*** Mata Ziya berkabut emosi. Kepalanya pening lantaran penasaran apa yang sebenarnya dokter Riana inginkan. Namun, Ziya tak ingin menghindar. Ia ingin tahu semuanya. Entah kebenaran atau hanya kebohongan yang sedang dokter Ri katakan, Ziya tidak peduli. Ia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah Dias mendekatinya hanya karena ingin membalas budi papanya? Tapi budi seperti apa hingga Dias tega? Padahal, Dias tahu persis seperti apa rapuhnya jiwa Ziya saat ini. “Ziya … Ziya … kamu terlalu banyak berharap. Dias itu nggak sebaik yang kamu pikirkan. Dia sendiri yang bilang kalau dia mendekatimu hanya karena ingin membalas papamu yang telah memberinya kehidupan yang layak seperti saat ini,” bisik Riana sembari menggelengkan kepalanya. Jari telunjuk Riana menyentuh dad* Ziya,

