*** Tck! Decakan tak suka terdengar dari mulut Dias. Ziya tidak menyahuti peringatannya. Gadis itu tampak tak peduli pada ancamannya. Alih-alih menyahut, Ziya justru melakukan sesuatu yang bisa membuat konsentrasi Dias tiba-tiba saja terganggu. “Satu lagi Ziya, mulai sekarang kamu dilarang menggigit jarimu seperti itu!” ujarnya. Tentu saja dahi Ziya berkerut heran setelahnya. Ia melepas jari telunjuk yang dirinya gigit beberapa saat yang lalu. Sesungguhnya, menggigit jari adalah kebiasaannya ketika sedang berpikir, dan kebetulan sekali ia sedang memikirkan gadis kesayangan Dias yang masih menjadi misteri baginya itu. Ziya menggerakan tubuhnya, salah satu tangannya menyentuh kepalanya. Menyangganya. Persis seperti seseorang yang sedang memiliki beban pikiran. Namun, sungguh aneh bagi D

