*** “Ri, kamu bisa pergi lebih dulu? Aku mau mastiin Ziya baik-baik aja atau lagi error,” Riana mengerutkan dahinya mendengar Dias bicara dengan cara seperti itu tentang Ziya. Tidak pantas rasanya seorang dokter professional bicara sekasar itu mengenai kondisi pasiennya. Riana ingin menolak, tetapi melihat bagaimana tegasnya tatapan mata Dias membuatnya enggan berdebat. Riana memutuskan untuk pergi dari sana. Lagi pula masih ada yang harus dirinya persiapkan untuk memulai pekerjaannya hari ini. “Oke! Nanti kita makan siang bareng ya, Yas,” Dias hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Setelah memastikan Riana menjauh dari ruang rawat Ziya, Dias pun kembali memfokuskan perhatiannya pada gadis pembuat onar itu. “Kenapa?” tanya Dias melihat Ziya lagi-lagi cemberut. Tangan

