Hari pertama Sabrina bekerja di restoran berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan. Meski sedikit gugup di awal, ia bisa cepat menyesuaikan diri. Berinteraksi dengan pelanggan dan rekan kerja membuatnya merasa lebih percaya diri. Yang paling membuatnya lega adalah Mama Indah tidak muncul sama sekali hari itu. Sabrina merasa lebih tenang tanpa ada tekanan yang mengganggu pikirannya.
Di dapur, Sabrina bertemu dengan Tika, seorang pegawai muda yang tampaknya sudah cukup berpengalaman di restoran itu. Tika dengan cepat mengenalkan diri dan membantu Sabrina yang baru pertama kali bekerja di situ.
"Jangan khawatir, kalau ada yang bingung, tanya aja. Aku dulu juga baru kok, tapi lama-lama enak kok," kata Tika dengan senyuman ramah. Sabrina merasa sedikit lebih tenang mendengar kata-kata itu.
Sabrina juga disapa dengan ramah oleh beberapa pelanggan tetap restoran. Mereka mengucapkan selamat datang dan berharap Sabrina akan betah bekerja di sini.
Sabrina tersenyum, merasa sedikit lebih yakin. Ia pun mulai merasa terhubung dengan suasana baru ini. Sambil kembali ke dapur, ia berpapasan dengan beberapa rekan kerja lain yang juga menyapanya ramah. Setiap kali bertemu mereka, Sabrina merasa sedikit lebih diterima.
Tika kemudian menghampirinya saat mereka sedang mengambil pesanan dari dapur. "Eh, Sabrina, kamu tadi kelihatan nyaman banget sama pelanggan. Gimana, udah mulai suka di sini?" tanya Tika sambil menata piring-piring yang akan dibawa ke meja.
Sabrina tersenyum, sedikit terkejut dengan perhatian Tika. "Iya. Tadi sempat deg-degan sih, tapi lama-lama enak juga. Kamu udah lama kerja di sini?"
Tika tertawa kecil. "Hampir setahun. Lumayan lah, tempatnya nggak terlalu ribet. Dan, kalau udah biasa, kerjaan jadi lebih mudah. Tapi... kalau kamu ada masalah atau bingung, langsung aja bilang ke aku, ya?"
"Terima kasih, Tika. Aku pasti tanya kalau ada yang bingung," jawab Sabrina, merasa sedikit lebih nyaman dengan suasana kerja yang baru.
Sepanjang hari, Sabrina mulai mengenal lebih banyak rekan kerja lainnya. Ada Dita yang bekerja di bagian kasir dan selalu membuat Sabrina tertawa dengan ceritanya, serta Ardi yang meski sedikit pendiam, selalu memastikan Sabrina tidak kesulitan dengan tugas-tugas baru. Setiap interaksi kecil ini membuat Sabrina merasa sedikit lebih ringan, meskipun perasaan cemas tentang masa depannya masih terkadang muncul.
Jam kerja akhirnya selesai, dan Sabrina menghela napas lega. Setelah mengganti seragamnya, ia melangkah keluar dari restoran, berharap bisa pulang dan beristirahat setelah seharian bekerja.
Saat hampir mencapai halte, tiba-tiba mobil Rafa muncul di depannya. Sabrina langsung kaget, hati berdegup kencang.
"Rafa? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan gugup, matanya melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat.
Rafa hanya tersenyum santai, seolah tidak ada yang aneh. "Aku cuma mau jemput kamu. Nggak masalah, kan?"
Sabrina menatapnya dengan cemas. "Tapi, Rafa... kita nggak boleh ketahuan. Kalau Mama tahu..."
Rafa terkekeh, kemudian turun dari mobil dan mendekati Sabrina. "Sayang, tenang aja. Aku nggak bakal bikin masalah. Aku cuma mau pastiin kamu pulang dengan aman."
Sabrina menggelengkan kepala, ragu. "Aku nggak mau semuanya makin rumit, Fa."
Rafa tersenyum lembut, kemudian menggenggam tangan Sabrina. "Aku ngerti kok. Tapi ini hanya sebentar, kita cuma pulang bareng. Nggak ada yang tahu, kan?"
Sabrina menatapnya, merasa bingung dan cemas. Namun, akhirnya ia mengalah. "Baiklah, tapi... hati-hati."
"Tenang, nggak ada yang bakal tahu. Ayo, kita jalan," kata Rafa sambil membuka pintu mobil untuk Sabrina.
Sesampainya di rumah, mereka berjalan bersama menuju pintu. Rafa menggenggam tangan Sabrina dengan erat, mencoba memberi rasa tenang. Saat mereka sampai di depan pintu, Rafa berhenti sejenak dan menatap Sabrina dengan penuh perhatian. "Gimana, kamu capek?"
Sabrina tersenyum dan mengangguk pelan. "Sedikit sih, tapi enak kok. Aku juga jadi nggak kesepian lagi kalau kamu lagi di kantor. Bisa ketemu orang-orang baru, dan jadi punya teman baru juga di tempat kerja."
Rafa tersenyum, lalu menyentuh pipi Sabrina dengan lembut. "Aku senang denger itu. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, ya? Kalau capek, istirahat! Kalau kamu bosan atau merasa kerjaan kamu terlalu berat, kamu bisa resign kapan aja!"
Sabrina tersenyum, sedikit tersipu dengan perhatian Rafa. "Iya, terima kasih. Aku tahu kamu bakal ngomong kayak gitu."
Rafa membalas dengan senyum lebar dan membuka pintu rumah untuk mereka berdua. "Uangku udah banyak, Sayang. Aku masih bisa kasih kehidupan yang lebih dari sekadar layak buat kamu. Pokoknya, aku cuma pengen kamu selalu bahagia saat sama aku."
Mereka berjalan masuk ke rumah bersama, merasa sedikit lebih tenang. Setelah hari yang panjang, Sabrina tahu bahwa apapun yang terjadi, Rafa akan selalu mendukungnya.
***
Hari berikutnya, Rafa kembali ngotot untuk mengantar Sabrina bekerja. Sabrina sudah menolak, tapi Rafa terlalu keras kepala untuk ia bantah.
"Udah, stop di sini aja! Biar aku naik bus, Fa!" protes Sabrina saat mereka melewati halte untuk ke sekian kalinya.
Wanita itu benar-benar takut jika hubungan mereka akan terendus jika terlalu banyak bersama. Apalagi di sekitaran restoran.
"Tanggung, sayang. Pokoknya aku jamin kita aman. Lagi pula, mobil ini mobil yang Mama Papa nggak tahu, kok. Kacanya juga gelap," balas Rafa.
"Tetap saja. Kalau lihat aku keluar dari mobil mewah, Mama Indah pasti curiga dan bakalan cari tahu lebih jauh."
Rafa menoleh sekilas. "Aku sudah pastiin ke Bibi. Mama masih di rumah kok, sayang. Masih sarapan waktu kita berangkat tadi."
Sabrina mengernyitkan keningnya. "Kamu jadiin asisten rumah tangga di rumah sebagai mata-mata buat mantau gerak-gerik Mama Indah sama Papa Arya?"
Sabrina tidak menyangka jika Rafa akan punya pikiran sampai sana.
"Aku perlu lakuin itu buat lebih memastikan kalau semua akan baik-baik aja. Sekarang kamu bisa tenang, kan? Udah, nggak usah khawatir! Apapun yang aku lakuin pasti sebelumnya udah aku pastiin kalau bakalan aman, sayang. Nggak mungkin aku ceroboh untuk sesuatu yang berkaitan sama kamu."
Sabrina bisa sedikit mengendurkan cengkramannya para rok bahan yang ia kenakan. Ia merasa sedikit lebih tenang.
Tak jauh berbeda dari Sabrina, sejujurnya, selama ini Rafa juga menyimpan keresahannya tentang hubungannya dengan Sabrina. Rafa selalu berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik senyuman santai, tetapi hatinya masih sering merasa khawatir. Apakah Sabrina benar-benar nyaman dengan situasi ini? Apakah dia akan berubah pikiran dan pergi lagi?
Setelah memastikan Sabrina masuk ke restoran dengan aman, Rafa melanjutkan perjalanan ke kantornya, gedung megah di pusat kota. Sebagai direktur utama sebuah perusahaan properti besar, harinya selalu dipenuhi rapat-rapat penting, panggilan telepon, dan strategi bisnis yang harus ia pikirkan. Namun, tidak peduli seberapa sibuk, pikirannya selalu menyempatkan untuk memikirkan Sabrina.
Di ruangannya yang luas dan modern, Rafa menjelajahi berkas-berkas proyek terbaru. Sekretarisnya, Karin, masuk membawa laporan tambahan.
"Pak Rafa, ini dokumen revisi untuk proyek properti di kawasan selatan. Meeting berikutnya dimulai lima belas menit lagi."
"Letakkan di meja!" kata Rafa sambil tetap menatap layar laptopnya. Begitu Karin keluar, ia segera membuka ponselnya. Mengetik pesan untuk Sabrina.
Rafa: "Kerja yang santai ya, kalau capek bilang. Jangan lupa makan siang."
Ia tahu pesan-pesan sederhana seperti ini kadang tidak cukup, tapi setidaknya itu cara kecil untuk menunjukkan bahwa ia memikirkannya. Bagaimanapun, Rafa sadar bahwa ia sedang berjalan di atas tali tipis-antara menjaga hubungan mereka tetap kuat dan melawan kekhawatiran yang terus menghantui.
Namun, ada hal yang Sabrina tidak tahu: Rafa memantau setiap langkahnya. Ia menggunakan sumber dayanya untuk memastikan gadis itu aman, termasuk menyewa orang untuk memeriksa lingkungan sekitar restoran atau bahkan mengakses CCTV di area tersebut. Semua ini Rafa lakukan diam-diam, tanpa memberi tahu Sabrina. Bukan karena ia tidak percaya, tetapi karena ia terlalu takut kehilangan.
Ketika istirahat makan siang, Rafa memutuskan untuk memeriksa Sabrina lagi. Ia tahu ini berlebihan, tapi ia tidak peduli. Ia menelepon sambil menatap layar laptopnya, di mana rekaman CCTV restoran menampilkan Sabrina yang sedang mengambil pesanan dari dapur.
"Halo?" suara Sabrina terdengar pelan. Di latar belakang, suara-suara sibuk restoran sedikit terdengar.
"Hai, Sayang. Lagi sibuk?" tanya Rafa dengan suara lembut, sambil memperhatikan Sabrina yang tampak sedang berbicara dengan seorang rekan kerja.
"Baru selesai antar pesanan. Ada apa?" Sabrina terdengar sedikit ragu, mungkin tidak ingin terlihat mengobrol terlalu lama di jam kerja.
"Cuma mau dengar suara kamu aja," jawab Rafa jujur. Ia menatap layar laptop, memastikan Sabrina benar-benar baik-baik saja. "Semua baik-baik aja di sana?"
Sabrina terkekeh pelan. "Baik kok. Aku mulai nyaman di sini. Kamu nggak perlu khawatir."
Rafa tersenyum kecil. Meski lega mendengar itu, ia masih terus memperhatikan layar, mencari tanda-tanda lain yang mungkin dilewatkannya. "Kalau ada apa-apa, bilang ya. Aku nggak mau kamu terlalu capek."
"Iya. Terima kasih," jawab Sabrina lembut. Gadis itu sepertinya terlalu takut untuk menyebut nama Rafa, khawatir akan ada orang yang curiga dengan siapa pemilik nama itu. "Eh, aku harus balik kerja dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi."
"Okay. Jaga diri kamu, ya."
Setelah menutup telepon, Rafa membiarkan layar CCTV tetap menyala di sudut layar laptopnya, meski ia kembali ke berkas-berkas pekerjaannya.
Hatinya sedikit lebih tenang setelah memastikan Sabrina benar-benar baik-baik saja. Namun, ia tahu rasa khawatir itu tidak akan sepenuhnya hilang.
Meski Sabrina terlihat nyaman, Rafa tetap takut jika suatu hari gadis itu merasa hubungan mereka terlalu sulit dan memutuskan untuk pergi. Ia bertekad untuk menjaga Sabrina, bahkan jika itu berarti harus terus memantau dari jauh.