*** Pelan-pelan Rio membawa Ziya untuk kembali ke brankarnya. Rio benar-benar mencurahkan seluruh perhatiannya pada gadis yang Dias anggap sebagai pembuat onar itu. Rio tidak bisa mengabaikan kesedihan yang terlihat jelas di mata pujaan hatinya. Rio berjanji akan membuat Ziya tersenyum lagi apapun yang terjadi. “Hati-hati, Zi,” ucap dokter yang sebenarnya tak kalah gateng dari Dias itu. Ziya hanya mengangguk singkat. Mendapatkan perhatian dari dokter Rio sesungguhnya menyenangkan bagi Ziya. Namun, entah kenapa seperti ada yang kurang darinya saat ini. Entah kenapa Ziya merasa Dias sudah keterlaluan karena mempermalukannya di depan dokter Rio dan yang lainnya, terutama di depan dokter Riana yang sudah ia anggap sebagai saingannya sendiri. Helaan napas berat Ziya terdengar begitu igat

