak ada yang mendukungnya.   Farin baru saja meminta Raka untuk mengerjakan beberapa soal dan meninggalkannya sebentar untuk melihat suami serta dua anaknya yang lain. Saat berada di tangga, terlihat Ana dan Icam sedang mewarnai di ruang keluarga tanpa Arlan. Farin menghampirinya dan duduk bersama dengan dua anaknya.   “Papa mana? Bukannya kalian sama Papa tadi?” tanya Farin pada dua anaknya.   “Papa ke dapur. Aku mau s**u tadi,” jawab Ana melihat ibunya yang sudah duduk di sampingnya.   “Kenapa enggak panggil Mama?” tanya Farin.   “Papa bilang, biar Papa yang buat karena Mama masih bantu Kakak belajar.” Ana menjawab pertanyaan Farin dengan senang hati.   “Ya sudah, kerjakan tugasnya. Mama ke dapur dulu lihat Papa ya,” kata Farin pada anaknya yang langsung menganggukkan kepalanya.   Farin berdiri dan pergi ke dapur di mana suaminya berada. Dia melihat Arlan yang sedang memainkan HPnya selagi menunggu air di depannya mendidih. Keluarga Farin memang lebih suka air yang baru mendidih daripada menaruhnya dalam termos. Farin berdeham membuat Arlan menoleh ke arahnya.   “Ngapain, Mas?” tanya Farin pada suaminya.   “Mau buat kopi, Sayang. Kamu mau apa? Raka butuh sesuatu?” balas Arlan memasukkan HPnya ke saku.   “Enggak. Raka enggak minta apa-apa. Kamu kok enggak bilang kalau mau kopi sama Ana minta s**u?” tanya Farin yang mengambil alih kegiatan Arlan. Dia melihat tiga cangkir yang sudah berjajar. Farin menggelengkan kepalanya melihat tiga cangkir itu masih kosong. “Kenapa belum dikasih s**u?” lanjut Farin yang mengambil kopi dan s**u untuk dia racik sesuai selera anak juga suaminya.   “Masih cari takaran yang pas di HP, kamu tiba-tiba datang. Aku ‘kan enggak mau ganggu Raka belajar dengan panggil kamu,” kata Arlan yang mengikuti istrinya yang sedang sibuk membuatkan kopi dan s**u.   “Mending kamu diam aja deh, Mas. Enggak usah bertingkah, kaya gini aja masa cari di internet sih,” keluh Farin menunggu air mendidih.   Arlan bukannya merasa bersalah atau melakukan hal yang membantu istrinya, dia malah memeluk Farin dan mengucapkan kalimat sayangnya untuk istrinya yang setia membantunya. Katakan Arlan seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta, karena nyatanya pria itu selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sayang yang tidak pernah ada kata cukup untuk Arlan.   “Raka gimana, Sayang? Tadi ada kesulitan enggak dia bilangnya?” tanya Arlan seketika ingin mengetahui tentang anak sulungnya.   “Dia bilang enggak begitu kesusahan, Mas. Masalahnya cuma kadang dia merasa ceroboh sama waktu. Dia sering menyepelekan waktu sampai akhirnya dia kaget waktu disuruh ngumpulin,” jawab Farin.   “Kenapa kaget? Dia enggak fokus?” tanya Arlan pada istrinya kembali.   “Bukan enggak fokus, hanya saja dia tidur waktu sudah selesai dan enggak mau dikumpulkan dulu. Eh, keenakan tidur, dia malah harus dibangunkan sama temannya dan dikasih tahu kalau harus segera dikumpulkan itu ujiannya. Akhirnya dia kaget dan enggak periksa lagi, Mas.” Farin menjawab pertanyaan suaminya dengan realita yang sebelumnya sempat diceritakan oleh anak sulung mereka, Raka da Costa.   “Mama!” Suara Raka terdengar membuat Farin dan Arlan menoleh ke arah meja makan. “Mama buat apa itu?” tanya Raka yang melihat kedua orang tuanya sedang bersama di dapur.   “Kopi buat Papa sama s**u buat Adik. Kenapa, Kak? Mau sesuatu?” tanya Farin memperhatikan anaknya.   “Mau lemon tea boleh?” pinta Raka dengan wajah yang sangat imut membuat Farin sedikit tersenyum melihatnya.   “Boleh. Kakak tunggu sama Adik aja dulu. Soal yang Mama minta kerjakan tadi sudah?” Farin masih memperhatikan anaknya yang tengah menganggukkan kepalanya. “Kalau gitu, istirahat aja dulu, Kak. Enggak baik kalau terlalu di forsir, Kak. Mending sedikit-sedikit. Sana sama Adik aja dulu,” lanjut Farin.   Raka pun menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke ruang keluarga di mana ada adik-adiknya yang sedang berada di sana untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Raka duduk bersama dengan Icam yang tengah merebahkan tubuhnya. Farin dan Arlan tersenyum melihat anak-anaknya yang tengah berada di ruang keluarga.   “Aku bahagia banget punya kamu sama anak-anak, Sayang. Enggak ada yang bisa ambil kebahagiaan aku ini selain Tuhan. Aku enggak akan rela kalau sampai ada manusia lancang yang mencoba merusak kebahagiaan ini,” kata Arlan sembari merangkut pinggang istrinya.   “Aku juga bahagia punya kalian di hidupku. Sudah, sana. Kamu temani aja anak-anak. Ini cuma tunggal kasih air sama ambil teh buat Raka aja kok. Aku bisa melakukan sendiri,” kata Farin yang melepaskan tangan suaminya yang ada di pinggangnya.   “Kamu makin lama enggak bisa diajak so sweet lagi, ih. Dikit-dikit suruh aku sama anak-anak. Aku juga mau waktu sama kamu, tahu.” Arlan mengeluarkan keluhannya yang mengundang tawa pelan Farin.   “Memang kita kalau malam ngapain, Mas? Enggak sama aku? Kamu minta jatah ke siapa kalau bukan sama aku?” balas Farin yang membuat Arlan terdiam dan hanya mencebik bibirnya.   “Setelah Raka ujian, enggak mau tahu mereka dititipkan ke Hana aja. Aku mau berdua sama kamu. Enggak ada penolakan,” kata Arlan yang merasa kekurangan waktu bersama dengan istrinya.   Farin hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya sedang berjalan menyusul anak-anaknya. Arlan tidak pernah serius membiarkan anak-anaknya bersama dengan orang lain, jika tidak ada kepentingan mendesak. Itu juga jika mereka tidak ada pilihan untuk membawa anak-anak mereka ke dalam kepentingan tersebut.   Arlan dengan semua yang dilakukan pria itu selalu membuat Farin menggelengkan kepalanya dengan heran. Banyak wanita muda di luar sana yang mengincar suaminya, bahkan karyawan pria itu sendiri. Farin tahu semua, bahkan Arlan sering sekali menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Mendapat banyak bunga dan pengakuan cinta membuat Farin tidak lagi terkejut dengan apa yang terjadi pada suami tampannya.   Usia yang menginjak kepala lima dengan wajah yang tidak terlihat sesuai dengan usianya memang membuat Arlan menjadi sosok yang paling dipuji di setiap pria itu menampakkan wajahnya. Bahkan di masjid rumah mereka. Ada anak SMA yang menjadi sering ke masjid hanya untuk melihat Arlan yang melakukan solat di masjid, jika tidak ada kepentingan. Raka pun sering merasa kesal, jika melihat gadis yang memuja ayahnya itu.   “Mama, Ana bicara kotor!” Suara Icam membuat Farin yang tengah membawa nampan berisi minuman untuk keluarganya hanya menghela napas panjangnya.   “Papa enggak suka Ana bicara kaya gitu!” Farin melihat wajah suaminya yang tanpa ekspresi.   Raka hanya diam sambil merebahkan tubuhnya dengan paha Arlan yang menjadi bantalannya. Farin berdeham membuat semua semakin diam. Ana hanya melihat ke buku tulisnya dan tidak berani melihat Arlan yang sedang berada tidak jauh darinya.   “Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai tadi?” tanya Farin sembari menaruh minuman yang dia bawa ke meja.   “Ana bilang anjing ke aku, Mama.” Icam melaporkannya ke Farin.   “Iya, Dik?” tanya Farin dengan sabar.   Bukannya menjawab, Ana malah menahan tangisnya saat Farin sudah berada di sampingnya. Farin tidak menghakimi anaknya, dia mengusap lembut rambut panjang anaknya yang tergerai dengan bandana lucu yang terpasang di kepalanya. Ana masih menundukkan kepalanya.   “Adik enggak mau jawab pertanyaan Mama?” tanya Farin pada anak perempuannya.   “Iya, Ma. Memangnya itu kotor?” balas Ana yang masih menahan tangis.   “Bukan kotor, itu enggak sopan. Enggak boleh mengejek orang dengan nama binatang. Itu sama saja menghina, Sayang. Kalau Icam binatang, berarti Mama sama Papa juga binatang dong? ‘Kan Icam itu anak Mama sama Papa. Lain kali, Ana enggak boleh kaya gitu ya. Mau sama Icam, Kakak atau teman-teman yang lain. Enggak boleh saling menghina kaya gitu. Mengerti?” jelas Farin.   “Ngerti, Mama. Maaf.” Ana memeluk ibunya dan Icam bergantian. Gadis kecil itu meminta maaf pada saudara kembarnya dan ayahnya. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Mereka pun beristirahat sebentar sembari menikmati minuman yang Farin buat.   Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN