Setangkai Mawar

1143 Kata
Dita yang masih kesal dan marah, dia bertekad bahwa nanti sore ketika dirinya pulang kerja, dia akan benar-benar kabur dari Juna. Siapa yang menyangka bahwa calon suami idaman, kini mejadi calon suami yang tidak Dita inginkan. Beberapa hari lalu, Dita tidak sabar ingin menikah tetapi saat ini justru Dita ingin mengakhiri segalanya, jika bisa. Tetapi apalah dayanya, dia hanya seorang yatim piatu, dia harus membalas kebaikan Pak Artama dan Ibu Diana. Tidak mungkin Dita seseorang yang mendapat air s**u dan Dita membalasnya dengan air tuba.  Kembali Dita mendesah pelan kemudian barulah kembali bekerja di salon itu.  Sudah beberapa jam berlalu, hari sudah sore saat itu. Dita sudah pulang, dia sudah di depan Lady's salon milik Ibu Diana. Antara menunggu angkutan umum dan menunggu kedatangan kekasihnya. Dita menjadi galau, dia lihat calon suaminya belum juga datang sementara banyak angkutan umum yang Dita lewatkan.  "Kalau sampai aku kemalaman karena Juna, lihat saja aku akan membalasnya di lain waktu," gumam Dita.  Hampir satu jam menunggu, akhirnya Jeno datang juga. Dia berhenti tepat di depan Dita. Melihat gadis itu patuh padanya, Jeno tersenyum puas.  "Hei, cepet naik! Jangan menghayal aku akan membantumu membuka pintu mobil seperti yang ada di buku-buku ya!" teriak Jeno meminta Dita segera masuk kedalam mobil.  Dita yang notabene bukan tergolong wanita manja, dia tidak pernah keberatan dengan mobil apa dia pulang. Mendengar Jeno berteriak, Dita datang menghampirinya. Dita masuk tepat di kursi belakang.  "Aku sudah masuk," kata Dita memberitahu Jeno bahwa dia di dalam mobil. Namun aneh, Jeno tidak juga menyalakan mesin mobilnya. Mereka masih di tempat sama hanya ruangannya saja yang berbeda. Mereka berdua ada di dalam mobil.  "Juna, aku sudah masuk kenapa tidak jalan mobilnya?" tanya Dita sedikit sewot dari nadanya.  Juna menggerakkan kelopak matanya singkat, dia melirik Dita di cermin mobil. Lalu setelahnya dia jawab pertanyaan dari tunangannya itu. "Aku bukan sopir kamu. Bagaimana bisa jalan jika begini," jawab Jeno yang ternyata tidak suka Jeno sangat terlambat menjemputnya.  "Kamu itu nyebelin Juna. Aku sudah menunggumu sampai kakiku keram. Kamu sangat lama," jawab Dita. "Apa hanya gara-gara itu kamu tidak mau masuk dan duduk di depan, di sampingku?" Jeno kembali menekan Dita, mencari lebih dalam informasi dan minat dari Dita. Seharusnya sih Jeno cuek, tetapi permintaan ayahnya yang membuat Jeno harus bersikap baik dengan Dita.  "Ya udah aku pindah deh...." Dita pindah ke depan ke samping Jeno. Dia tidak turun, dia langsung pindah dengan merayap begitu saja kemudian duduk di samping tunangannya.  Hah! Jeno yang melihatnya hanya mampu geleng kepala. Selesai dengan semua itu, mobil Jeno melaju dengan cepat menyusuri jalanan ibu kota. Sudah jam 7 malam ketika mereka berada di jalan kota menuju arah pulang.  "Kita makan malam dulu. Aku akan cari restoran yang bagus untuk kita makan malam," kata Jeno yang lagi-lagi tidak mudah diterima seorang Dita.  "Apa tidak lebih baik kita makan di rumah saja. Sayang banget si mbok sudah capek-capek masak tapi nggak ada yang makan," jawab Dita. Jeno melihat singkat ke arahnya.  "Makanan rumah bisa dihangatkan untuk pagi hari. Kamu tidak usah khawatir," jawab Jeno.  Merasa tidak berguna untuk berkata atau menolak apapun, Dita memilih diam dan mengikuti maunya Jeno. Mereka pergi ke sebuah resto.  Mereka sudah sampai, Jeno memarkir mobilnya kemudian turun dari sana. Begitu juga dengan Dita. Mereka berdua masuk bersama.  Jeno mulai memilih menu makanan. Medium steak menjadi menu favorit Jeno. Sementara Dita memilih spaghetti untuk makan malamnya. Dita sebenarnya bingung dengan calon suaminya itu, baginya pria itu berubah dalam segala hal.  Pria yang di depannya ini sangat suka makanan western semetara Juna suka makanan lokal. "Kemasukan setan bule mana, sih, kamu." Dita menatap sesaat wajah Jeno. Pria itu menangkap tatapan Dita.  "Ngapain sih lihatnya kayak gitu? Kamu mau apa? Pengen apa? Pesan saja dan aku akan membayarnya. Hanya makanan ini saja," kata Jeno.  "Begitu ya? Kamu sangat banyak uang akhir-akhir ini. Kamu sering banget ngajak aku ke restoran mahal," sahut Dita. Jeno tersenyum. "Yang penting uang ini bukan uang hasil curian. Ini uangku sendiri, aku bekerja keras untuk mendapatkannya. Jadi, tidak bolehkah aku menikmati hasilnya?"  "Iya boleh tapi jangan boros juga," jawab Dita.  Sementara Dita dan Jeno makan malam. Ibu Diana kembali ke rumah sakit untuk menunggu Juna. Melihat anaknya koma dan tidak bergerak sama sekali, membuat Ibu Diana sangat sedih. Dia mengusap lembut kepala Juna, menggenggam tangannya kemudian mengecupnya dengan penuh kasihan.  "Nak, mama sangat merindukan kamu. Kapan kamu bangun? Kapan kita bercanda, tertawa dan piknik bersama seperti dulu? Mama sangat ingin kamu melihat mama dan berbicara dengan mama," ungkap Ibu Diana yang menyayat hati.  Begitu juga dengan Pak Artama, dia datang untuk menemani istrinya. "Ma, mama belum makan malam, kan? Ini, aku sudah membelikan makanan untukmu," ucap Pak Artama kepada istrinya.  "Selera makan dan rasa lapar ku hilang ketika menatap wajah putra kita yang malang. Kasihan sekali Juna, Pa," kata Ibu Diana yang memang sangat mencintai putranya itu.  "Mama jangan begitu. Mama harus tetap jaga kesehatan mama supaya mama bisa terus menemani Juna. Mama tidak kasihan, Juna pasti sedih mengetahui mama bersikap seperti ini," ucap Pak Artama dengan lembut. Dia meminta istrinya untuk makan malam dengan nasi yang dibawa Pak Artama.  Begitu juga dengan Jeno dan Dita. Mereka makan bersama dengan lahap, suasana sudah mencair ketika Dita berusaha masuk ke dunia Jeno. Dita mengalah saja dengan tunangannya itu.  Mereka sudah selesai menyantap makanan lezat itu. Dirasa sudah beres dan sudah kenyang. Dita dan Jeno bergegas masuk kedalam mobil.  Dita memasang seat belt begitu juga dengan Jeno. Tak lama mobil melaju dengan cepat ke arah rumah mereka.  Beberapa menit berlalu, mobil Jeno sudah sampai di rumah. Dita membuka seat belt dan bergegas untuk turun, saat Dita membuka pintu mobil dan hendak turun, Jeno menahan tangannya.  "Tunggu dulu!" pinta Jeno yang membuat Dita mengurungkan niatnya. Dia menoleh ke arah Jeno. "Kenapa?" tanya Dita terheran.  Jeno tidak menjawab apapun, dia diam saja sampai tiba-tiba dia membuka jaketnya dan mengambil satu tangkai bunga mawar untuk Dita.  "Ini untukmu. Anggap ini sebagai permintaan maaf karena aku sering membuatmu jengkel," kata Jeno yang menyodorkan satu tangkai bunga mawar merah.  Dita tertegun, dia merasa surprise ketika Jeno benar-benar memberinya setangkai bunga. Bahkan bunga itu adalah mawar.  Jeno mengerutkan dahi, Dita diam saja dengan ekspresi bodohnya itu. Jeno tidak tau harus bagaimana? Segera dia memukul lembut kepala Dita dengan kelopak bunga mawar.  "Juna ih, apa-apaan kamu tuh...." Dita memelototi Juna tetapi tersenyum kemudian. Dita meraih bunga di tangan Juna. Gadis itu tiba-tiba saja merona malu. Berfikir bahwa tunangannya kembali berubah seperti dulu.  Melihat Dita senang, Jeno hanya melihatnya sekilas saja. Kemudian turun dan masuk kedalam rumahnya.  "Mbok, mama sama papa di mana?" tanya Jeno.  "Tuan dan nyonya besar sedang tidak di rumah," jawab sang asisten rumah tangga.  "Oh... yasudah kalau begitu. Aku masuk kamar dulu, Mbok."  Juna menapaki anak tangga ketika Dita baru saja masuk dengan bunganya. Walau hadiah itu hanya setangkai bunga mawar, nyatanya Dita sangat bahagia seolah dunia berputar-putar. "Nggak nyangka, Juna romantis juga," gumam Dita. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN