Mobil yang melaju cepat sudah sampai di depan rumah keluarga Jeno. Dia lihat Dita tertidur di mobilnya. Sesaat Jeno menatapnya, "gadis jelek ini benar-benar menyusahkan orang lain," gumamnya.
Jeno menghela nafas setelah memarkir mobilnya. Dia membuka seat belt yang terpasang di tubuh Dita, perlahan-lahan karena takut gadis itu terbangun karenanya. Setelah Jeno melepaskan sabuk pengaman itu, dia turun kemudian membuka pintu mobil di posisi Dita. Jeno segera menggendong gadis. Berencana untuk memindahkannya ke dalam kamar.
Jeno dengan baik hati membawa Dita sampai depan pintu, ada Mang Maman keluar dari dalam rumah, melihat Jeno tentu saja dia menyapanya dengan sopan. "Den Jeno," ucapnya menyapa. Lalu Jeno menegurnya.
"Panggil saya Juna, Mang," kata Jeno dengan wajah seriusnya saat itu.
Saat Juna mengobrol singkat dengan Mang Maman, Dita mengerutkan dahi, gadis itu menggeliat kecil, Jeno panik. Dia tidak mau Dita melihatnya sedang menggendong gadis itu. Segera Jeno menyerahkan tubuh Dita kepada Mang Maman. Tentu saja Mang Maman sangat kaget, dia gemetaran karena ulah Jeno.
"Den... ini?" Mang Maman kebingungan. Terlebih ketika Dita bangun dan melihat Mang Maman di depan wajahnya, bahkan menggendongnya. Gadis itu sangat malu dan juga kesal dengan Jeno.
"Mang Maman! Apa yang Mang Maman lakukan? Turunkan Dita, Mang!" pintanya.
"Maaf, Non. Saya tidak bermaksud berbuat lancang. Tadi Den Juna...."
Mang Maman berhenti, dia tidak berani melanjutkan kalimatnya karena ada Jeno di tempat itu. Lalu Dita menatap Jeno dengan tatapan curiga.
"Kamu apa-apaan sih, Juna? Kamu bisa membangunkan aku jika tidak mau menggendong. Tapi jangan meminta orang lain untuk melakukannya," ucap Dita dengan wajah kesal kepada tunangannya itu.
Jeno diam saja, dia justru berjalan cuek melewati tubuh Dita. Gadis itu membelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan pria itu.
"Juna! Tunggu Juna!" Dita menarik lengan Juna, dia ingin bicara dengan pria angkuh itu. Entah sejak kapan tunangannya itu memiliki sikap yang membuatnya kesal setiap waktu.
Jeno menghentikan langkahnya tepat di anak tangga ketiga. Dia menyandarkan lengannya di sisi tangga, dengan santai dia menatap Dita. "Ada apa?" tanya Jeno dengan singkat.
"Kita harus bicara Juna. Aku heran kenapa kamu berubah sikap? Kamu seperti orang lain bukan seperti Juna yang aku kenal selama ini," jawab Dita dengan tatapan menyelidik.
"Terus?" respon Jeno begitu menjengkelkan untuk Dita.
"Ya terus... terus kenapa kamu berubah?" Dita masih menatapnya, sedikit ragu dengan tatapan Jeno yang membuatnya berdebar dan malu.
"Saya berubah? Kamu pikir aku iguana bisa berubah-ubah. Harusnya kamu lebih mengenalku daripada orang lain. Sudahlah, kamu tidak usah membahas dan mempertanyakan hal yang tidak penting," kata Jeno. Dia berbalik untuk melanjutkan langkahnya menyusuri anak-anak tangga.
"Ih, kamu nyebelin banget Juna! Kamu tidak tau kalau kamu sering mengabaikan aku akhir-akhir ini. Sikapmu juga tidak lembut lagi padaku. Kamu kenapa Juna?!" Dita berteriak di bawah tangga, kepalanya mendongak mengikuti Jeno yang semakin tinggi. Pria itu menoleh singkat, senyum seringai yang terbit miring seakan menghujani Dita dengan cibiran.
"Dasar menyebalkan!" Dita kesal, dia menghentakkan kakinya bergantian di lantai. Berharap pria itu menanggapi keluhannya ternyata sama sekali tidak.
Dita yang kesal dengan sikap tunangannya, dia memilih masuk kedalam kamar. Dia menenangkan dirinya dengan beristirahat.
Waktu berlalu dengan cepat, sudah waktunya makan malam. Dita belum bangun ketika Pak Artama sudah kembali. Pria tua itu sedang duduk dengan Jeno di meja makan.
"Jeno, bangunkan Dita! Kita harus makan malam bersama. Jangan dibiasakan tidak peka dengan calon istrimu itu," kata Pak Artama memberikan pengertian kepada Jeno.
"Mm, Jeno bangunin," jawabnya kemudian bangun dan berjalan ke arah kamar Dita yang ada di lantai bawah. Jeno berjalan, dia sudah sampai di depan kamar gadis itu. Jeno memanggilnya.
"Dita! Bangun Dita!" panggil Jeno dengan keras tetapi Dita tidak juga mau bangun.
"Dita, bangun sudah malam nih." Panggilnya lagi sedikit perhatian kepada gadis itu.
Gadis itu menggeliat kecil, dia menguap dengan lebar dengan mata yang membulat sempurna. Dia menatap Jeno yang berdiri di depannya. Sangat dekat membuat mundur beberapa langkah. "Jangan dekat-dekat. Kamu belum teruji kehigienisannya," ucap Jeno dengan asal.
Mendengar Jeno yang mengatainya tidak higienis, tentu saja Dita kesal. Dia mendekati Jeno lalu memukulkan tinju di dadanya Jeno. Pria itu mengernyit kemudian berteriak memanggil papanya.
"Papa, Dita memukulku nih. Dia memukul calon suaminya sendiri." Juna berteriak meminta bantuan dan simpatik ayahnya. Dia tidak membiarkan gadis itu lolos begitu saja.
Mendengar Jeno yang mengaduk-aduk kepada Pak Artama. Tentu saja Dita tidak terima. Dia membalas.
"Tidak papa, itu tidak benar. Aku anak yang baik. Gadis ini saja yang suka berlebihan dan mendramatisir keadaan," kata Jeno berbalik menyerang Dita.
"Nggak papa, itu bohong. Juna sangat buruk bersikap padaku. Harap papa berpikir bagaimana solusinya."
Pak Artama yang ada di meja makan, dia hanya mampu tersenyum sesekali. Tidak bisa membayangkan jika Jeno benar-benar menikah dengan Jeno. Mungkin kamar mereka seperti kamar kapal pecah nantinya.
Jeno dan Dita sudah terlihat, Pak Artama melihat singkat ke arah mereka kemudian kembali lagi ke arah lain.
Mereka memulai makan malam itu, Dita yang iseng sesekali menendang kaki Jeno. Jeno juga sama, dia melakukan hal yang sama kepada Dita.
Pak Artama seperti orang ketiga di antara pasangan itu. Walau ribut-ribut tetapi keduanya sangat manis jika bersama.
Pak Artama berdehem, dia mencoba menenangkan kericuhan keduanya dengan memberi kode seperti itu.
EHEM!
Seketika kaki Dita dan juga Jeno menjadi tenang, mereka saling melirik satu sama lain kemudian menatap wajah Pak Artama bersamaan.
Mereka memulai makan malam itu dengan tenang sampai tiba-tiba Dita menanyakan keberadaan Ibu Diana yang tidak kunjung pulang. Dita penasaran, dia kembali bertanya kepada calon ayah mertuanya.
"Pa, ngomong-ngomong mama dimana? Kenapa mama tidak pernah pulang?" tanya Dita kepada calon ayah mertuanya.
Pak Artama begitu gugup, dia tidak siap harus menjawab apa? Dia mencoba membuat alasan yang lebih meyakinkan.
"Mama sedang ada road seminar di beberapa kota. Mama tidak bisa pulang sebelum semuanya selesai," jawab Pak Artama.
"Dita kangen banget sama mama. Sepertinya sudah lama sekali Dita tidak melihatnya," ujarnya dengan murung.
"Mungkin mama akan pulang beberapa hari lagi. Kamu tenang saja ya," ucap Pak Artama meyakinkan Dita.
Selesai makan malam itu, Dita memilih kembali ke kamarnya tetapi Jeno memanggilnya. "Dita!" gadis itu menoleh.
Dita belum melanjutkan langkah kakinya, dia menunggu Jeno datang padanya. Jeno sudah datang, dia menghadap ke arah wajah Dita.
"Ada apa Juna?" tanya Dita.
"Ada perlu," jawab Jeno yang juga menyebalkan bagi Dita.
"Perlu apa?" Dita mulai kesal.
"Perlu kamu buat temenin aku besok datang ke kampus. Coba sini!" jawab Jeno.
"Ke kampus? Buat apa?" tanya Dita.
"Buat nakut-nakutin mahasiswa yang bandel," jawabnya.
"Ih, nyebelin banget sih," sahut Dita.
Mereka pun saling menatap kemudian tersenyum sama-sama.