"Dita, kamu kenapa?" tanya seorang temannya yang melihat Dita terbengong menatap ke arah lain.
"Mm, aku tidak apa-apa. Hanya melihat seseorang yang mirip teman lama saja," jawab Dita yang tidak memberitahukan keberadaan Jeno di tempat itu.
Hanya Dita saja yang melihat sementara dua temannya tidak melihat anak dari bos mereka. Sesungguhnya, Dita penasaran dengan yang dilakukan tunangannya itu. Dilihat dari sikapnya, sepertinya obrolan itu serius. Bahkan Dita melihat Jeno membuka dokumen dan seperti menandatangani sesuatu.
"Apa ada yang tidak aku ketahui dari Juna. Sebenarnya apa yang dia lakukan dengan orang berdasi itu. Apa itu bosnya Juna di pekerjaannya yang lain," pikir Dita. Dia tidak tau apa saja yang dilakukan tunangannya diluar sana. Dita tidak pernah menanyakannya dan tidak banyak tau tentang dunia kerja pria itu.
Dita yang fokus memperhatikan Jeno, membuatnya sampai lupa memesan makan siang. Segera Dita memesan beberapa makanan favoritnya. Salah satunya adalah cumi goreng saus mayones. Dita sangat menyukainya.
Setelah memesan makan dan minum, Dita kembali di wajah Jeno. Ketampanan pria itu membuat Dita enggan berpaling. Sesungguhnya penampilan tunangannya itu jauh lebih baik dari sebelumnya, namun entah kenapa ada yang terus mengganjal di hati Dita. Dita bingung, bahkan dia tidak tau apa penyebabnya.
Tidak lama makanan dan minuman yang dipesannya sudah datang. Seorang pelayan menata pesanan itu di atas meja. Teman-teman Rania yang sudah sangat lapar, tentu saja ingin cepat-cepat mencicipinya.
Dita berpaling dari wajah Jeno ke arah makanannya. Sudah sangat lapar membuat Dita lahap memakan semua yang ada di meja. Jeno yang sudah selesai meeting, dia berjalan pergi dari cafe itu bahkan dia melewati Dita yang sedang makan. Pria itu sedikit meliriknya, Jeno tau itu Dita tetapi membiarkannya saja dan tidak menggangunya.
Dita yang menikmati makanannya, sesekali dia ingin melihat Jeno. Ingin tau calon tunangannya itu sedang melakukan apa saja. Dita kembali melihat ke arah meja yang sama, tetapi hilang. Jeno tidak ada lagi di tempat duduknya.
"Hah, kemana Juna? Tadi masih ada dan sekarang udah hilang gitu aja tuh orang?" Dita mencari-cari tetapi Jeno tidak terlihat di mana pun. Temannya yang melihat Dita, mereka aneh karena sikap Dita.
"Kamu kenapa Dita? Kenapa makan seperti tidak tenang? Kamu nyari siapa sih?" tanya salah satu temannya.
"Iya nih Dita. Apa nyari Pak Juna? Pak Juna ada di kampusnya kali, Dit?" timpal temannya yang lain.
Merasa tidak enak karena tidak fokus dan meresahkan teman-temannya, Dita menghela nafas pelan kemudian kembali fokus dengan teman-temannya.
"Nggak kok, cuma emang lagi kangen aja gitu. Jadi merasa calon suamiku itu ada dimana-mana gitu," ungkap Dita sembari terkekeh.
"Huh dasar kamu tuh," ledek yang lainnya.
Mereka menikmati makan siang itu dengan lahap, Dita dan teman-temannya keluar setelah makan bersama. Mereka tentu saja harus segera kembali ke salon.
Sudah beberapa menit berlalu, Dita sudah ada di salon. Dia lihat ada seseorang yang tidak asing, tentu saja dia tau itu tunangannya. Jeno sengaja datang ke salon dan hanya untuk mengganggu Dita. Entahlah, hidup Jeno sepi ketika berhenti mengganggu gadis itu.
"Juna, ngapain kamu di sini?" tanya Dita. Sementara yang lain tidak bicara apapun karena Jeno merupakan anak bos mereka. Tentu saja mereka hanya mampu berkata sopan dan ramah.
"Yang sopan ya sama pelanggan? Saya mau creambath," jawab Jeno.
"Hah, kamu ridak salah?" Dita membelalak, Jeno benar-benar berbicara ingin creambath di salon ibunya sendiri, dia pun hanya meminta Dita yang mencuci rambutnya.
"Ya sudah, kamu duduk biar aku panggilkan Anis untuk mencuci rambut kamu," jawab Dita yang langsung direspon Jeno dengan penolakan.
"Saya maunya kamu yang mencuci rambut saya, bukan orang lain atau siapapun," ungkap Jeno.
"Kenapa harus aku? Karyawan di sini banyak dan bukan tugasku mencuci rambut," jawab Dita.
"Aku tidak mau tahu, cepat cuci rambutmu sekarang!" perintah Jeno yang memaksa Dita.
Dita yang terpojok akhirnya menyerah saja. Dia mengalah dan mencuci rambut tunangannya itu. Dita tau, pria itu hanya iseng mencuci rambut. Tujuannya sangat jelas ingin mengganggunya.
"Kamu libur tetapi kurang kerjaan," sindir Dita.
"Kurang kerjaan gimana? Pekerjaanku banyak," jawab Jeno.
"Udah jangan bohong. Kamu creambath di sini karena kamu ingin menggangguku, kan? Kamu jujur saja Juna?" tanya Dita yang disangkal Jeno. Dia tidak mungkin mengiyakan dan merendahkan harga dirinya di depan Dita. Dita akan besar kepala jika tau dia benar-benar mencarinya hari itu.
"Nggak. Oya, kamu tumben makan di cafe. Biasanya kamu bawa bekal kayak anak TK," sindir Jeno yang ternyata tahu bahwa dia makan di cafe.
"Sesekali makan di cafe atau restoran bukan masalah. Ya aku pengen aja hari ini sama temen-temen makan di tempat mahal," jawab Dita.
"Lagian ini uangku sendiri," lanjutnya.
Dita masih mencuci rambut Juna dengan lembut dan perlahan. Dia mencucinya. Sangat tampan ketika Jeno memejamkan matanya di depannya seperti itu.
"Iya, memang tidak apa-apa kamu makan di cafe atau restoran."
Setelah beberapa menit, Dita sudah menyelesaikan tugasnya mencuci rambut Jeno. Sangat harum dengan aroma wild rose andalan salon Ibu Diana. Wangi alami yang menenangkan dan segar ketika seseorang mencium aromanya.
"Oya, mau aku jemput?" tanya Jeno baik-baik.
"Nggak usah," jawab Dita yang bertindak keras kepala akhir-akhir ini. Sengaja untuk memberi pelajaran bahwa dia juga bisa menolak Jeno, dia juga bisa bersikap sama seperti tunangannya itu. Tidak berubah rasa cinta Dita untuk pria itu tetapi hanya memberi sedikit pelajaran saja.
"Terus mau pulang pakai apa? Mau jalan kaki atau gimana?" tanya Jeno.
"Aku baik-baik ya nawarin kamu. Ini terpaksa aja biar papa tenang dan nggak selalu nyalahin aku karena nggak jemput kamu," lanjutnya membawa Pak Artama untuk membuat alasan.
"Aku naik angkot juga tidak masalah. Aku tidak manja seperti kamu," jawabnya.
"Ini bukan masalah manja atau tidak manja, ini masalah kurang aman atau lebih aman."
"Maksudnya?" Dita ingin diperjelas.
"Banyak kejahatan diluar sana. Kamu tidak takut pulang sendiri? Kalau ada yang menodong atau merampok mu, apa kamu siap dengan itu?" tanya Jeno yang ada benarnya juga.
"Iya aku tau diluar sangat tidak aman, tetapi kamu tidak harus menakut-nakuti aku seperti itu," protes Dita.
"Siapa yang nakut-nakutin kamu. Ya sudah aku mau pergi. Berapa biaya yang harus aku bayar untuk creambath?" tanya Jeno dengan serius.
"Untuk creambath menggunakan wild rose seharga 476 ribu," jawab Dita.
Jeno membayarnya. Walau salon itu milik ibunya, Jeno harus profesional dan membedakan mana bisnis mana keluarga. Artinya diluar rumah mereka adalah bisnis, di dalam rumah mereka adalah keluarga.
Jeno keluar dari salon setelah membayar tagihannya. Dia berjalan keluar, Dita tidak menyadari sesuatu yang diambil Jeno darinya.
Jeno berjalan masuk kedalam mobil, dia lemparkan tas Dita di jok belakang mobilnya. Jeno tersenyum, seringai wajahnya begitu misterius.
"Kita lihat saja. Kamu mau jalan kaki pulang ke rumah?" gumam Jeno.
Pria itu benar-benar jahil, dia dengan sengaja membawa tas Dita ikut bersamanya.