*** Pintu kamar rawat Ziya kembali terbuka setelah bermenit-menit lamanya terkunci dari luar. Menampakan sosok Dias yang sudah tersenyum sinis di tengah-tengah pintu. Lalu memunggungi Ziya untuk mengunci pintunya kembali. Ziya ternganga. Ia tidak tahu apa maksud Dias melakukan itu. Namun, firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Mungkin saja Dias akan kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya. Ziya benar-benar harus siap memasang telinga juga mengeraskan hatinya. Ziya berharap kali ini kata-kata yang meluncur dari bibir Dias tidak terlalu menyakitinya. Dalam beberapa detik Dias sudah berada di hadapan Ziya. Lelaki itu mendengkus sebal kala matanya menatap dress selutut yang sedang Ziya pegang. Mau tak mau mata Ziya pun memandang ke arah yang sama dengan yang dipanda

