*** Dias memilih meninggalkan Rio daripada membalas perlakuan rekan kerjanya itu. Ia membiarkan Rio bergelut dengan pikiran dan emosinya sendiri. Dias merasa lebih baik mereka tak perlu bertemu dulu untuk sementara waktu agar sama-sama memiliki pikiran yang jernih, sebab setiap kali bertemu selalu saja bertengkar. Meja kerja yang Dias tuju ketika kakinya menapak lantai ruangannya. Ia menekan telapak tangannya di sana karena terus berpikir mengenai kondisi psikis Ziya. Sepertinya Dias harus membicarakan hal ini pada Pak Wira agar mereka bisa melakukan tindakan. Namun, Dias memerlukan waktu yang tepat. Setidaknya sampai ia yakin dugaannya ini tidak salah. Jika Pak Wira setuju, maka Ziya harus melakukan pemeriksaan lanjutan apapun yang terjadi. Dias membawa langkah kakinya menuju kursiny

