Sangat Memalukan

1139 Kata
Bab 12 Dita begitu bersemangat, tidurnya akan nyenyak malam ini karena tunangannya bersikap sangat romantis.  "Juna, aku nggak nyangka kamu sangat sweet malam ini. Ini sungguh kamu, aku harap kamu akan tetap seperti ini. Kamu itu my Juna." Dita tersenyum dan bergumam sendiri di kamarnya. Dia terkesan dengan pria yang memberinya bunga. Pria yang nyatanya adalah Jeno calon suami palsu yang tidak pernah disadarinya. Tidak perduli dengan apapun, dia sungguh bahagia malam itu.  Dita yang tidak bisa tidur segera meraih ponsel di atas meja nakas. Dia ingin menelpon kekasihnya itu. Besar harapannya saat itu karena berpikir Juna sudah kembali seperti sebelumnya. Tidak lagi cuek, dingin dan menyebalkan lagi.  Dia segera mengklik nomor tunangannya itu. Lama menunggu panggilannya tidak juga diangkat sampai akhirnya terlewat sendiri. Dita mencoba lagi menghubunginya, namun sama sekali tak ada respon.  "Apa iya Juna sudah tidur," pikirnya.  Dita tidak menyerah untuk menghubungi tunangannya. Dia menghubunginya kembali, kali ini berbeda. Panggilan itu bukan lagi diabaikan melainkan di reject langsung tanpa perasaan.  "Ih, Juna! Kenapa di reject telponnya?" Dita kesal sendiri merasa tunangannya tidak bisa diprediksi dan dimengerti olehnya. Merasa kesal, Dita mengirim line chat berupa gambar.  Gambar beruang coklat yang sedang marah dikirimnya. Tak lama muncul balasan.  [Marah? Why?] What the.... Dita jengkel bukan main mendapatkan pesan balasan dari tunangannya itu. Pria itu dengan gampangnya bertanya kenapa dia marah? Jelas saja Dita marah karena Jeno menolak panggilannya begitu saja. Segera Dita membalas lagi pesan itu. [Lagi apa kamu? Kenapa di reject?]  [Ke pencet sendiri malah klik tombol reject.] [What? Masa?] [Seriusan. Coba aja kamu telpon lagi kalau nggak percaya.] [Oke....] Dita menurut, dengan polosnya dia kembali menghubungi tunangannya. Dia kembali menelpon dan Jeno kembali menolak panggilan itu. Dita mengerutkan dahi, dia tidak mengerti maksud pria itu.  "Ada apa dengannya? Kenapa begitu menyebalkan?" Dita menggerutu sendiri kemudian mengirim kembali line chat untuk tunangannya. [Kenapa di reject lagi?] [Kan, mau membuktikan bahwa yang sebelumnya tidak sengaja di reject. Kamu gimana sih? Kurang connect nih....] Balasan Jeno justru memposisikan Dita diposisi yang salah. Gadis itu terbengong membaca pesan yang dikirim Jeno untuknya.  "Lah, kenapa aku yang akhirnya dikata tidak connect?" Dita menunjuk dirinya sendiri, dia sama sekali tidak faham dengan pria itu.  Merasa kesal dan bikin darah tinggi, Dita memutuskan untuk tidur dan mengakhiri berkirim pesan dengan tunangan menyebalkan itu.  Dita terus terjaga, berguling kanan kiri dengan tidak tenang. Gadis itu gelisah dan hanya mampu membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu Dita kembali duduk.  Aaaaaargh!  Dita berteriak karena matanya tidak mau terpejam, terus terjaga akan membuatnya sakit kepala esok hari. "Ini kenapa sih nggak mau merem? Aduh...." Dita mengacak-acak rambutnya sendiri, mengusap kelopak matanya yang masih terbuka lebar. Mulutnya tidak menguap sama sekali.  Merasa jenuh dengan dirinya, Dita keluar dari kamarnya. Dia melihat-lihat kamar tunangannya yang tertutup rapat. Kamar mereka di lantai atas dan bersebelahan.  Dita berjalan ke arah kamar Jeno, dia berdiri tepat di depan pintu. Tangan yang terjulur untuk mengetuk pintu, tiba-tiba membeku di tengah-tengah. Dita ragu ketika akan mengetuk pintunya. "Ketuk jangan ya?" Rania memutuskan untuk mengintip di lubang kunci, dia berjongkok dan mengarahkan matanya tepat di lubang kunci itu.  "Tidak jelas? Juna lagi ngapain ya?" gumamnya. Saat Dita sedang serius mengintip, ada suara seseorang berdehem. Dita tidak menggubrisnya karena fokus mengintip di kamar Jeno.  EHEM! Suara seseorang berdehem tidak membuat misi pengintaian Dita berakhir, dia semakin penasaran dengan aktifitas tunangannya di dalam kamar.  Jeno yang berdiri di belakang Dita, dia menepuk pundak gadis itu. Dita bereaksi. "Apa sih? Tunggu lagi nanggung nih," ucap Dita kepada Jeno yang ada dibelakangnya. Dita belum juga sadar padahal tepukan di punggungnya begitu jelas.  Jeno kembali menepuk pundak gadis itu. Dita baru sadar bahwa seseorang ada di belakangnya. Deg! Dita menjadi gugup dan tidak tenang. Dia tidak tahu siapa yang berdiri di belakangnya yang sedari tadi mengganggunya. "Mati kau Dita!" gadis itu mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Yakin bahwa dibelakangnya itu adalah tunangannya.  Dengan gugup dan kikuk Dita berbalik ke arah Jeno, namun celakanya. Dita yang masih berjongkok dan memutar tubuhnya tiba-tiba. Membuat kepalanya membentur gelas air yang dibawa Jeno. Tentu saja hal itu membuat lengan Jeno oleng dan akhirnya menumpahkan air itu tepat di kepala Dita.  "Juna....!!!" Dita berteriak kesal kepada Jeno yang sudah menumpahkan airnya.  "Maaf, maaf, habis kamu ngapain ngintip kamar orang seperti itu? Kamu, kan, perempuan. Bisa-bisanya kamu mengintip kamar pria. Jika saat kamu mengintip dan aku sedang pakai baju atau tidak pakai apa-apa, gimana? Wah... berani juga, ya, kamu mengintip cowok," cibir Jeno yang membuat Dita mati kutu. Gadis itu sudah tertangkap basah mengintip kamar pria. Dita tidak tahu, dia pasrah dan diam saja menerima semua sindiran Jeno padanya.  Merasa malu, Dita tidak berani menatap langsung wajah Jeno. Gadis itu terus menunduk dengan kedua pipi bak merah tomat. Jeno menangkap ekspresi itu, akan menyenangkan baginya jika bisa membuat Dita salah tingkah. Jeno menjadi iseng, dia ingin mengerjai gadis itu dengan segera mendekat ke arah Dita.  "Ini sudah malam, Dita. Apa perlu kita berdua... di kamarku dan melakukan...." Jeno mulai menggoda Dita.  Gadis itu mendongak, menyadari pria di depannya terus melangkah maju. Dita reflek tergeser mundur. Jeno terus maju, Dita terus mundur sampai akhirnya Dita membentur daun pintu. Tubuhnya sudah tidak bisa kabur lagi.  Jeno segera membuka pintunya, Dita bingung harus kabur kemana sementara di depannya ada tunangannya.  "Je-Jeno apa yang mau kamu lakukan? Aku, aku harap kamu tidak berbuat macam-macam padaku, please!" Dita memohon, dia menatap lamat-lamat mata kekasihnya.  Jeno tidak menggubris, dia tetap maju dan terus menggoda Dita dengan perbuatan dan tatapannya. Jantung Dita semakin berdegup saat tiba-tiba Dita yang terus mundur jatuh ke atas tempat tidur Jeno.  "Juna, biarkan aku pergi. Aku, aku belum siap melakukannya. Kita belum menikah dan hal itu tidak boleh kita lakukan. Itu akan mencemarkan nama baik orang tua kita," kata Dita dengan ekspresi memohon.  Jeno terus mendekat, dia berdiri tepat di hadapan Dita yang terduduk di ranjang. Mereka sangat dekat, Jeno merunduk mendekatkan wajahnya ke arah Dita. Tentu saja gadis itu gugup namun Dita memejamkan mata seperti seseorang yang penuh damba. Bibirnya membuka dengan sendirinya.  Jeno menatap bibir itu, dia menaikan sebelah alisnya. Lalu Jeno tertawa lepas. Hahahaha.... "Kamu kenapa gadis pengintip?" tanya Jeno yang memberikannya panggilan baru. Bukan gadis jelek seperti biasanya, kali ini justru panggilan itu lebih menyebalkan.  Dita tersadar, dia kembali fokus dengan dirinya sepenuhnya. Dia balik menatap Jeno. "Jangan panggil aku gadis pengintip! Aku tidak pernah mengintip siapapun ya," pinta Dita dengan wajah kesalnya.  "Terus tadi itu apa kalau bukan ngintip? Perempuan aneh, hebat banget ngintip kamar cowok," cibir Jeno.  "Hei, aku nggak ngintip ya...." Dita tidak terima dengan tuduhan Jeno.  "Dasar pengintip! Pergi sana!"  Jeno masih saja menggoda Dita dengan cibiran ya bahkan mengusir keluar gadis itu dari kamarnya.  "Dasar nyebelin!" balas Dita dengan marah.  Dita keluar dari kamar Jeno. Dia sangat malu karena kelakuannya sendiri. "Ah... Dita. Apa sih yang ada di otakmu. Kenapa mempermalukan diri sendiri?" Dita masih menggerutu di kamarnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN