Hari sudah sore ketika Dita selesai bekerja. Dia yang sangat sibuk hari itu karena costumer yang begitu banyak dan salon yang sangat ramai, membuat Dita tidak sempat beristirahat atau santai-santai manja. Harinya dia lewatkan dengan sangat sibuk.
Dita menghela nafas sega ketika seluruh pekerjaanya sudah selesai. Sesaat dia terdiam kemudian berjalan pergi ke tempat penyimpanan barang-barang karyawan.
Dita bingung ketika mencari tas miliknya. Berulang-ulang Dita mencarinya, tas itu tidak juga ditemukan. Dia sangat bingung karena benar-benar tidak di tempat itu.
Dita menanyakan tasnya kepada teman-temannya tetapi tidak ada satu pun yang melihatnya.
Beberapa orang mencarinya, Dita terlihat frustasi karena semuanya ada di dalam sana. Bahkan foto dia dan kedua orang tuanya yang hanya tersisa satu-satunya ada di dalam dompet itu. Merasa sedih Dita hanya bisa menangis kesal kemudian pasrah.
Tidak tau harus numpang ke siapa? Semua karyawan tidak ada yang satu arah dengannya. Dita tidak enak jika harus terang-terangan meminta tumpangan atau orang lain mengantarnya. Terlebih ponsel Dita juga di dalam tas itu. Dita tidak bisa menghubungi siapapun saat itu.
Dita terdiam, dia melihat satu demi satu karyawan pulang.
"Mbak Dita, kami duluan ya," kata seseorang karyawan yang membonceng karyawan lainnya.
Dita hanya bisa berharap tunangannya bisa menjemputnya. Dita sangat bingung, siapa orang yang berani-beraninya mengambil tasnya.
Dita masih berdiri di sisi jalan, belum ada taksi yang lewat saat itu. Dia mulai keram dan sudah tidak tahan. Dita duduk jongkok di samping jalan, sampai tiba-tiba mobil yang dikenalnya datang dan berhenti tepat di dekatnya.
Sangat bersyukur, berfikir Jeno benar-benar tau bahwa dia sedang mengingat dan membutuhkan pria itu.
"Juna, untung kamu datang." Dita sumringah karena kedatangan Jeno sore itu. Niat hari tidak ingin di jemput, ternyata Jeno menjemputnya di saat yang tepat.
"Mm, ayo naik!" pinta Jeno yang membuka kaca mobilnya. Dia melihat Dita dan meminta gadis itu segera masuk ke dalam.
Dita mengangguk, dia bergegas masuk dan duduk di samping Jeno.
"Sebenarnya aku sedang kena musibah," kata Dita menceritakan keluh kesahnya.
"Musibah apa? Kamu terlihat sehat dan baik-baik saja," balas Jeno kepada Dita.
"Ih kamu nggak tau aja. Tas aku hilang di salon. Aku heran kenapa sekarang tidak aman? Ini pertama kalinya ada yang kehilangan sesuatu. Karyawan mama sangat baik dan jujur, aku juga tidak mengerti kenapa begini? Aku bener-bener harus bicara sama mama," sahut Dita dengan wajah penuh tanda tanya. Dia benar-benar tidak mengerti.
"Mm, begitu." Jeno terlihat santai menyikapi cerita Dita. Bahkan Jeno tidak kaget atau menunjukan reaksi apapun.
"Kamu biasa-biasa aja pas aku bilang tas aku hilang dan salon tidak aman. Kamu tidak ada pedulinya sama usaha mama. Kamu tidak tau kalau mama sangat membanggakan usahanya ini," kata Dita yang kesal dengan Jeno.
"Mm, iya juga ya. Kok aku biasa aja gitu," ucap Jeno semakin membuat Dita kesal. Segera dia memukul tangan Jeno.
"Juna...." Dita mendengus kesal kepada Jeno, terdengar juga gadis itu menggerutu. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.
"Kamu kenapa mukul? Aku sedang nyetir, bahaya tau mukul-mukul orang lagi nyetir," protes Jeno kepada Dita.
"Abisnya kamu nyebelin banget. Bisa-bisanya kamu berkata begitu dan biasa aja. Seolah kamu itu tidak mementingkan aku dan usaha mama," ucap Dita yang sangat kesal dengan Jeno.
"Hm, terus maunya apa? Kamu itu heran banget ya. Diperhatikan salah, tidak diperhatikan tambah salah. Kamu sendiri yang tidak mau aku jemput, dan sekarang menuntut kalau aku tidak perduli. Aneh banget, wanita itu bener gak ada yang mau mengalah," keluh Jeno.
Dita terdiam, ya memang dia yang tidak ingin dijemput Jeno sore itu. Berniat memberi pelajaran untuk kekasihnya. Siapa sangka dirinya akan mengalami musibah kehilangan tas dan Jeno benar-benar bersikap datar dan biasa saja. Itu yang membuat Dita tambah geram. Dita terdiam, dia memalingkan wajahnya dari Jeno. Dia melihat-lihat ke sisi jalan.
"Juna, kita beli ice cream yuks! Aku pengen makan ice cream," rengek Dita meminta dibelikan ice cream. Entah kenapa tiba-tiba gadis itu ingin Ice cream mungkin karena otaknya yang sedang panas dan kesal.
"Males ah, nanti aja kamu beli sendiri saat sampai rumah. Kan banyak di mini market dekat rumah," jawab Jeno.
"Nggak mau. Aku maunya ice cream itu," kata Dita menunjuk gedung yang menjual bermacam-macam ice cream di dalamnya.
"Ayolah Juna...." Dita merengek.
Dita ingat, dulu setiap kali Dita merengek Juna akan luluh dan langsung membelikannya. Apapun yang dia mau, akan selalu dipenuhi oleh Juna. Berbeda dengan saat ini, tunangannya itu bermetamorfosis menjadi seorang yang menyebalkan yang membuatnya ingin selalu marah-marah.
"Juna...." Dita terus merengek.
"Apa sih, nggak penting banget merengek kayak gitu. Udah kayak anak kecil minta balon aja," ledek Jeno.
Dita tidak menyerah, dia menarik-narik ujung kemeja milik Jeno. Tempat ice cream itu sudah terlewat jauh.
"Kita harus memutar jalan kalau mau ke sana. Udah lewat jauh nih, mending besok-besok aja, ya, belinya?" Jeno menoleh, bibir gadis itu mengerucut maju. Dita tidak menjawab apapun lagi selain melancarkan jurus andalannya. Diam seribu bahasa.
Jeno terkekeh mendapatkan reaksi Dita yang marah, kesal, sedih dalam waktu yang sama. Dita tidak bereaksi dengan kekehan Jeno. Baginya, pria di sampingnya itu pria yang tidak punya perasaan.
"Kamu marah?" Jeno masih iseng, bahkan masih menggoda Dita.
" Calon pengantin kok ngambekkan. Nggak takut pengantin yang cowoknya kabur?"
"Biar saja kabur, biar aku cari gantinya," jawab Dita yang tidak disangka-sangka. Berharap Dita berhenti ngambek, Jeno mulai membujuknya.
"Udah jangan ngambek. Aku balik lagi ke tempat tadi," kata Jeno.
Dita jutek, dia masih marah.
"Nggak usah," jawab Dita singkat.
Namun Jeno tidak menghiraukan ucapan gadis itu. Nyatanya Jeno tetap memutar balik mobilnya.
Mobil Jeno melaju kembali ke arah toko ice cream untuk menyenangkan hati Dita. Sudah sampai, Jeno memarkir mobilnya kemudian turun lebih dulu. Jeno dengan gentleman membuka pintu mobil untuk Dita. Terkadang Dita bingung dengan sikap tunangannya. Pria itu selalu berubah-ubah sikap padanya. Kadang sweet kadang kecut dan asem. Entahlah, Dita bingung mendefinisikan sikap tunangannya itu.
Dita dan Jeno masuk kedalam. Mereka berjalan berkeliling tempat itu. Sangat luas dengan varian rasa yang banyak. "Kamu mau rasa apa?" tanya Dita akhirnya.
"Yang mau ice cream itu kamu. Kenapa kamu tanya ke saya?" Jeno menatap Dita lamat-lamat.
"Tapi kamu juga harus makan. Vanilla or coklat?" tanya Dita sekali lagi. Gadis itu memberi rekomendasi pilihan rasa.
"Coklat vanilla," jawab Jeno.
"Mm, oke...." Dita berjalan, dia memilih ice cream satu rasa mix coklat dan vanilla, satunya rasa vanilla original.
Sudah dibeli, Jeno membayar dua ice cream yang dibeli Dita. Mereka duduk di tempat itu dan menikmati ice cream itu langsung di tempatnya.
Jeno menatap Dita, dia membayangkan akan seperti apa ngamuknya gadis itu ketika tahu tasnya ada bersamanya.
"Kamu liat apa? Aku emang cantik jadi biasa aja liatnya," ucap Dita dengan pedenya.
"Oya, aku baru tau orang cantik bilang dirinya cantik. Biasanya orang cantik tidak akan mengatakannya," balas Jeno.
"Aku kan beda orangnya," ujar Dita sembari menikmati ice cream itu.