17. Cinta Rafa untuk Sabrina

1169 Kata
Restoran tempat Sabrina bekerja mulai sibuk saat jam makan siang. Di tengah hiruk pikuk, Sabrina fokus pada pekerjaannya. Tika, Dita, dan Ardi sering membantu, membuat suasana kerja terasa lebih menyenangkan. Namun, Sabrina terkejut ketika melihat sosok yang sangat ia kenal muncul di antara pelanggan: Mama Indah. Sabrina menelan ludah. Wanita itu tampak elegan seperti biasa, duduk di salah satu meja dengan secangkir teh. Mama Indah tersenyum hangat saat tatapan mereka bertemu. “Sabrina, kemarilah sebentar,” panggil Mama Indah dengan nada lembut. Sabrina melangkah mendekat dengan gugup, berusaha menjaga profesionalisme. “Selamat siang, Ma. Mama apa kabar?” Mama Indah mengangguk. “Baik, Sayang. Kamu bagaimana? Sepertinya kamu sibuk sekali di sini.” Sabrina tersenyum tipis. “Baik, Ma. Sabrina udah mulai terbiasa bekerja. Ma, makasih ya, udah kasih Sabrina kerjaan di sini.” Mama Indah mengangguk puas. “Bagus kalau begitu. Mama senang melihat kamu sudah betah. Kamu nggak perlu berterima kasih, sayang. Justru Mama senang, kita jadi bisa barengan lagi sekarang. Ingat, kamu masih anak Mama.” Setelah itu, Sabrina kembali bekerja. Mama Indah tetap berada di restoran, memperhatikan Sabrina dari jauh. Sesekali beliau tersenyum melihat Sabrina melayani pelanggan dengan ramah. Hati wanita itu merasa lega karena Sabrina tampak baik-baik saja. Sementara itu, Sabrina berusaha menenangkan dirinya. Kehadiran Mama Indah membuatnya sedikit tegang, tapi ia juga merasa terharu melihat perhatian wanita itu. Ia melanjutkan tugasnya, mencoba tidak terlalu memikirkan hal-hal yang mengganggu. Ketika sore menjelang dan jam kerja Sabrina selesai, Mama Indah masih ada di restoran. Wanita itu menghampiri Sabrina yang baru selesai mengganti seragam. “Sabrina, ayo Mama antar kamu pulang,” ucap Mama Indah dengan nada penuh perhatian. Sabrina terkejut tapi buru-buru menolak. “Terima kasih, Ma. Tapi aku mau mampir ke minimarket dulu. Jadi, nggak usah repot-repot.” Sabrina berusaha menolak. Tentu, dia tidak ingin Mama Indah tahu di mana ia tinggal, dan dengan siapa ia tinggal di sana. Mama Indah mengerutkan dahi, tidak puas dengan jawaban itu. “Kalau begitu, ikut Mama makan malam di rumah saja. Mama kangen ngobrol sama kamu. Nanti ke minimarketnya Mama anterin sekalian.” Sabrina merasa serba salah. “Maaf, Ma. Aku rasa tidak perlu. Habis ini Sabrina juga mau cepat-cepat istirahat juga. Nggak papa Mama duluan aja! Sabrina mau jalan aja sampai minimarket, nanti pulangnya bisa naik bus." "Bus?" Sabrina mengangguk. "Sabrina udah biasa, Ma. Mama nggak perlu khawatir. Mama mending pulang aja! Pasti Papa juga udah nunggu buat makan malam," bujuk Sabrina. Ketika Sabrina dengan sopan menolak tawaran Mama Indah untuk diantar pulang, wanita itu memandangnya dengan tatapan lembut namun penuh tekad. “Kenapa kamu selalu menolak, Sayang? Mama benar-benar kangen ngobrol sama kamu. Soal kakak kamu, kamu tenang aja! Dia jarang pulang akhir-akhir ini. Kata Papa sih, Rafa udah beli beberapa properti baru. Jadi mungkin aja dia tinggal di sana,” kata Mama Indah, suaranya terdengar tulus. Sabrina terdiam, merasa bersalah. Ia tahu alasan di balik penolakannya bukanlah karena ia tak mau, melainkan karena takut terlalu dekat dan semakin sulit menjauhkan diri. “Mama ngerti, mungkin kamu masih canggung. Tapi apa salahnya sekali-sekali kita makan malam bareng, kayak dulu waktu kamu masih tinggal di rumah Mama?” lanjut Mama Indah, suaranya kini sedikit bergetar. Sabrina menggigit bibir. Ia bisa merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan Mama Indah. Perasaan hangat bercampur canggung mulai merayapi hatinya. “Ma, Sabrina mengerti. Tapi mungkin nggak sekarang. Bukan hanya Sabrina yang akan merasa canggung. Tapi orang-orang di rumah pasti akan ngerasa aneh kalau tiba-tiba Sabrina muncul. Sabrina nggak mau ganggu ketenangan kalian,” jawab Sabrina dengan nada ragu. Mama Indah menggelengkan kepala, kemudian menggenggam tangan Sabrina dengan lembut. “Sabrina, kamu nggak pernah mengganggu. Kamu tahu, setiap kali Mama lihat meja makan kosong tanpa kamu, Mama merasa ada yang hilang. Papa juga, walaupun dia nggak bilang, dia pasti kangen. Rumah jadi sepi sekarang.” Perkataan itu membuat Sabrina semakin sulit menolak. Ia menunduk, merasa haru sekaligus bersalah. Mama Indah menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut. “Bagi Mama, kamu tetap bagian dari keluarga. Kamu anak Mama, Sabrina. Mama cuma mau kita bisa ngobrol lagi, kayak dulu. Apa itu terlalu banyak yang Mama minta?” Kata-kata itu menusuk perasaan Sabrina. Ia bisa melihat ketulusan di mata Mama Indah. Wanita itu tidak hanya memintanya makan malam, tetapi juga mencoba menjaga ikatan yang hampir renggang. “Mama nggak akan lama-lama, kok. Setelah makan, kamu bisa langsung pulang. Mama cuma ingin tahu kabar kamu, dengar cerita kamu. Itu aja,” lanjut Mama Indah sambil tersenyum, mencoba meyakinkan Sabrina lebih jauh. Sabrina masih ragu, tapi perlahan ia merasa hatinya mulai luluh. Bagaimanapun, Mama Indah adalah seseorang yang pernah merawat dan mencintainya tanpa syarat. Sulit baginya untuk terus menolak wanita yang telah menganggapnya seperti anak sendiri. “Baiklah, Ma,” akhirnya Sabrina mengangguk pelan. “Tapi aku nggak bisa lama-lama, ya.” Mama Indah tersenyum lebar, wajahnya langsung terlihat lebih cerah. “Terima kasih, Sayang. Mama janji nggak akan lama. Papa pasti senang kalau tahu kamu datang. Ayo, kita berangkat sekarang!" Diam-diam, Sabrina mengirim pesaj pada Rafa untuk memberikan kabar kalau ia akan pulang bersama Mama Indah. Ketika keluar dari restoran, Sabrina pun melayangkan pandangannya ke sekitar tempat biasa Rafa menjemputnya. Untung saja, mobil pria itu tidak ada di sana. Di perjalanan menuju rumah, Sabrina berusaha mengabaikan perasaan cemas yang mulai mengganggunya. Meski ia sudah memastikan Rafa tidak di rumah, ia tetap khawatir akan kemungkinan yang tak terduga. Namun, melihat wajah bahagia Mama Indah di sebelahnya, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa keputusannya kali ini adalah yang terbaik. Sabrina mengecek ponselnya. Ada dua buah pesan dari Rafa yang mengatakan jika pria itu akan menunggu Sabrina di rumah mereka. Dia juga berpesan agar Sabrina langsung memberi tahunya jika terjadi sesuatu. "Sayang ..." Sabrina menoleh. Membiarkan Mama Indah menggenggam tangannya dengan erat. Dari tatapan dan sikap wanita paruh baya itu, Sabrina bisa merasakan kasih sayang tulus yang begitu besar, layaknya kasih seorang ibu pada putrinya. Dan lagi-lagi, hal itu menggores hatinya. Ia semakin merasa bersalah, karena diam-diam telah melakukan sesuatu yang mungkin akan menghancurkan hati Mama Indah suatu hari nanti. Sementara itu, Rafa, yang sedang sibuk di kantor, menerima laporan bahwa Sabrina sedang bersama Mama Indah. Meski ia mencoba tetap fokus pada pekerjaannya, kecemasan mulai menghantui pikirannya. Ia berusaha mengingatkan dirinya bahwa ia telah berhasil meyakinkan Sabrina untuk tinggal di sisinya. Namun, ia tetap khawatir jika ada ucapan atau perbuatan Mama dan Papanya yang akan membuat Sabrina kembali ragu. Usai dengan pekerjaannya, Rafa mengirim beberapa pesan perintah untuk orang-orang yang ada di kediaman orang tuanya. Ia meminta mereka untuk selalu mengawasi apapun yang dibicarakan orang tuanya dengan Sabrina. Setelah itu, Rafa buru-buru pulang. Ia harus segera sampai rumah, agar ia bisa memantau Sabrina melalui kamera CCTV yang terhubung dengan laptop miliknya. Katakanlah jika apa yang Rafa katakan berlebihan. Namun, pria itu sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya jauh dari Sabrina. Ia pernah merasakan bagaimana saat kedua orang tuanya berhasil membuat Sabrina jauh darinya. Dan untuk kali ini? Rafa tidak ingin kejadian itu kembali terulang. Ia akan selalu memastikan jika tak akan ada kesempatan bagi Sabrina untuk hilang dari pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN