15. Bahagia denganmu

1374 Kata
Sabrina berdiri di balkon kamar, menikmati udara sore yang sejuk. Di tangannya ada kartu nama Mama Indah yang ia terima beberapa waktu lalu. Sejak tadi, ia bertanya-tanya apakah ini keputusan yang tepat, namun entah kenapa, perasaan yang menggerakkan tangannya untuk menulis pesan itu sangat kuat. Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya dan mengetikkan balasan singkat, “Selamat malam, Ma. Saya ingin menerima tawaran pekerjaan itu. Sabrina mau coba kesempatan yang udah Mama kasih.” Setelah mengirim pesan itu, Sabrina menatap layar ponselnya, merasa cemas dan ragu. Kartu nama Mama Indah masih tergeletak di meja, tapi ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. “Apa aku sudah membuat keputusan yang tepat?” pikirnya, mencoba menenangkan pikiran yang berkelana. Namun, suasana tenang itu tiba-tiba terpecah. Pintu balkon terbuka perlahan, dan tanpa sadar, tubuh Sabrina tiba-tiba dipeluk erat dari belakang. “Sabrina...” Suara Rafa terdengar sangat dekat, dan dalam sekejap, Sabrina terlonjak kaget, hampir menjatuhkan ponselnya. Ia berbalik, menyadari Rafa sudah kembali. “Fa! Kamu sudah pulang?” Tanya Sabrina, masih terkejut, namun cepat-cepat menenangkan diri. Rafa tertawa kecil di belakangnya. “Iya, baru aja. Kamu lagi melamun, ya, sampai nggak sadar aku udah pulang.” Sabrina tersenyum, meskipun hatinya masih terasa berdebar karena kaget. Rafa tetap tak melepaskan pelukannya, membuat Sabrina merasa lebih tenang, seolah dunia di luar sana tidak ada yang bisa mengganggu mereka berdua. “Aku bawa makanan,” kata Rafa dengan suara penuh harapan. “Kamu pasti lapar, kan?” Sabrina menoleh ke arah tas belanjaan yang dibawa Rafa. "Tapi aku udah masak, Fa," jawab Sabrina, sedikit bingung karena ia sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Rafa tertawa lagi, melepaskan pelukannya sebentar untuk melihat tas belanjaan yang dia bawa. "Ya, kamu masak, tapi aku bawa makanan dari tempat makan kesukaan kita dulu. Gimana kalau kita coba makan dua-duanya? Aku makan masakan kamu, kamu makan yang aku bawa." Sabrina menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kamu ini... bisa-bisanya ya!" Rafa hanya tertawa ringan, lalu membuka kotak makanan dari kantong belanjaannya. “Nggak apa-apa, coba makan ini. Aku yakin kamu pasti bakalan suka.” Mereka duduk di meja makan kecil di balkon, menyantap makanan yang mereka bawa. Rafa mulai mencicipi mie rebus ayam suir masakan Sabrina dengan sendok besar, mengangguk puas. “Hmm, enak banget, sayang. Kamu memang jago masak.” Sabrina sedikit tersenyum, meskipun hatinya masih sedikit galau. “Makasih, Fa. Oh iya. Aku mau kasih tau kamu sesuatu. Tadi aku baru aja terima tawaran kerja dari Mama Indah.” Rafa terdiam sebentar, menyendok makanan dari tempat yang ia bawa. “Oh, jadi kamu nerima tawaran itu? Kamu yakin?” Sabrina menunduk, memainkan garpu di tangannya. “Aku nggak tahu, Fa. Rasanya semuanya terlalu cepat. Mama Indah terus muncul, dan... aku nggak bisa menolak tawarannya.” Rafa menatap Sabrina dengan lembut, kemudian mendekat, mengelus tangan Sabrina dengan lembut."Sayang, kalau ini yang hati kamu inginkan, lakukan aja. Aku dukung kamu, apapun itu. Tapi kalau kamu ragu, kamu bisa pertimbangin ini lagi.” Sabrina menatap Rafa, merasa sedikit lega dengan dukungannya. “Aku nggak mau semua ini jadi rumit, Fa. Aku nggak juga khawatir ini bakalan bikin kita berada di posisi yang lebih sulit.” Rafa tersenyum dan menyentuh pipi Sabrina dengan lembut. “Sayang, percaya sama aku, aku pasti bisa jaga hubungan ini. Aku pasti bisa mempertahankan kamu bagaimana pun caranya. Lagi pula, kita kan sudah sepakat saling percaya dan mendukung. Jadi, apa pun yang terjadi, kita akan selalu ada di sini, satu sama lain.” Sabrina menghela napas panjang, merasa sedikit tenang. “Aku tahu, Fa. Terima kasih. Kamu selalu tahu bagaimana caranya bikin aku merasa lebih baik.” Rafa menggenggam tangan Sabrina lebih erat. “Karena kamu juga bikin aku merasa tenang, Sayang. Kita tim yang hebat, kan?” Sabrina tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Rafa. “Iya, tim yang hebat.” Rafa membalas senyum Sabrina, lalu mencium keningnya dengan lembut. “Aku janji akan selalu ada untuk kamu. Apa pun yang kamu pilih, aku akan di sini.” Sabrina tersenyum lebar, merasa nyaman dalam pelukan Rafa. Ia tahu bahwa apapun yang terjadi, selama mereka saling mendukung, semua akan terasa lebih mudah. Keduanya kembali melanjutkan makan malam mereka, berbicara ringan dan tertawa bersama. Meskipun ada ketidakpastian di hati Sabrina, di saat itu, dalam kebersamaan dengan Rafa, ia merasa cukup kuat untuk menghadapi apapun yang akan datang. *** Sabrina bangun lebih pagi dari biasanya, merasa segar meski semalam tidurnya tidak begitu lama. Matanya langsung tertuju pada dapur yang tampak rapi, dan tanpa ragu, ia memutuskan untuk membuat sarapan pagi untuk dirinya dan Rafa. Ia menyiapkan roti panggang dengan telur dadar, mayonais, dan beberapa lembar sayur segar. Sambil memasak, ia merenung sejenak. Terkadang ia merasa ragu dengan keputusannya untuk menerima tawaran Mama Indah. Namun, melihat Rafa yang selalu ada untuknya, ia merasa sedikit lebih tenang. Tak lama setelah itu, suara pintu depan terdengar. Pintu dapur terbuka, dan Rafa muncul dengan setelan rapi, siap untuk berangkat kerja. “Selamat pagi, sayang,” ucap Rafa dengan senyum lebar, langsung mendekat ke meja makan. Ia mencium pipi Sabrina dengan lembut, membuat hati Sabrina berdebar. “Pagi, Fa,” jawab Sabrina, tersenyum sambil melanjutkan menata sarapan di meja. Rafa duduk di kursi, menatap sarapan yang disiapkan Sabrina dengan penuh rasa ingin tahu. “Wah, bikin apa nih? Dari bau-baunya kayaknya enak.” Sabrina tersenyum bangga, lalu duduk di sampingnya. “Iya, aku bikin sandwitch aja sih buat kita berdua. Semoga kamu suka.” Setelah mereka mulai makan, Rafa tiba-tiba menatap Sabrina dengan serius. “Sayang, bahannya masih ada? Kamu nggak lagi buru-buru juga, kan? Boleh nggak aku minta tolong dibuatin bekal? Kayak gini aja juga udah oke, kok. Ini enak banget.” Sabrina terkekeh, menggelengkan kepala. “Oke. Tapi gimana kalau aku ubah sedikit menunya? Aku masakin nasi merah sebentar, nggak papa? Nanti ini sayuran isinya biar aku jadiin salat aja, kasih dressing mayo sama keju. Sama lauknya aku tambahin!” Rafa tertawa kecil. “Nggak ribet kamu masak sebanyak itu? Kalau ribet, nggak usah nggak papa. Atau sandwitch gini aja aku udah seneng kok.” "Nggak ribet. Masak nasi juga kan pakai rice cooker. Sayuran tinggal cuci potong aja. Telur tinggal goreng," jawab Sabrina. "Jadi makin bersyukur kamu ada di hidup aku. Nggak sia-sia aku perjuangin kamu selama ini. Semua terbayar lunas sama kebahagiaan yang aku rasain sekarang," balas Rafa. Sabrina hanya bisa tersenyum sambil melanjutkan makan. Setelah selesai makan, Rafa ke kamar untuk mengambil beberapa peralatan kerjanya. Tak lama, ia pun kembali sambil membawa tas Sabrina juga yang telah ia isi dengan keperluan wanita itu. Saat itu, Sabrina sedang menutup kotak bekal untuk Rafa dan bersiap memasukkannya ke tas khusus. "Ayo! Sekalian aku antar aja, ya!” Sabrina mendelik sedikit, terkejut. “Hah? Eh, nggak usah, Fa.” Rafa menatap Sabrina dengan penasaran. “Kenapa? Lagian masih searah kok, sayang. Lumayan bisa ngulur waktu kita buat terus barengan.” “Bisa jadi masalah kalau Mama Indah lihat. Dia pasti juga hafal kan sama mobil kamu." "Aku yakin Mama belum ke resto. Lagian Mama jarang juga pergi ke sana." "Hari sial nggak ada di kalender, Fa. Kita bisa berada dalam masalah besar kalau tiba-tiba kelihatan Mama," ucap Sabrina. Ia mendekat lalu menggenggam tangan Rafa. Menatap pria itu dengan penuh arti. "Aku cuma nggak mau semua jadi rumit karena kecerobohan kita. Bukankah kita baru aja memulai? Kamu nggak mau, kan, semua bakalan jadi kacau?" Rafa sedikit terdiam mendengarnya. Ia mengerti kekhawatiran Sabrina. “Oke, kalau begitu, aku paham. Nggak usah dipaksain, sayang. Yang penting kamu nyaman.” Sabrina tersenyum, merasa lega dengan pengertian Rafa. “Terima kasih, Fa. Aku cuma nggak mau semuanya jadi lebih rumit.” Rafa mengangguk, lalu mengecup kening Sabrina dengan lembut. “Aku ngerti. Kalau gitu, biar aku yang pesenin taksi buat kamu. Kalau ada apa-apa, jangan lupa langsung kabarin aku, ya?” Sabrina merasa hangat dalam pelukan dan perhatian Rafa. “Iya. Makasih ya, Fa.” Setelah itu, mereka pun keluar. Rafa menunggu hingga taksi yang ia pesankan untuk Sabrina datang. Sebelum wanitanya masuk ke taksi, Rafa menahan lengan Sabrina. Ia mencium bibir Sabrina kilat sebelum membiarkan wanita itu pergi. Sabrina yang kaget, hanya bisa memegangi bibirnya dengan raut wajah yang lucu. Bahkan, hingga ia berada dalam taksi pun ia masih saja memegangi bibirnya dan tiba-tiba tersenyum sendiri layaknya remaja yang tengah kasmaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN