*** Pagi pada hari berikutnya. Ziya melakukan rutinitasnya seperti beberapa hari yang lalu. Ia kembali menatap rerumputan lewat jendela kamar rawatnya. Rasa sepi kembali menyergap gadis bertubuh mungil itu sejak Dias mengabaikannya. Ziya juga menolak mengikuti senam pagi seperti biasa. Ia lebih memilih berdiam di kamar sendirian. Hingga akhirnya kesendirian itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba pintu kamar rawatnya terbuka. Menampakan wajah Dias yang menatap lurus ke arahnya. Ziya merasa terintimidasi. Tatapan Dias menunjukan ketidaksukaan. Jujur, kenyataan itu membuat Ziya kembali terusik. Ia menunduk sedih. “Kenapa nggak ikut kegiatan pagi? Udah nggak betah di sini?” tanya Dias mendekati Ziya. Gadis konyol itu mengangkat kepalanya. Menatap mata tajam Dias yang juga tengah memperhatik

