*** Dias menghempaskan bokongnya ke atas kursi kebanggaannya. Rasa kesal masih mempengaruhi lelaki itu akibat sikap Ziya yang menurutnya sangat amat menyebalkan. “Apa-apaan!” ujarnya semakin tak suka saat mengingat kembali apa yang Ziya lakukan. Ziya seolah sengaja membuatnya cemburu hingga seperti ini. Entah apa yang gadis konyol itu pikirkan sampai-sampai membuatnya kesal seperti sekarang. Dias ingin sekali memberinya pelajaran, tetapi dirinya sadar ia tidak bisa melakukan itu sebab semua ini salahnya juga. Tiba-tiba saja mencium Ziya tanpa mengatakan apa-apa seperti mengungkapkan cinta. “Benar-benar sial!” ujar Dias sembari mengembuskan napas sebal. “Kenapa lo?” Tiba-tiba saja terdengar suara tanya dari seseorang. Tck. Dias berdecak sebal melihat Sandi menghampirinya. Ia meng

