Fitting Baju Pengantin

1114 Kata
Jeno sudah sampai di kampusnya. Dia berjalan dengan gagah seperti biasanya ke arah kelas. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dia lihat itu dari ayahnya. Jeno mengerutkan dahi, menatap malas nomor yang ada di layar ponsel itu.  Sudah faham, itu pasti soal Dita. Setiap kali ayahnya menelpon sudah pasti tentang Dita.  "Halo! Kenapa, Pa?" tanya Jeno to the point.  "Jeno, kamu dan Dita harus pergi ke butik Tante Merry untuk fitting baju pengantin kalian berdua. Kamu jemput Dita dan ajak dia untuk fitting baju pengantin kalian," jawab Pak Artama yang ternyata mengingatkan bahwa hari itu Jeno dan Dita harus ke butik. "Iya, setelah Jeno selesai kelas, Jeno akan jemput Dita untuk pergi fitting baju," sahut Jeno. Selesai dengan ayahnya, Jeno mengakhiri panggilan itu. Segera dia memasuki kelas untuk memberi mata kuliahnya hari itu. Seperti biasanya, kehadiran Jeno selalu membuat histeris setiap kelas. Khususnya mahasiswi di kelas itu. Jeno yang berbeda style dari Juna membuatnya lebih digilai banyak wanita. Mengira itu adalah Juna yang merubah penampilannya, Jeno benar-benar menjadi idola kampus.  Jeno mengajar dengan baik seperti biasanya. Dia adalah pria yang pintar, terlebih lulusan luar negri. Jadi, tidak ada masalah untuknya ketika mengajar, hanya saja bebannya adalah mengakui dirinya sebagai Juna bukan Jeno. Dia sangat membencinya membenci bahwa dia harus berperan menjadi orang lain walaupun itu adalah sodara kembarnya sendiri.  Jeno keluar setelah mengajar, dia berjalan ke arah parkiran untuk sampai di mobilnya. Segera Jeno naik dan pergi dari kampus itu ke salon kecantikan tempat Dita bekerja.  Mobil melaju dengan cepat menyusuri jalan kota, sedikit macet saat siang hari. Jalan yang sedikit terhambat membuat Jeno lama sampai di salon itu.  Sekitar hampir satu jam Jeno sudah sampai di salon, dia masuk untuk menemui Dita dan mengajaknya pergi. Saat Jeno masuk, Dita sedang melakukan creambath untuk costumernya. Terlihat Dita sangat sibuk.  Hust... Hust... Hust.... Jeno memberi kode-kode kepada Dita. Gadis itu menoleh singkat dan kembali bekerja. Walau tidak menjawab harusnya Jeno sadar bahwa Dita sedang sibuk saat itu.  Merasa diabaikan dan Dita memang sangat repot, Jeno masuk ke ruangan mamanya. Ruangan yang sudah beberapa hari kosong tanpa pemiliknya.  "Aku tunggu di ruangan mama," kata Jeno akhirnya. "Mm," balas Dita mengangguk kecil memberi isyarat bahwa dia mendengarnya.  Sekitar hampir dua jam Jeno menunggu, pria itu ketiduran di ruangan ibunya. Terlihat Dita berjalan kemudian mengetuk pintu ruangan Ibu Diana. Tidak ada jawaban, Dita bingung apa yang dilakukan tunangannya itu? Merasa kesal menunggu, Dita segera membuka pintunya. Dia lihat pria itu sedang tidur dengan kedua kakinya naik ke atas meja. Dita geleng-geleng kepala, dia mendekat kemudian membangunkan tunangannya itu. "Juna, bangun Juna! Kamu ngapain nunggu aku di sini? Ada hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Dita baik-baik. Gadis itu masih lembut, dia menggoyangkan tubuh Jeno sesekali.  Tak lama kelopak mata Jeno terbuka, dia melihat Dita tepat di depan wajahnya. Tentu saja Jeno kaget bukan main, dia berteriak menutup wajahnya.  Aaaaaargh! "Kamu mau cium saya ya?!" Jeno penuh tuduhan, Dita membelalak tidak percaya dengan hal itu. Bisa-bisanya pria itu menuduhnya dengan tidak sopan.  "Juna, kamu apa-apaan sih? Kamu pikir saya nafsu sama kamu, hum? Enak saja kamu...." Dita tidak terima, dia merasa harga dirinya tercabik ketika Jeno menuduhnya seperti seseorang yang ingin melakukan hal tak senonoh terhadap Jeno.  Jeno menghela nafas lega. "Ya aku pikir kamu mau mencium ku. Aku kan kaget karena aku masih polos dan suci," ungkap Jeno yang membuat Dita semakin tidak mengerti.  "Enak aja," protes Dita dengan wajah kesalnya.  "Ya sudah, papa minta aku buat ajak kamu fitting baju pengantin kita. Sebentar lagi hari pernikahan kita, kan?"  "Iya, papa juga udah kasih tau aku tadi pagi," jawab Dita.  Setelah Dita menyelesaikan tugasnya sebagian, Dita dan Jeno pergi dari salon itu ke arah butik Tante Merry.  Mereka memasuki mobil, Jeno mulai mengemudi dengan lancar ke arah butik yang mereka maksud.  "Untung tidak macet. Aku harus menunggu satu jam untuk bisa sampai di salon. Jadi jangan sampai menunggu juga untuk sampai di butik Tante Merry." Ungkap Jeno.  "Iya, menang akhir-akhir ini jalanan sering macet," sahut Dita. "Ya semoga saja pernikahan kita tidak macet," jawab Jeno tanpa pikir panjang. Dita menoleh, gadis itu melotot tidak suka dengan ucapan Jeno barusan.  "Kalau ngomong hati-hati Juna. Kamu jangan gegabah jika membicarakan tentang pernikahan kita. Memangnya kamu tidak ingin menikah denganku? Jika tidak ingin lebih baik bilang dari awal daripada setelah menikah akan ada penyesalan," kata Dita dengan tegas.  Mendengar ucapan dan teguran Dita, Jeno menutup mulutnya. Jika Dita marah, berarti Jeno faham gadis itu sangat serius menanggapinya.  "Mm, aku minta maaf sudah keterlaluan jika becanda denganmu," ucap Jeno mengalah dengan meminta maaf. Minta maaf adalah kata yang ampuh untuk meluluhkan hati Dita yang sedang marah padanya.  "Oke, lain kali jangan bicara hal-hal yang tidak baik untuk hubungan kita ini," sahut Dita.  Mereka berdua sudah sampai di butik Tante Merry. Jeno dan Dita masuk setelah lebih dulu memarkir mobilnya. Itu adalah butik langganan keluarga Jeno. Walau Jeno tidak begitu tau karena lama di Amerika. Sedikit-sedikit Ibu Diana memberitahunya.  Dita sering juga diajak Ibu Diana ke butik itu. Hanya saja pergi dengan tunangannya untuk fitting baju pengantin sangat mendebarkan baginya. Seolah-olah itu adalah hari H pernikahan mereka.  Kedatangan mereka di sambut Tante Merry. Dita dan Jeno segera di bawa ke ruangan khusus untuk gaun pengantin di lantai tiga. Luar biasa, Dita melihat begitu banyak gaun cantik di dalamnya. Sampai Dita sendiri terperangah menatapnya saking cantiknya gaun-gaun itu. Gaun yang didominasi warna putih, walau sebagian ada dengan ragam warna. Tetapi Dita lebih suka yang warna putih.  Tante Merry mulai mengukur tubuh Dita untuk menentukan size-nya. Begitu juga dengan Jeno. Setelah itu Dita dan Jeno mulai mendiskusikan gaun seperti apa yang mereka inginkan.  Setelah menyampaikan detail-detail yang mereka mau, Dita dan Jeno berpamitan. Mereka sudah selesai fitting baju pengantinnya.  Dita dan Jeno keluar dari butik Tante Merry. Mereka berjalan ke arah parkiran untuk sampai di mobil.  "Kamu sudah makan siang Dita?" tanya Jeno baik-baik.  "Belum," jawab Dita singkat saja. "Aku juga belum. Bagaimana kalau kita ke Alabama cafe. Kita makan dulu di sana dan setelahnya aku antar lagi ke salon," kata Jeno.  "Baiklah, aku juga lapar karena belum makan apapun. Hari ini salon sangat ramai, karyawan kewalahan dan akhirnya aku ikut terjun membantu," jawab Dita.  Mereka pun sepakat pergi ke cafe untuk makan siang. Merasa tunangannya tidak menyebalkan saat itu, Dita tidak masalah pergi makan dengan pria itu.  Mereka duduk di meja pojok dekat jendela besar. Jeno mulai memesan makanan dan juice untuk mereka makan.  "Juna, sebenarnya mama itu kemana ya? Pernah tidak kamu berpikir bahwa mama dan papa menyimpan rahasia? Tapi aku tidak tau apa itu? Kamu bisa, tidak, cari informasi tentang mama. Kamu telpon atau apa gitu." Pinta Dita.  "Rahasia apa? Kedua orangtuaku tidak ada rahasia. Kamu jangan mikir macem-macem deh," balas Jeno. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN