Teriakan Dita di pagi hari membuat Jeno merasa malu dengan ayahnya. Pak Artama sampai menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap gadis itu. Tentu saja Jeno tidak terima. Sebagai seorang pria terhormat, itu merupakan pukulan untuknya.
"Sungguh, Jeno tidak melakukan apa yang papa tuduhkan barusan. Jeno pria terhormat, tidak mungkin berbuat bodoh dengan mengintip Dita," kata Jeno kembali menyangkal. Dia meyakinkan ayahnya bahwa dia tidak seperti yang dituduhkan ayahnya.
Pak Artama dan Jeno segera menuruni anak-anak tangga, mereka menunggu Dita di meja makan. Sedangkan Dita, dia sudah keluar dari kamar mandi dan sedang bersiap-siap untuk berangkat ke salon.
Dita sudah cantik dengan celana jeans berwarna biru yang dipadukan dengan kemeja putih over size. Sneaker shoes juga dipilihnya hari itu.
Dita keluar dengan make up flawless yang sangat sempurna, gadis itu terlihat segar dan bersinar seperti cahaya bintang. Dia menuruni tangga, menangkap momen Pak Artama dengan Jeno yang mengobrol serius. Entah apa yang mereka obrolkan pagi itu. Namun Dita senang, pemandangan seperti itu jarang terlihat oleh Dita.
Dia sudah turun, Dita bergegas duduk di kursinya. "Kamu baik-baik saja Dita?" tanya Pak Artama yang seolah ingin mengkonfirmasi bahwa Jeno tidak membuat gadis itu terluka atau apapun itu.
"Mm, Dita baik-baik aja. Papa tidak usah khawatir karena Dita bisa mengatasi masalah Dita apapun bentuknya," jawab dita. Lalu Jeno....
"Sombong!" ungkapnya dengan terang-terangan.
Dita melirik ke arah Jeno, kesal mengingat pria itu. "Lebih baik sombong daripada kamu tuh, tidak sopan main masuk-masuk aja ke kamar orang. Tidak punya tata krama sampai berani mengintip wanita."
Mendengar ucapan Dita, tentu saja Jeno tidak terima. Gadis itu seenaknya menuduh dia tidak punya etika.
"Yang tidak punya etika itu kamu, gadis jelek." Jeno mencibir tunangannya itu.
Pak Artama yang mendengar akhir-akhir ini Jeno dan Dita ribut terus, hanya bisa geleng kepala dan mencoba mendamaikan keduanya .
"Sudah, sudah, kalian berdua bisa diam, kan?" Pak Artama menegur keduanya.
"Dia yang mulai, papa," ujar Dita.
"Kamu yang suka cari gara-gara. Aku merasa biasa-biasa aja, kamu aja yang pikirannya terlalu sempit, jadi gitu tuh pengennya cari masalah terus."
Jeno sudah selesai dengan sarapannya, dia berjalan pergi lebih dulu untuk mengecek mobilnya sebelum pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Juna. Disusul oleh Dita yang keluar setelah selesai sarapannya.
Pak Artama bagai kembali mengurus dua bocah yang nakalnya luar biasa.
Mereka berdua sudah naik kedalam mobil. Penampilan Juna yang rapi menarik perhatiannya.
"Kamu kan libur mengahar. Kenapa hari ini begitu rapi? tanya Dita dengan perasaan takut. Takut ketika ku eno tida membalasnya dan hanya diam saja seharian.
"Saya ada urusan diluar jadi saya harus rapi. Saya itu orang penting, pasti tidak sempet main-main seperti kalian. Dan tidak mungkin juga berpakaian layaknya tidak mampu," Jawab Jeno dengan tegas.
Merasa pria di sampingnya bukankah tipe yang baik, Dita memilih diam. Dia tidak ingin moodnya hancur gara-gara ulah seseorang.
"Kenapa diam Dita? Kamu tidak suka ngobrol-ngobrol dengan calon suami kamu ini, hum?" tanya Jeno.
"Tidak ada," jawab Dita singkat.
Mereka sama-sama saling diam di dalam mobil. Tidak ada yang bicara apapun sampai tiba-tiba Dita sudah sampai di salonnya. Gadis itu turun, dia juga meminta Jeno untuk tidak menjemputnya hari itu.
"Juna, kamu tidak usah jemput aku? Aku mau pergi beli sesuatu dengan teman-teman aku," kata Dita kepada Jeno.
Tentu saja Jeno merasa aneh, tidak biasanya Dita pergi sendiri. "Kamu tidak mau aku jemput, kalau kamu kenapa-kenapa, papa akan menyalahkan aku," kata Jeno.
"Aku bilang aku tidak mau kamu jemput. Aku sudah besar dan aku bisa melakukan semuanya sendiri," jawab Dita yang tiba-tiba sewot.
"Ya sudah kalau tidak mau dijemput, tidak harus kamu marah-marah seperti ini. Dasar aneh!"
Jeno segera pergi ketika Dita turun dari mobilnya. Dia segera melesat pergi ke rumah sakit tempat Juna dirawat. Mobil melaju cepat ke arah rumah sakit, tidak mengerti dengan Dita, Jeno tidak ambil pusing. Dia justru senang gadis itu tidak membuatnya repot. Tapi entah kenapa, di satu sisi yang lainya Jeno merasa kecewa ketika Dita menolaknya.
Entah perasaan apa itu? Cinta atau gengsi yang tinggi akibat sebuah penolakan.
Tidak lama mobil Jeno sampai di rumah sakit, dia memarkir mobilnya kemudian turun dari sana. Jeno memasuki gedung, dia berjalan ke arah ruangan Juna di rawat. Bagaimanapun Jeno tidak tega melihat kondisi kakaknya saat itu.
Jeno sudah sampai di kamar perawatan Juna. Dia mengetuknya kemudian Ibu Diana yang selalu menunggu Juna membuka pintunya.
"Jeno, kamu ada di sini. Dita, dia tidak ikut bersama kamu, kan?" tanya Ibu Diana.
"Tidak ma, Jeno hanya sendiri. Jeno tiba-tiba kangen sama mama dan Kak Juna. Jadi, Jeno memutuskan untuk menengok mama dan kakak," ucapnya yang membuat Ibu Diana terharu.
"Terimakasih sayang. Mama juga rindu sama kamu. Gimana papa dan Dita? Mereka baik-baik saja?"
Jenis dan Ibu Diana masuk kedalam kemudian duduk di atas sofa.
"Papa dan Dita baik-baik saja," jawab Jeno dengan cepat.
"Oya, Jeno. Kata papa, kamu dan Dita sering berantem di rumah. Mama minta maaf sudah membuat kamu tidak nyaman, tapi mama mohon bersabarlah sampai kakak kamu Juna sadar dan kamu terbebas dari Dita. Kamu mungkin merasa tertekan," ucap Ibu Diana yang juga kasihan dengan Jeno. Idenya itu membuat Jeno terjerumus ke dalam kisah Dita.
"Mama jangan mikirin itu. Jeno tidak keberatan kok, Ma. Jeno baik-baik saja selama ini. Mama jangan cemas," jawab Jeno yang meyakinkan ibunya bahwa dia baik.
Jeno berjalan ke arah Juna. Dia duduk di samping kakaknya, Jeno menatap wajah yang serupa dengannya terbaring tidak berdaya. Begitu kasihan.
"Kak Juna, kakak harus segera bangun. Kakak harus berjuang untuk sembuh dan kembali berkumpul bersama kami. Kami sangat merindukan kamu, Kak. Khususnya aku, kamu jarang sekali bertemu denganku. Kamu tidak kangen, um? Kakak jangan jahat dengan terus mengabaikan aku, mama, papa dan Dita. Kamu kembalilah."
Jeno mengajak Juna berkomunikasi. Berharap Juna akan mendengar semuanya kemudian terpanggil dan kembali bangun.
Selesai dengan Juna dan mamanya tersayang. Jeno berpamitan untuk pergi. Walau sedang libur di kampusnya, Jeno harus meeting dengan klien siang itu.
Jenis berpamitan pergi, dia mengecup dahi ibunya dan memeluknya penuh rindu. Sejak kecil tidak mendapatkan perhatian dari ibunya, sungguh Jeno sangat mendambakannya saat ini.
Dia keluar dari rumah sakit, berjalan menuju parkiran dan naik kedalam mobilnya. Siang itu Jeno ada meeting di sebuah cafe, sangat kebetulan cafe itu tidak jauh dari salon Dita.
Jeno tidak khawatir, Dita tidak pernah makan atau pergi ke cafe saat jam istirahat. Dia bisa tenang melakukan meeting tanpa takut bertemu Dita.
Jeno masuk kedalam cafe, dia melihat Pak Andra sudah menunggunya. Segera dia menghampiri dan menyapanya.
Mereka kembali duduk setelah saling sapa, to the points Jeno dan Pak Andra langsung membahas kerjasama mereka. Saat Jeno sedang sangat serius dan tidak memperhatikan sekitarnya.
Ternyata Dita dan teman-temannya datang ke cafe siang itu. Dita berjalan bersama kedua temanya, mereka mencari-cari tempat kosong di ruangan itu. Tanpa diduga, Dita menangkap wajah seseorang yang sangat dia kenal.
"Juna...." Dita melihat Jeno yang sedang meeting dengan Pak Andra.