Berharap yang tak mungkin

1098 Kata
Tidak bisa tidur akibat kelakuannya sendiri. Wajah Dita masih memanas karena masih terbayang kejadian sebelumnya. Tidak menyangka sama sekali jika tunangannya akan memergoki dia.  "Ah, sudah Dita, cuek aja dan nggak usah dipikirkan lagi. Apa salahnya mengintip calon suami sendiri. Kamu berhak Dita, sangat berhak melakukannya," gumam Dita berbicara pada dirinya sendiri. Dia memberi semangat untuk menghibur diri.  Dia merubah posisinya, dia meringkuk dan memeluk guling. Teringat lagi kepada calon suaminya, Dita berteriak gemas sembari menggigit ujung bantal.  Aaaaaargh! Tak tahan, Dita menyusupkan wajahnya kemudian memejamkan mata. Berusaha untuk tidur dan tanpa memikirkan calon suaminya yang semakin hari semakin berubah saja.  Akhirnya, usaha Dita berhasil. Gadis itu terlelap dan jatuh kedalam mimpi indah. *** Pagi hari, cahaya matahari mengusik Dita dari balik tirai. Dia mengusap pelan kelopak matanya, bulu matanya yang lentik bergerak-gerak dengan teratur.  Dita bangun dan duduk bersandar di ranjangnya. Sudah jam setengah tujuh pagi ketika Dita benar-benar terbangun dari mimpi indahnya.  Dia beringsut turun dari ranjang, bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Di bawah kucuran air shower, Dita bersenandung sembari mengusap shampo di kepalanya.  Beberapa menit berlalu, Dita sudah selesai dengan aktifitas paginya di kamar mandi. Dia keluar dari sana dengan badan yang sudah segar.  Begitu juga Jeno, pria itu baru saja terbangun. Jeno menggeliatkan tubuhnya sebelum akhirnya dia benar-benar bangun dari tidurnya.  "Mm, gue ada ngajar pagi hari ini," gumamnya kemudian turun dari tempat tidurnya.  Jeno berjalan masuk ke kamar mandi, dia menatap wajahnya di cermin, memeriksanya dengan teliti. "Aku memang tampan luar biasa," gumamnya memuji diri sendiri dengan percaya diri. Jeno tersenyum, dia seolah bangga dengan ketampanan itu.  "Wah Jeno, pantas saja banyak mahasiswi cantik-cantik menyukaimu. Kamu memang oke," gumamnya lagi.  Namun semuanya hancur ketika dia tiba-tiba mengingat Dita. "Hah... ganteng-ganteng gini malah akan menikahi Dita. Nasib... Nasib...." Dia menggelengkan kepalanya, tidak mau pusing Jeno segera berjalan ke arah shower.  Di bawah kucuran air, Jeno membersihkan dirinya. Sangat segar dan bersemangat pagi itu.  Setelah beberapa menit berlalu, Jeno meraih handuk dan melilitkannya di bagian pinggang. Jeno keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan menetes.  Segera Jeno mengeringkannya dengan hairdryer lalu berganti pakaian dengan rapi.  Jeno keluar dari kamar bersamaan dengan Dita. Mereka saling menatap sesaat kemudian menuruni anak-anak tangga. Dita berjalan lebih dulu yang disusul Jeno setelahnya.  Mereka turun dan berjalan ke arah ruang makan. Tidak ada siapapun, Dita bertanya kepada Mbok Anik. "Mbok, papa sama mama dimana? Apa mereka belum bangun?" tanya Dita.  "Maaf Non Dita, sepertinya bapak dan ibu tidak pulang," jawabnya dengan sopan.  Dita mengerutkan dahi, dia heran kenapa akhir-akhir ini Pak Artama dan istrinya itu jarang sekali pulang. "Tidur di mana papa dan mama?" batinnya dengan bingung.  "Mm, gitu ya. Ya sudah, makasih mbok," ucap Dita mengakhirinya.  Sementara Jeno, pria itu asyik-asyik saja. Dia tidak terlihat bingung atau apapun. Seperti seseorang yang tau sesuatu di rumah itu. Dita menatapnya tidak tahan ingin bicara dengan pria yang sedang mengoles selai di lembar roti.  "Juna, apa kamu tau sesuatu? Kenapa akhir-akhir ini papa dan juga mama jarang pulang? Mereka dimana sebenarnya?" tanya Dita akhirnya. Dia terlalu penasaran dengan keadaan itu.  "Kamu tidak usah kepo dengan urusan papa dan mama. Mau tidur dimana pun yang pasti tidur di tempat mewah dan nyaman. Tidak mungkin juga tidur di emperan toko," jawab Jeno yang lagi-lagi membuat Dita ingin menusuknya dengan garpu.  "Ya aku tahu kalau itu. Hanya saja aku bingung kenapa mama dan papa jarang di rumah akhir-akhir ini. Dan juga, kamu tidak terlihat cemas atau apa gitu. Kamu sepertinya tahu mereka ada dimana," kata Dita.  "Udeh deh, cepet habiskan sarapannya!" Jeno mengalihkan pembahasan tentang orang tuanya. Apapun itu, Jeno tidak mungkin memberitahu Dita bahwa kedua orangtuanya menunggu Juna yang koma di rumah sakit, bisa pingsan gadis itu jika mendengarnya. Hal terburuk, dia juga akan murka karena merasa dibohongi oleh keluarganya.  "Sungguh merepotkan menjadi tunangan pengganti," pikir Jeno dengan mengunyah rotinya.  Merasa tidak berhasil, Dita memilih diam dan menyantap nasi goreng di piringnya. Bahkan dari sarapan saja, Dita dan Jeno sangat berbeda. Nasi goreng dan roti tawar dengan selai.  Sudah selesai dengan sarapan, seperti biasanya Dita dan Jeno pergi bersama sesuai perintah Pak Artama. Jeno lebih dulu mengantar Dita ke salon dan baru pergi ke kampus untuk mengajar.  Mobil meluncur cepat menyusuri jalanan ibu kota. Sesekali Dita melirik pria di sampingnya, pria yang terlihat seksi dan tampan ketika mengemudi. Sedikit tergoda ketika Dita terus saja menatapnya, Jeno merasakan tatapan itu, dia menyindir Dita.  "Kenapa terus menatapku? Kamu bangga punya calon suami tampan sepertiku?"  Merasa pria itu menyebalkan, Dita langsung memukul ringan lengan Jeno. Lagi dan lagi, pria itu selalu ada saja untuk membuat Dita marah.  Jeno pun protes dengan tindakan Dita padanya. "Hei jangan muluk-muluk! Aku sedang menyetir, kamu tidak takut kita kecelakaan karena ulah mu itu," kata Jeno kepada Dita.  "Habis kamu itu sangat menyebalkan. Aku kangen Juna yang dulu yang selalu mencintaiku dan menyayangiku," protes Dita. Lalu Jeno.... "Kalau aku tidak sayang, tiap hari aku akan memukulmu Dita," ungkapnya sebagai bentuk pembelaan diri.  Merasa pria itu banyak alasan, Dita terdiam. Pusing jika diteruskan dan mungkin tidak akan berakhir sampai mereka tiba di tempat tujuan.  Suasana tampak hening di dalam mobil, Dita dan Jeno sama-sama terdiam. Tidak ada suara atau apapun di dalamnya. Dita dengan tenang bersandar sementara Jeno sangat serius mengemudi.  Tak lama mereka sampai di salon Ibu Diana. Dita belum turun, dia menunggu Jeno turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Seperti yang selalu dilakukan Juna padanya. Sudah lama rasanya ketika Dita tidak lagi menerima perlakuan manis seperti itu. Hari ini, Dita mencoba mengingatkan tunangannya itu.  Jeno melirik Dita yang belum juga turun, tidak pengertian sama sekali. Jeno tetap duduk di tempatnya semula. "Dita, cepat turun! Kenapa masih duduk saja di situ? Kamu tidak bisa turun sendiri atau perlu aku bawakan kursi roda untukmu?" Jeno dengan mudahnya meminta Dita turun dari mobilnya.  Sungguh, Dita sungguh kesal kepada pria di sampingnya itu. Ingin rasanya dia menghajarnya karena tidak peka sama sekali. Atau mungkin sengaja tidak mau melakukannya.  Sikap yang terus berubah membuat Dita menjadi cemas, terkadang frustasi harus bagaimana menghadapinya. Dita turun dengan bibir lebih maju, kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut tunangannya sendiri. Tidak ada lagi keromantisan, bahkan keromantisan sisa semalam tidak nampak pagi itu.  Dita turun, dia masuk tanpa melihat ke arah Jeno. Dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Lalu Jeno terdengar berteriak. "Hei Dita! Pulangnya aku jemput. Jangan pulang dengan bus dan tunggu saja sampai aku datang!" teriak Jeno tetapi Dita masa bodoh, dia tidak menoleh atau apapun itu. Terlalu jengkel untuknya menatap tunangannya itu.  "Hah... Dasar perempuan! Sedikit-sedikit ngambek deh." Jeno bergegas tancap gas dan pergi ke arah kampus untuk mengajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN