Mereka berdua sedang berada di Starbuck sore itu. Gibran dan Mikaila. Keduanya duduk berhadap-hadapan tanpa ada satu pun yang berniat untuk memulai pembicaraan. Gibran memandang Dolce Latte milik Mikaila yang belum tersentuh sedik pun. “Jangan bersedih,” Kalimat itu lolos juga dari mulut Gibran. Demi mendengar kalimat tersebut dari mulut Gibran, Mikaila menatap pemuda itu dan tersenyum sinis, “Tega sekali kamu menyuruhku untuk jangan bersedih. Aku gadis biasa yang sudah dua kali mengalami kegagalan. Gagal bertunangan dan gagal menikah. Dicampakkan dua kali oleh orang yang sama. Sampai-sampai aku tidak mengerti apa yang sudah aku lakukan di masa lalu hingga bernasib sesial itu.” Terlihat jelas Gibran berusaha menyembunyikan tawa di wajahnya. Menertawakan nasib sial yang memang menimpa g

