*** Senin pagi Dias kembali menyambangi Ziya. Hari ini adalah hari pertama Ziya menjalani pengobatannya. Dias mengatur ekspresi wajahnya agar tersenyum sebelum membuka pintu kamar rawat gadis itu. Namun, senyumnnya hilang ketika lagi-lagi menemukan dokter Rio di sana. Dias benar-benar kesal sekarang. Kenapa Rio selalu berada di dekat gadis itu? Ingin melarang, tapi Dias tak punya kuasa. Dias berdecak tak suka hingga mengundang Dua pasang mata milik Rio dan Ziya beralih padanya. “Selamat pagi,” sapa Ziya dengan ceria. Dia tidak tahu saja perasaan Dias sedang kesal terhadapnya. Dias tidak menghiraukannya. Lelaki yang selalu tampak keren ketika mengenakan jubah kebanggaannya itu mengabaikan Ziya dan fokus pada Rio yang juga mengenakan jubah kebanggaannya. “Kamu ngapain di sini? Nggak

