Jeno yang tidak menanggapi kecurigaan Dita dengan serius membuat gadis itu merasa kesal.
"Harusnya kamu lebih peka, Juna. Kamu tidak merasakan akhir-akhir ini mama jarang di rumah begitu juga dengan papa. Aku yakin 100 persen bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan mama dan papa dari kita," ungkap Dita.
"Kamu itu terlalu banyak nonton film. Udah deh nggak usah bahas masalah ini dan itu. Kita ke sini untuk makan bukan untuk diskusi hal-hal yang tidak pasti. Kecurigaan macam apa itu? Jika orang tuaku tahu, mereka pasti marah padamu," balas Jeno yang sesungguhnya sangat tahu rahasia apa yang mereka sembunyikan dari Dita.
Tidak lama makanan yang mereka pesan sudah datang, perdebatan mereka beralih kepada makanan-makanan lezat di atas meja.
"Makanannya terlihat menggugah selera," kata Dita yang akhirnya melupakan obrolan mereka tentang rahasia.
"Kamu bisa memakannya tidak hanya menilainya saja. Aku berbaik hati mengajak kamu ke sini. Jadi jangan buat mood ku hancur gara-gara ulah konyol mu yang tidak masuk akal itu. Kamu percaya saja sama mama dan papa," kata Jeno supaya Dita tidak lagi memikirkan semua perubahan yang terjadi di dalam keluarganya.
Dita mengangguk walau perasaannya ragu. Mereka mulai menikmati makanan mereka malam itu.
Waktu berlalu dengan cepat, mereka sudah selesai makan. Jeno membayar tagihannya kemudian berjalan pergi keluar restoran. Dita mengikuti Jeno yang berjalan ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya.
Mereka sudah di parkiran, di depan mobil di Jeno. Segera Jeno membukanya kemudian Dita masuk kedalam. Setelah Dita, Jeno yang juga masuk kemudian menyalakan mesin mobilnya. Dalam hitungan detik mobil Jeno melesat menyusuri jalanan kota di malam hari.
Mobil yang melaju tidak ada hambatan yang berarti, tidak terlalu macet dan tidak juga dikatakan lancar. Setengah jam berlalu begitu saja. Mobil Jeno tepat berhenti di depan rumah keluarganya. Mereka turun dari mobil setelah Jeno memarkir mobil itu.
Tanpa berbasa-basi dengan Jeno, Dita berjalan ke arah pintu utama. Mengucapkan salam ketika pulang dan memasuki rumah. Jeno yang melihat kelakuan Dita hanya mampu menggerutu saja. "Dasar jelek!" umpatnya kepada Dita.
Jeno berjalan masuk ke dalam rumah. Dia lihat ayahnya sudah pulang, Pak Artama membawa secangkir kopi menuju ruangan kerjanya di rumah. Jeno berjalan, dia mengetuk pintu dan masuk ketika Pak Artama memintanya.
"Jeno, ada apa lagi? Apa kalian berdua cek-cok lagi?" tanya Pak Artama dengan khawatir. Dia takut hubungan Jeno dengan Dita tidak memiliki hasil yang baik.
"Tidak ada masalah apa-apa, Pa. Jeno hanya ingin tahu kabar Kak Juna. Boleh, tidak, Jeno menjenguk Kak Juna besok?" tanya Jeno penuh harap.
"Kamu bisa tengok kakakmu besok pagi," jawab Pak Artama.
Jeno keluar dari ruangan itu setelah ngobrol-ngobrol sedikit saja. Saat Jeno membuka pintu, terlihat Dita di sekitar pintu kamar papanya. Jeno terperanjat ketika dia membuka dan Dita berdiri di depan pintu.
"Dita ngapain kamu di sini? Kamu menguping pembicaraan kami?" tanya Jeno yang dalam hatinya, dia sangat gugup dan juga takut.
"Nggak ngapa-ngapain. Aku cuma pengen ambil minum, baru aja sampe sini dan kamu tiba-tiba keluar dari ruangan papa. Ada apa kamu di ruangan papa?" tanya Dita yang begitu penasaran.
"Bukan apa-apa. Hanya membahas soal pernikahan kita. Mungkin papa akan sesuaikan dengan budget yang sudah di tentukan."
"Terus apa lagi?" Dita masih belum puas dengan penjelasan Jeno padanya.
"Ya terus aku bilang papa tidak usah khawatir tentang biaya. Aku bisa menghandle masalah itu," jawab Jeno yang membuat Dita berpikir ulang.
"Kamu bisa handle biaya nikah? Kamu kan dosen magang. Apa mungkin kamu mampu menghandle semua biayanya?" tanya Dita yang merasa bingung. Secara logika, tunangannya itu tidak akan mampu menghandle biaya nikah yang begitu besar.
Jeno yang keceplosan benar-benar dibuat bingung dengan semua pertanyaan gadis itu. "Aku punya bisnis jadi aku bisa menghasilkan uang lebih banyak," jawab Jeno.
"Oya, kenapa aku tidak tahu ya. Kita sudah 8 tahun tinggal dan tumbuh bersama. Tidak menyangka bahwa aku tidak tau apapun tentangmu," kata Dita dengan heran.
"Kamu banyak banget nanya akhir-akhir ini. Tidak semua hal aku ceritakan padamu. Dan kamu tidak perlu tahu urusan pria mencari uang untuk dirinya dan kesuksesan yang akan dia raih!" Jeno tidak marah tetapi nada suaranya sedikit meninggi. Merasa tidak enak, Dita memutuskan untuk mengalah, gadis itu pergi lebih dulu ke arah dapur. Terlihat gadis itu mengambil air minum.
Dita sudah menggenggam gelas di tangannya, dan Jeno masih saja berada di tempat semula. Seolah dia mengawasi Dita saat itu. Sikap Jeno membuat Dita merasa aneh.
"Kamu kenapa Juna? Kenapa kamu bengong?" tanya Dita baik-baik.
"Saya tidak bengong saya hanya melihat kamu saja. Saya takut kamu berbuat hal-hal tidak baik di rumahku," jawab Jeno asal-asalan.
"Hal-hal yang tidak baik apa. Kalian adalah rumahku, tempat aku kembali. Aku sudah tinggal di sini sejak kecil, apa mungkin aku tega sama kalian?" Dita merasa tidak terima dengan Jeno.
"Mm, aku hanya becanda," ucapnya.
Jeno pergi setelah menjawab pertanyaan Dita, hanya jawaban singkat yang lagi-lagi menggantung di benak Dita. Tapi masa bodoh Dita pun sama dengan Jeno, mereka menapaki anak-anak tangga bersama.
Jeno kembali ke kamarnya. Dia menoleh ke arah Dita yang baru saja sampai di depan pintu kamar. Jeno bersikap manis dengan mengucapkan selamat tidur.
"Good night. Have a nice dreams!" ucap Jeno yang tidak mendapat tanggapan dari Dita. Seperi gadis itu malas berbicara dengan Jeno.
"Kamu ngambek Dita?" tanya Jeno.
Bukan menjawab, Dita memberikan isyarat kepalan tangan. Seolah Dita ingin memukul Jeno saat itu. Merasakan gadis itu kesal, Jeno segera masuk kedalam kamar. Akan merepotkan jika berurusan dengan gadis itu.
Jeno berbaring di atas tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamar memikirkan semua kegelisahan di hatinya. Lama menatap langit-langit kamar, Jeno mulai mengantuk dan kemudian jatuh tidur dengan lelap.
***
Pagi hari yang cerah, Jeno sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Sangat kebetulan Jeno tidak ada jam mengajar hari itu.
Setelah mengantar Dita, Jeno berniat akan menjenguk Juna di rumah sakit. Mengingat kakaknya, dia merasa kasihan dan juga sedih yang begitu mendalam.
Jeno keluar dari kamarnya, dia sudah tampan dan rapi seperti biasanya. Melihat Dita belum keluar kamar, Jeno mengetuk-ngetuk pintunya. Takut jika gadis itu telat bangun lalu kesiangan. Jeno yakin, Dita pasti akan menyalahkannya.
"Dita, kamu sudah bangun belum?!" Jeno berteriak sembari mengetuk pintu.
"Dita bangun udah siang!" teriak Jeno yang juga tidak digubris Dita.
Jeno yang merasa khawatir segera saja dia masuk. Saat Jeno membuka pintu, Dita baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu kaget ketika Jeno tiba-tiba masuk kedalam kamarnya. Tentu saja dia reflek berteriak.
Aaaaaargh!
"Jeno... ngapain kamu?!"
Mendengar teriakan Dita membuat Pak Artama tergerak. Dia bergegas menapaki anak-anak tangga, terlihat buru-buru karena Dita berteriak sangat kencang.
"Ada apa Dita?" tanya Pak Artama yang baru saja sampai di kamar Dita. Dia melihat Jeno di sana tetapi tidak melihat Dita. Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk menghindari Jeno melihat tubuhnya.
"Dimana Dita? Kenapa kamu di sini?" tanya Pak Artama.
"Dita sedang di kamar mandi, Pa," jawab Jeno yang membuat Pak Artama menyipitkan mata menatap Jeno.
"Jangan bilang Dita teriak karena kamu masuk ke dalam kamar mandi?"
"O, tidak... tidak papa. Mana berani Jeno berbuat kayak gitu," sangkal Jeno.