Setelah mendapat wejangan dari ibu dan ayahnya. Jeno dan Dita mulai memahami apa arti sebuah cinta dalam rumah tangga. Sudah seharusnya Dita dan Jeno bekerjasama dalam membangun biduk cinta mereka. Tak ubahnya kapal dan nahkoda, mereka harus berlayar dengan seimbang mengarungi badai kehidupan dan lautan cinta mereka. Makan malam sudah usai, Dita kembali ke kamarnya begitu juga dengan Jeno. Mereka berdua bersama-sama menapaki anak-anak tangga. Dita berada di depan yang disusul Jeno berada di belakang Dita. Jeno beberapa kali berdehem, Dita tidak menghiraukannya dan terus berjalan langkah demi langkah. Dita sudah sampai di depan pintu kamarnya. Dia menoleh ke arah Jeno, penuh sindiran terhadap pria itu. "Itu pintu kamarmu, Juna. Jangan sampai kamu salah masuk kedalam kamarku. Ingat ya,

